| Foto, tangkap layar dari video rekaman setelah kejadian tawuran remaja di Desa Kedungcino, kecamatan Jepara kota, kabupaten Jepara Sabtu (28/2/2026) dini hari pukul 02.00 wib. |
Queensha.id — Jepara, (Opini Publik).
Fenomena kenakalan remaja di Kabupaten Jepara kembali menjadi sorotan serius setelah aksi tawuran terjadi pada Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB di wilayah Desa Kedungcino, kecamatan Jepara kota, kabupaten Jepara. Peristiwa yang diunggah Queensha.id Jepara itu memperlihatkan realitas yang semakin mengkhawatirkan: pelaku tawuran bukan lagi hanya remaja SMA, tetapi juga diduga melibatkan anak usia SD dan SMP.
Pertanyaan besar pun muncul di tengah masyarakat: kenapa tawuran remaja semakin marak?
Tawuran Dini Hari, Alarm Bahaya untuk Jepara
Aksi tawuran yang terjadi saat sebagian besar warga masih terlelap menjelang sahur di bulan Ramadan 2026 hingga ada salah seorang warga yang di bacok gerombolan pemotor. Hal ini menjadi tanda perubahan pola kenakalan remaja. Jalanan yang seharusnya sepi justru berubah menjadi arena adu keberanian.
Fenomena ini tidak lagi bisa dianggap sekadar kenakalan biasa. Tawuran kini menunjukkan pola yang lebih terorganisir, emosional, dan berisiko tinggi terhadap keselamatan publik.
Pengamat sosial menilai, meningkatnya kasus tawuran merupakan alarm sosial yang harus segera direspons serius oleh keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah.
Ikut-ikutan Tren Kekerasan?
Salah satu faktor yang sering disebut adalah efek imitasi dari daerah lain. Video tawuran yang viral di media sosial membuat sebagian remaja menganggap aksi kekerasan sebagai sesuatu yang “keren” dan layak ditiru.
Media sosial tanpa filter menjadi ruang belajar baru bagi remaja sayangnya bukan tentang prestasi, tetapi tentang keberanian semu dan kekerasan jalanan.
Remaja yang masih dalam fase pencarian jati diri mudah terdorong mengikuti tren demi pengakuan kelompok.
Harga Diri yang Salah Arah
Banyak kasus tawuran berawal dari persoalan sepele: saling ejek di media sosial, tantangan antar kelompok, hingga konflik identitas sekolah atau wilayah.
Bagi sebagian remaja, tawuran dianggap cara cepat menunjukkan harga diri.
Bukan lagi soal membela diri, tetapi soal gengsi.
Semakin berani, semakin dianggap hebat.
Semakin nekat, semakin dihormati.
Padahal yang terjadi justru sebaliknya: masa depan mereka dipertaruhkan hanya untuk pengakuan sesaat.
Ingin Terlihat Sangar
Psikolog sosial menyebut adanya dorongan ingin terlihat kuat dan ditakuti. Istilah “sangar” menjadi simbol maskulinitas palsu di kalangan remaja.
Ketika prestasi akademik atau kegiatan positif tidak memberi ruang pengakuan, kekerasan menjadi alternatif identitas.
Celakanya, sebagian pelaku bahkan masih usia sekolah dasar dan menengah pertama usia yang seharusnya dipenuhi pembinaan karakter, bukan konflik jalanan.
Di Mana Peran Lingkungan?
Fenomena tawuran tidak lahir dari ruang kosong. Ada banyak faktor yang saling berkaitan:
1. Minimnya pengawasan orang tua pada malam hari.
2. Pengaruh pergaulan bebas.
3. Akses gadget tanpa kontrol.
4. Kurangnya ruang aktivitas positif bagi remaja.
5. Lemahnya pendidikan karakter di lingkungan sosial.
Banyak remaja berkeliaran hingga dini hari tanpa pengawasan jelas. Kondisi ini memperbesar peluang terjadinya konflik antar kelompok.
Jepara Tidak Sedang Baik-Baik Saja
Tawuran dini hari menjadi refleksi bahwa persoalan remaja di Jepara tidak lagi bisa dianggap insiden sporadis.
Jika anak SD dan SMP sudah turun ke jalan membawa emosi dan kekerasan, maka yang sedang bermasalah bukan hanya anak-anaknya tetapi sistem sosial di sekeliling mereka.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret: pengawasan terpadu, patroli malam, pembinaan sekolah, hingga edukasi digital bagi keluarga. Karena pertanyaan sebenarnya bukan lagi “siapa yang salah?”
Tetapi: Apakah Jepara akan membiarkan generasi mudanya tumbuh dalam budaya kekerasan?
***
Tim Redaksi.