| Foto, ilustrasi gambaran. (Perbedaan yang merupakan di kejadian yang sama) |
Queensha.id — Jakarta,
Pernahkah masyarakat menyadari bahwa banyak nama tokoh suci dalam agama berbeda terdengar mirip meski diucapkan dengan bahasa yang tidak sama?
Umat Kristen mengenal David, sementara umat Islam menyebut Dawud. Dalam tradisi gereja dikenal Gabriel, sedangkan dalam Islam disebut Jibril. Michael menjadi Mikail, dan salam keagamaan pun terdengar serupa: Shalom Aleichem dan Assalamu’alaikum.
Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari sejarah panjang perkembangan bahasa dunia yang berasal dari satu rumpun yang sama.
Satu Akar Bahasa: Rumpun Semitik
Para ahli linguistik menyebut bahasa Arab, Ibrani, dan Aram/Suryani sebagai bagian dari Rumpun Bahasa Semitik. Bahasa-bahasa ini memiliki nenek moyang linguistik yang sama dan berkembang di kawasan Timur Tengah ribuan tahun lalu.
Konsepnya mirip dengan bahasa daerah di Indonesia. Seperti bahasa Jawa dan Madura yang memiliki kata berbeda namun makna serupa dan bunyi berubah karena wilayah, waktu, dan budaya.
Dalam sejarah kenabian, hubungan bahasa ini juga berkaitan dengan garis keturunan Nabi Ibrahim atau Nabi Ibrahim. Tradisi Islam dan Yahudi-Kristen menyebut dua garis keturunannya yaitu melalui Nabi Ismail yang melahirkan bangsa Arab, serta Nabi Ishaq yang menjadi leluhur bangsa Ibrani.
Dari sinilah muncul variasi nama nabi dalam tiga tradisi agama Abrahamik.
Nama Berbeda, Tokoh yang Sama
Perbedaan pelafalan tidak mengubah identitas tokoh. Banyak nabi memiliki padanan nama lintas bahasa:
1. Adam — Adam — Adam.
2. Noah — Nuh.
3. Abraham — Ibrahim.
4. Moses — Musa.
5. Joseph — Yusuf.
6. David — Dawud.
7. Solomon — Sulaiman.
8. John — Yahya.
9. Jesus — Isa Al-Masih.
Begitu pula nama malaikat seperti Gabriel (Jibril) dan Michael (Mikail). Perbedaan tersebut lahir dari perubahan fonetik alami dalam perkembangan bahasa selama ribuan tahun.
Bahasa Kitab Suci dan Perjalanan Sejarah
Sejarah agama mencatat bahwa wahyu ilahi disampaikan melalui bahasa yang berbeda sesuai masyarakat penerimanya:
1. Bahasa Taurat menggunakan Ibrani kuno.
2. Injil awal banyak ditulis dalam Aram dan Yunani Koine.
3. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab klasik.
Dalam kajian Linguistik Historis, perubahan bahasa merupakan fenomena normal. Banyak bahasa kuno kini tidak lagi digunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari, melainkan bertahan dalam ritual atau naskah akademik.
Namun para peneliti mencatat bahwa bahasa Arab klasik memiliki posisi unik karena tetap digunakan secara luas hingga hari ini sebagai bahasa ibadah, literatur, dan komunikasi formal di berbagai negara Muslim.
Bahasa sebagai Jembatan, Bukan Pemisah
Kesamaan nama nabi, malaikat, dan istilah keagamaan menunjukkan bahwa tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki akar sejarah spiritual yang saling terhubung. Perbedaan pelafalan bukan tanda pertentangan, melainkan bukti perjalanan panjang peradaban manusia.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bagaimana bahasa dapat menjadi jembatan dialog antarumat beragama yang mengingatkan bahwa peradaban besar dunia lahir dari sumber sejarah yang saling bersinggungan.
Bagi banyak kalangan beriman, keberlangsungan bahasa wahyu dipandang sebagai bagian dari penjagaan nilai spiritual lintas generasi. Sementara bagi dunia akademik, hal ini menjadi bukti hidup bagaimana bahasa, agama, dan sejarah berkembang bersama sepanjang zaman.
***
Tim Redaksi.