Notification

×

Iklan

Iklan

Jejak Darah dan Takhta di Pesisir Utara: Kisah Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat yang Membentuk Sejarah Jepara

Senin, 09 Februari 2026 | 20.47 WIB Last Updated 2026-02-09T13:48:48Z

Queensha.id – Jepara,


Nama Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat bukan sekadar catatan dalam babad Jawa, melainkan bagian penting dari sejarah panjang Jepara sebagai kekuatan politik, dakwah, dan maritim di pesisir utara Jawa. Kisah keduanya memadukan dakwah Islam, intrik kekuasaan, hingga tragedi berdarah yang masih dikenang masyarakat hingga kini.


Sultan Hadlirin yang dikenal juga sebagai Sayyid Abdurrahman Ar Rumi atau Pangeran Toyib, diyakini sebagai pendatang yang kemudian menjadi tokoh penting di Jepara. Ia mendapat gelar “Hadlirin” yang berarti sosok yang datang dan menetap untuk menyebarkan agama Islam. 


Selain sebagai ulama, ia juga memegang peran sebagai pemimpin Kerajaan Kalinyamat bersama istrinya, Retna Kencana, putri Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat.


Pendatang yang Menjadi Penguasa

Sejumlah versi menyebut Sultan Hadlirin berasal dari luar Jawa. Ada yang meyakini ia putra Sultan Aceh, ada pula yang menyebutnya saudagar dari Tiongkok yang terdampar di pesisir Jepara. Dalam perjalanan hidupnya, ia berguru kepada Sunan Kudus dan kemudian menetap di Jepara.


Di wilayah yang kini dikenal sebagai Kalinyamatan, ia mendirikan pusat pemerintahan dan menikahi Retna Kencana. 


Sejak itu, keduanya memerintah bersama dan memperkuat Jepara sebagai wilayah penting di pesisir utara Jawa. Dalam struktur kerajaan, Sultan Hadlirin berperan sebagai pemimpin, sementara Ratu Kalinyamat menjadi figur politik dan militer yang disegani.


Kekuasaan Kalinyamat kala itu meliputi wilayah Jepara, Kudus, Pati, hingga daerah yang kelak berkembang menjadi Mataram. Jepara juga dikenal sebagai pelabuhan strategis dan pusat perdagangan maritim.


Tragedi Berdarah

Tahun 1549 menjadi titik balik kelam. Dalam konflik politik pasca-Kesultanan Demak, Sultan Hadlirin tewas dalam perjalanan pulang dari Kudus. Dalam sejumlah versi babad, ia diserang pasukan Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat selamat, namun kehilangan suaminya.


Kematian Sultan Hadlirin menjadi peristiwa yang membekas dalam sejarah Jepara. Beberapa tradisi lisan bahkan mengaitkan peristiwa itu dengan penamaan sejumlah wilayah seperti Prambatan dan Kaliwungu, yang diyakini berkaitan dengan perjalanan terakhir sang sultan sebelum wafat.


Peristiwa tersebut juga mendorong Ratu Kalinyamat mengambil sikap tegas. Ia kemudian dikenal sebagai penguasa perempuan yang tangguh, memimpin Jepara dan melanjutkan perlawanan terhadap kekuatan asing, khususnya Portugis di Malaka.


Jepara di Bawah Ratu Kalinyamat

Setelah wafatnya Sultan Hadlirin, Ratu Kalinyamat memimpin Jepara hingga akhir abad ke-16. Di bawah kepemimpinannya, Jepara berkembang menjadi kekuatan maritim penting. Ia tercatat mengirim armada besar untuk membantu perlawanan terhadap Portugis di Malaka dan wilayah timur Nusantara.


Sejumlah catatan asing bahkan menyebut Ratu Kalinyamat sebagai penguasa perempuan yang berani, kaya, dan berpengaruh. Jepara di masa itu menjadi pusat perdagangan, pelayaran, dan kerajinan, termasuk seni ukir yang hingga kini menjadi identitas daerah tersebut.


Ratu Kalinyamat wafat sekitar tahun 1579 dan dimakamkan di Mantingan, Jepara, berdampingan dengan makam Sultan Hadlirin. Pada 2023, pemerintah Indonesia menetapkan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional atas jasa dan kepemimpinannya.


Warisan Sejarah

Kisah Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat menunjukkan bahwa Jepara memiliki sejarah panjang sebagai pusat dakwah, perdagangan, dan kekuatan politik di pesisir utara Jawa. Dari pertemuan budaya, dakwah Islam, hingga konflik kekuasaan, perjalanan keduanya membentuk identitas Jepara hingga sekarang.


Bagi masyarakat Jepara, nama Sultan Hadlirin bukan hanya bagian dari sejarah kerajaan, tetapi juga simbol awal perkembangan kota, penyebaran Islam, serta lahirnya kepemimpinan Ratu Kalinyamat yang melegenda.


***
Tim Redaksi.