| Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook Suara Jepara. |
Queensha.id – Jepara,
Ruas jalan kabupaten di Desa Guwosobokerto, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, dilaporkan ambles hingga 60–70 sentimeter dengan panjang sekitar 60 meter, Kamis (19/2/2026).
Kerusakan parah ini membuat akses kendaraan roda empat terputus total, sementara sepeda motor hanya bisa melintas dengan risiko tinggi.
Jalan tersebut merupakan jalur vital penghubung aktivitas warga. Namun sejak sepekan terakhir, kondisi tanah terus mengalami penurunan hingga mencapai titik kritis pada hari ini.
Camat Welahan, Suhadi, menyebut kerusakan awal mulai terlihat pada Jumat (13/2/2026), namun semakin memburuk dalam beberapa hari terakhir.
“Amblesnya semakin parah hari ini. Kedalamannya sudah mencapai 70 sentimeter, sehingga mobil jelas tidak bisa lewat,” ujarnya, dikutip dari berbagai sumber.
Mobil Tak Bisa Lewat, Motor Bertaruh Nyali
Pantauan di lokasi menunjukkan badan jalan amblas membentuk cekungan panjang. Kendaraan roda empat tidak bisa melintas sama sekali, sedangkan pengendara motor yang mencoba lewat harus berhati-hati agar tidak terperosok.
Warga menyebut kondisi ini sangat mengganggu mobilitas, terutama untuk aktivitas kerja, distribusi barang, dan akses darurat. Sejumlah kendaraan terpaksa memutar dengan jarak tempuh lebih jauh.
Dugaan Dampak Proyek Sungai
Muncul dugaan bahwa amblesnya jalan dipicu kondisi tanah labil di sekitar bantaran sungai, diperparah aktivitas proyek normalisasi Sungai SWD II dan peninggian tanggul oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Pergeseran struktur tanah diduga menyebabkan badan jalan tidak mampu menahan beban.
Kejadian ini juga bukan yang pertama. Dalam tiga tahun terakhir, warga mencatat kerusakan serupa terjadi berulang di lokasi yang sama. Hal ini memicu desakan agar perbaikan dilakukan secara permanen, bukan sekadar tambal sulam.
Pemkab Hitung RAB, Kecamatan Minta Betonisasi
Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) kini tengah menghitung rencana anggaran biaya (RAB) untuk penanganan darurat maupun permanen.
Pihak Kecamatan Welahan mengusulkan agar ruas jalan tersebut dibeton (rigid pavement) sebagai solusi jangka panjang.
“Kami mengusulkan segera dilakukan betonisasi. Jika hanya pengurukan biasa, kami khawatir kejadian ini akan terus berulang dan merugikan mobilitas warga,” tegas Suhadi.
Menurutnya, konstruksi beton dinilai lebih tahan terhadap pergeseran tanah di wilayah bantaran sungai yang labil. Tanpa langkah permanen, jalan tersebut dikhawatirkan akan terus menjadi “proyek berulang” setiap tahun.
Hingga Kamis siang, petugas masih melakukan pemantauan dan pengamanan lokasi untuk mencegah kecelakaan. Warga berharap penanganan cepat segera dilakukan agar akses vital tersebut kembali normal dan tidak membahayakan pengguna jalan.
***
Tim Redaksi.