Notification

×

Iklan

Iklan

Ramadan, Sekolah Kesabaran Umat: Menahan Lapar hingga Menjaga Lisan

Kamis, 19 Februari 2026 | 04.24 WIB Last Updated 2026-02-18T21:25:19Z
Foto, edukasi tentang pemahaman berpuasa di bulan Ramadan.


Queensha.id — Edukasi Islam,


Bulan suci Ramadan kembali hadir sebagai momentum spiritual bagi umat Islam untuk memperdalam makna ibadah dan memperbaiki diri. Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, puasa disebut para ulama sebagai latihan kesabaran yang menyeluruh yaitu baik secara fisik, emosi, maupun spiritual.


Ramadan kerap dijuluki “bulan kesabaran”. Dalam praktiknya, umat Islam dilatih menahan berbagai dorongan dasar: lapar, haus, amarah, hingga keinginan berkata kasar. Nilai-nilai tersebut diyakini menjadi fondasi pembentukan karakter selama 30 hari penuh.


Dalam hadis yang diriwayatkan Nabi Muhammad, puasa disebut sebagai setengah dari kesabaran. Sementara dalam riwayat Shahih Bukhari, puasa juga digambarkan sebagai perisai—yakni pelindung dari perilaku buruk dan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.


Menahan Diri, Mendidik Jiwa

Di bulan Ramadan, umat Islam tidak hanya menahan makan dan minum sejak fajar hingga magrib. Mereka juga dituntut menjaga emosi dan lisan. Menahan amarah, menghindari konflik, serta memperbanyak ibadah menjadi bagian dari latihan kesabaran tersebut.


“Puasa bukan hanya soal fisik, tetapi juga pengendalian diri,” ujar seorang tokoh agama di Jepara. 

Ia menekankan bahwa inti puasa adalah pembentukan akhlak. Orang yang benar-benar menjalankan puasa dengan baik akan terlihat dari sikapnya: tidak mudah marah, rajin beribadah, gemar membantu sesama, dan menjaga ucapan.


Nilai sabar yang dilatih selama Ramadan diharapkan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir. Ramadan menjadi semacam “sekolah karakter” tahunan bagi umat Islam untuk membangun keikhlasan dan empati sosial.


Dimensi Sosial Ramadan

Selain aspek spiritual, puasa juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Rasa lapar yang dirasakan setiap hari diyakini menumbuhkan empati terhadap mereka yang kekurangan. 


Tak heran, kegiatan berbagi makanan, sedekah, dan bantuan sosial meningkat selama Ramadan.


Purnomo Wardoyo Pengamat sosial dan keagamaan menilai Ramadan memiliki dampak besar dalam memperkuat solidaritas masyarakat.


“Kesabaran yang dilatih lewat puasa berujung pada kepedulian sosial. Orang menjadi lebih mudah memaafkan, menahan konflik, dan berbagi,” ujar Purnomo Wardoyo, Kamis (19/2026).


Perisai dari Perilaku Buruk
Dalam ajaran Islam, orang yang berpuasa dianjurkan menahan diri dari pertengkaran. 


Jika diprovokasi, ia dianjurkan menjawab, “Saya sedang berpuasa.” Pesan ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga etika sosial.


Ciri orang yang berhasil menjalani latihan kesabaran Ramadan antara lain: tidak mudah tersulut emosi, menjaga ucapan, rajin beribadah, serta ikhlas dalam berbuat baik. Nilai-nilai ini dianggap sebagai hasil nyata dari ibadah puasa yang dijalankan dengan kesadaran penuh.


Ramadan pada akhirnya bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang membentuk pribadi yang lebih sabar, tenang, dan peduli. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, pesan Ramadan tentang kesabaran terasa semakin relevan: menahan diri untuk menjadi manusia yang lebih baik.


***
Tim Redaksi.