Queensha.id – Opini Publik,
Polemik seputar dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap ekonomi kecil mulai terasa hingga ke lapak-lapak takjil Ramadan.
Di satu sisi, program negara bernilai besar itu disebut membantu pemenuhan gizi masyarakat. Di sisi lain, pedagang kecil khawatir kehilangan pembeli karena harus bersaing dengan makanan gratis yang dibagikan secara masif.
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai situasi ini bukan sekadar persaingan dagang biasa, melainkan benturan antara kebijakan makro negara dan ekonomi mikro masyarakat.
Menurutnya, pedagang takjil tidak bisa melawan program besar negara dengan cara konfrontatif.
“Melawan program nasional secara fisik atau demonstratif justru akan merugikan pedagang sendiri. Yang dibutuhkan adalah strategi adaptasi ekonomi, bukan perlawanan terbuka,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Persaingan “Gratis” vs “Rasa”
Purnomo menyebut program MBG membawa logika produksi massal: makanan distandarisasi, logistik besar, dan distribusi cepat. Dalam situasi itu, pedagang kecil tidak mungkin menang jika menjual produk yang sama, seperti nasi kotak atau lauk berat.
Ia menilai keunggulan pedagang takjil justru pada hal yang tidak bisa diproduksi massal: kesegaran, rasa lokal, dan kedekatan emosional.
“Program besar bisa memberi makanan gratis, tapi tidak bisa menggantikan gorengan panas baru diangkat dari wajan, es segar racikan dadakan, atau kue tradisional buatan tangan warga,” katanya.
Sorotan dari Media Sosial
Pandangan serupa juga ramai dibahas di media sosial. Dalam unggahannya, Yoyok Rahayu Basuki menyoroti potensi tergerusnya ekonomi mikro jika masyarakat sepenuhnya bergantung pada makanan gratis.
Ia menulis bahwa program negara memang penting, namun daya hidup ekonomi rakyat tetap harus dijaga.
“Jangan sampai program besar mematikan roda kecil di kampung. Pedagang takjil, warung, dan pasar tradisional adalah penyangga ekonomi keluarga. Kalau semua serba gratis, siapa yang membeli dagangan mereka?” tulisnya dalam unggahan yang beredar luas di kalangan warganet.
Yoyok juga mengajak masyarakat tetap berbelanja di pedagang lokal selama Ramadan sebagai bentuk solidaritas ekonomi. Menurutnya, membeli takjil dari tetangga bukan sekadar transaksi, tetapi menjaga keberlangsungan hidup komunitas.
Kekuatan Relasi Sosial Kampung
Purnomo menambahkan bahwa relasi sosial antara pedagang dan pembeli di tingkat kampung menjadi faktor penting yang tidak dimiliki sistem distribusi besar.
“Di banyak daerah, pembeli tidak hanya membeli makanan, tapi juga membantu ekonomi tetangga. Ini yang tidak dimiliki sistem distribusi besar,” ujarnya.
Ia menilai narasi belanja lokal sebagai bentuk dukungan sosial bisa menguat selama Ramadan. Membeli takjil dari pedagang sekitar memiliki dimensi ekonomi sekaligus sosial.
“Uang yang beredar di kampung akan kembali ke kampung. Itu menjaga siklus ekonomi lokal tetap hidup,” katanya.
Paguyuban Pedagang dan Negosiasi Lokal
Purnomo juga menyoroti pentingnya pedagang membentuk paguyuban atau kelompok informal di tingkat RT/RW agar bisa bernegosiasi dalam rantai pasok bahan baku dapur umum.
“Kalau pedagang bergerak sendiri-sendiri, posisinya lemah. Tapi jika mereka kolektif, mereka bisa menjadi bagian dari ekosistem pasokan, bukan sekadar korban,” jelasnya.
Ia menilai pendekatan kolaboratif dengan pemerintah desa atau pelaksana lapangan lebih efektif daripada konfrontasi.
“Tujuannya bukan menolak program negara, tapi memastikan ekonomi lokal tidak mati,” katanya.
Ekonomi Kecil Harus Adaptif
Purnomo menegaskan bahwa kehadiran program besar negara akan selalu berdampak pada ekonomi kecil. Namun, daya tahan pedagang tradisional selama ini justru terletak pada kelincahan mereka beradaptasi.
“Ekonomi rakyat itu seperti air. Ia akan mencari celah untuk tetap mengalir. Selama ada solidaritas lokal dan inovasi dagangan, pasar takjil tidak akan hilang,” katanya.
Ia menutup dengan mengingatkan bahwa kebijakan publik seharusnya tetap mempertimbangkan ekosistem ekonomi kecil.
“Program negara penting untuk kesejahteraan. Tapi ekonomi rakyat juga penting untuk keberlanjutan. Keduanya harus berjalan berdampingan,” pungkasnya.
***