Notification

×

Iklan

Iklan

Jamu Sapu Djagat asal Jepara Diklaim Sapu Bersih Penyakit, Antara Tradisi Herbal dan Tantangan Pembuktian Ilmiah

Kamis, 19 Februari 2026 | 04.09 WIB Last Updated 2026-02-18T21:12:02Z
Foto, produk BPOM (Jamu Sapu Djagat). 



Queensha.id — Jepara,


Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan alami, ramuan herbal bernama Jamu Sapu Djagat kembali ramai diperbincangkan. Racikan tradisional yang dipasarkan sebagai solusi all-in-one ini disebut-sebut mampu membantu berbagai keluhan kesehatan, mulai dari penyakit kronis hingga gangguan ringan. 


Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan penting yaitu sejauh mana klaim tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah?


Salah satu tempat yang memasarkan ramuan ini adalah Rumah Herbal Al Madinna di wilayah Kedungcino, Jepara. Ramuan tersebut diracik dari puluhan bahan herbal seperti jahe merah, kunyit, sambiloto, brotowali, hingga daun kelor. Pihak peracik menyebut kombinasi ini sebagai warisan tradisi yang dirancang untuk “membersihkan tubuh dari racun” dan meningkatkan daya tahan.


Klaim Menyeluruh, dari Diabetes hingga Kanker

Dalam materi promosinya, Jamu Sapu Djagat diklaim dapat membantu mengatasi beragam kondisi, antara lain:

1. Diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.

2. Asam urat, rematik, dan nyeri sendi.

3. Gangguan lambung, asma, dan paru-paru.

4. Pemulihan pasca-stroke dan saraf kejepit.

5. Peningkatan imunitas hingga pencegahan pertumbuhan sel abnormal seperti tumor atau kanker.


Klaim yang sangat luas ini membuat ramuan tersebut kerap disebut sebagai “sapu bersih” berbagai penyakit. Pemasar menekankan bahwa herbal bekerja secara alami dan hasilnya bergantung pada kondisi tubuh serta kedisiplinan konsumsi.



Antara Kepercayaan Tradisi dan Bukti Medis

Praktisi kesehatan mengingatkan bahwa jamu dan herbal memang memiliki tempat penting dalam tradisi pengobatan Indonesia. Banyak bahan seperti kunyit, jahe, atau temulawak telah diteliti memiliki efek antiinflamasi dan antioksidan. Namun, klaim penyembuhan penyakit kronis hingga kanker memerlukan uji klinis ketat.


Badan pengawas obat dan makanan seperti BPOM secara umum menegaskan bahwa produk herbal tidak boleh mengklaim menyembuhkan penyakit berat tanpa bukti ilmiah dan izin resmi. Herbal dapat digunakan sebagai pendamping gaya hidup sehat atau terapi medis, tetapi bukan pengganti pengobatan dokter.


Tren Kembali ke Alam

Meskipun demikian, tren kembali ke pengobatan alami terus meningkat. Faktor biaya, kepercayaan budaya, serta ketidakpuasan terhadap pengobatan modern membuat banyak masyarakat mencari alternatif herbal. Di Jepara dan sejumlah daerah lain, rumah-rumah herbal tradisional menjadi rujukan warga yang ingin mencoba terapi alami.


Pengamat kesehatan masyarakat menilai fenomena ini menunjukkan perlunya edukasi yang seimbang. Masyarakat berhak mengakses pengobatan tradisional, namun juga perlu memahami batasan klaim serta pentingnya konsultasi medis.


“Herbal bisa menjadi pendukung kesehatan, tetapi bukan solusi tunggal untuk semua penyakit,” ujar Wienarto salah satu tenaga kesehatan asal Kedungcino, kecamatan Jepara kota, kabupaten Jepara, Kamis (19/2/2026).


Ia mengingatkan bahwa penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan kanker tetap membutuhkan diagnosis serta penanganan medis yang tepat.


Edukasi Jadi Kunci

Di tengah gencarnya promosi jamu multikhasiat, transparansi komposisi, izin edar, dan edukasi konsumen menjadi hal krusial. Masyarakat disarankan tidak mudah tergiur klaim penyembuhan instan dan tetap memeriksa legalitas produk.


Fenomena Jamu Sapu Djagat yaitu mencerminkan dua sisi yakni kekuatan tradisi herbal Nusantara dan tantangan pembuktian ilmiah di era modern. Bagi sebagian orang, ramuan ini adalah harapan. 


Namun bagi dunia medis, klaim luas tanpa riset memadai tetap perlu diuji.
Pada akhirnya, kesehatan tidak hanya soal memilih antara modern atau tradisional, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan berdampingan secara aman dan bertanggung jawab.


***
Tim Redaksi.