Notification

×

Iklan

Iklan

Satu Hari Tanpa Puasa, Apa Balasannya di Akhirat? Ini Penjelasan Ulama Indonesia

Selasa, 24 Februari 2026 | 03.13 WIB Last Updated 2026-02-23T20:14:17Z
Foto, ilustrasi gambaran seseorang tidak berpuasa di bulan Ramadan.



Queensha.id - Edukasi Islam,


Puasa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan yang hadir setiap kalender hijriah. Ia merupakan rukun Islam yang berdiri sejajar dengan syahadat, shalat, zakat, dan haji. Karena itu, meninggalkan satu hari puasa tanpa alasan syar’i bukan persoalan ringan dan bahkan para ulama menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap perintah Allah.


Allah SWT telah menegaskan kewajiban tersebut dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”


Ayat ini menempatkan puasa sebagai kewajiban mutlak, bukan pilihan spiritual yang boleh diambil atau ditinggalkan sesuka hati.


Puasa yang Ditinggalkan Sengaja: Dosa Besar

Mayoritas ulama fikih, termasuk mazhab Syafi’i yang dianut luas di Indonesia, sepakat bahwa orang yang sengaja tidak berpuasa tanpa uzur syar’i melakukan dosa besar.


Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi sering menjadi rujukan utama:


“Barang siapa berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa keringanan dan tanpa sakit, maka tidak akan dapat diganti walaupun ia berpuasa sepanjang tahun.”


Menurut para ulama, makna hadits ini bukan menggugurkan kewajiban qadha, melainkan menunjukkan besarnya pahala yang hilang dan tidak dapat diganti dengan amalan sunnah sebanyak apa pun.


Pandangan Ulama Terkemuka di Indonesia

1. Quraish Shihab: Puasa Melatih Kejujuran Spiritual

Cendekiawan Muslim Indonesia ini menegaskan bahwa puasa memiliki dimensi kejujuran yang sangat tinggi.


Menurutnya, puasa adalah ibadah yang tidak bisa diawasi manusia. Seseorang bisa saja makan diam-diam tanpa diketahui siapa pun. 


Karena itu, meninggalkan puasa secara sengaja menunjukkan lemahnya kesadaran hubungan langsung dengan Allah.


Ia menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan integritas moral dan ketakwaan pribadi.


2. Yusuf Mansur: Jangan Meremehkan Satu Hari

Ustaz Yusuf Mansur sering mengingatkan bahwa satu hari Ramadhan memiliki nilai yang luar biasa.


Menurutnya, Ramadhan adalah musim ampunan dan pelipatgandaan pahala. Maka ketika seseorang sengaja meninggalkan puasa, ia bukan hanya kehilangan kewajiban, tetapi juga kehilangan kesempatan spiritual yang mungkin tidak terulang tahun berikutnya.


3. Abdul Somad: Tetap Muslim, Tapi Berdosa Besar

Ustaz Abdul Somad menjelaskan secara fikih bahwa orang yang meninggalkan puasa karena malas tidak otomatis keluar dari Islam.


Namun, ia tetap tercatat sebagai pelaku dosa besar dan wajib:

1. Bertaubat,

2. Mengqadha puasanya,

3. Memperbaiki ibadah.


Beliau juga menekankan pentingnya tidak meremehkan kewajiban agama hanya karena lingkungan sosial menganggapnya biasa.


4. Majelis Ulama Indonesia: Kewajiban Qadha dan Taubat

Pandangan resmi para ulama di Indonesia melalui MUI menegaskan:

1. Puasa Ramadhan wajib bagi Muslim yang memenuhi syarat.

2. Sengaja meninggalkan tanpa uzur adalah dosa.

3. Wajib mengganti (qadha).

4. Dianjurkan memperbanyak taubat dan amal saleh.


Dalam kondisi tertentu seperti pelanggaran berat terkait pembatalan puasa dan sebagian ulama juga membahas kewajiban kafarah.


Gambaran Ancaman di Akhirat

Dalam riwayat mimpi Nabi Muhammad SAW disebutkan adanya sekelompok manusia yang disiksa karena berbuka sebelum waktunya. Para ulama menjelaskan riwayat ini sebagai peringatan keras, bukan vonis mutlak bagi individu tertentu.


Puasa memiliki kedudukan istimewa, sebagaimana hadits qudsi:

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Artinya, pahala puasa sangat rahasia — dan pelanggarannya pun memiliki konsekuensi serius.


Tidak Semua yang Tidak Puasa Berdosa

Islam tetap memberikan keringanan bagi:

1. Orang sakit,

2. Musafir,

3. Wanita haid dan nifas,

4. Orang lanjut usia,

5. Ibu hamil atau menyusui (dengan ketentuan fikih).


Dalam kondisi ini, meninggalkan puasa bukan dosa, melainkan bagian dari rahmat syariat.


Apakah Langsung Masuk Neraka?

Para ulama Indonesia sepakat yaitu tidak ada manusia yang bisa memastikan nasib akhir seseorang.


Namun yang pasti:

1. Meninggalkan puasa tanpa alasan adalah dosa besar,

2. Akan dimintai pertanggungjawaban,

3. Membutuhkan taubat sungguh-sungguh.


Allah SWT berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”
(QS. Al-Hijr: 92–93)


Pintu Taubat Masih Terbuka

Selama seseorang:

1. Menyesal,

2. Segera bertaubat,

3. Mengganti puasanya,

4. Bertekad tidak mengulangi,


Maka ampunan Allah tetap terbuka luas.
Ramadhan bukan hanya tentang kewajiban, tetapi juga kesempatan kembali kepada Allah SWT.


Renungan: Satu Hari yang Akan Ditanya

Bayangkan di padang mahsyar. Ketika amal dibuka satu per satu, lalu satu hari Ramadhan muncul sebagai saksi.
Pertanyaannya sederhana:


Mengapa hari itu ditinggalkan?

Karena bisa jadi, satu hari yang terasa ringan di dunia menjadi sangat berat di akhirat.


***
Tim Redaksi.