| Foto, putra Joseph Hungan (Macho Virgonta Hungan) dan putra Barry Prima (Ferozy Cornelis Johan Knoch). |
Queensha.id - Entertainment,
Nama besar aktor laga Indonesia tidak hanya meninggalkan jejak di layar kaca dan film layar lebar, tetapi juga menghadirkan generasi penerus dengan perjalanan hidup yang berbeda. Sosok Ferozy Cornelis Johan Knoch dan Macho Virgonta Hungan menjadi contoh bagaimana anak para legenda (Aktor Laga) yang memilih arah masing-masing dalam menapaki kehidupan.
Ferozy Cornelis Johan Knoch dikenal sebagai putra dari aktor laga legendaris Indonesia Barry Prima bersama sang ibu Okky Olivia Jusuf.
Lahir pada 21 November 1992, Ferozy merupakan anak kedua dari pasangan tersebut.
Meski memiliki darah seni bela diri dan perfilman dari sang ayah yang dikenal sebagai ikon film aksi era 1980–1990-an, Ferozy justru memilih jalur berbeda. Ia tidak mengikuti jejak Barry Prima sebagai bintang film laga maupun pemain sinetron televisi. Pilihan itu menunjukkan bahwa warisan nama besar tidak selalu identik dengan profesi yang sama.
Macho Hungan Melanjutkan Tradisi Laga
Berbeda dengan Ferozy, Macho Virgonta Hungan justru melanjutkan tradisi dunia aksi yang diwariskan ayahnya, aktor laga Joseph Hungan bersama ibunda Fitrid Fieke Arieswati.
Lahir pada 5 September 1993, Macho aktif membangun karier di industri hiburan melalui sejumlah sinetron laga populer Indonesia. Ia tercatat pernah tampil dalam serial televisi 7 Manusia Harimau, kemudian berlanjut ke Jawara dan Anak Jalanan.
Namanya semakin dikenal publik saat ikut membintangi Anak Langit. Kehadirannya di layar kaca dianggap sebagai bukti regenerasi aktor laga Indonesia yang tetap bertahan di tengah perubahan tren industri hiburan.
Warisan Nama Besar, Pilihan Hidup Berbeda
Kisah dua putra legenda ini memperlihatkan realitas menarik dunia hiburan yaitu tidak semua anak artis memilih berjalan di jalur yang sama dengan orang tuanya. Ada yang meneruskan tradisi seni peran, ada pula yang memilih kehidupan di luar sorotan kamera.
Namun satu hal yang sama, baik Ferozy maupun Macho tetap membawa identitas besar keluarga yang pernah membangun sejarah film laga Indonesia. Nama para ayah mereka tetap dikenang sebagai simbol era keemasan film aksi nasional.
Perjalanan generasi kedua ini menjadi pengingat bahwa warisan bukan sekadar profesi, melainkan nilai, disiplin, dan karakter yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
***
Tim Redaksi.