Queensha.id – Edukasi Sosial,
Usia 40 tahun kerap disebut sebagai titik balik kehidupan. Di fase ini, manusia tidak lagi sekadar dihitung dari pencapaian duniawi, tetapi mulai dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa hidup dijalani, dan ke mana akhirnya akan kembali? Sebuah pesan visual yang beredar luas di media sosial berisi 11 hal yang harus dilakukan dan 11 hal yang harus ditinggalkan di usia 40 yang menjadi refleksi spiritual yang kuat sekaligus tamparan sosial bagi banyak orang.
Dalam Islam, usia 40 memiliki makna yang sangat serius. Al-Qur’an menyebut usia ini sebagai fase kematangan akal dan jiwa.
Dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15, Allah menggambarkan usia 40 sebagai masa ketika manusia mencapai puncak kesadaran, lalu berdoa agar tetap bersyukur, beramal saleh, dan memperbaiki keturunan.
Artinya, ini bukan sekadar angka biologis, melainkan fase pertanggungjawaban moral dan spiritual.
Imam Al-Ghazali bahkan menegaskan, “Umur 40 adalah pintu akhirat. Siapa yang belum berubah saat itu, hendaklah ia menangisi dirinya.”
Pernyataan ini kerap dikutip para ulama sebagai peringatan keras bahwa menunda taubat dan perbaikan diri hingga usia matang adalah bentuk kelalaian yang berbahaya.
Pandangan Ulama Indonesia
Ulama terkemuka Indonesia, seperti Prof. Quraish Shihab, dalam berbagai penjelasannya menekankan bahwa semakin bertambah usia, semakin berat pula tanggung jawab manusia di hadapan Allah.
Menurutnya, usia dewasa bukan lagi waktu untuk bereksperimen dalam dosa, tetapi masa memperbanyak amal, memperbaiki akhlak, dan menata niat hidup.
Sementara itu, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) sering mengingatkan bahwa penyakit terbesar manusia di usia matang adalah merasa “masih punya waktu”.
Padahal, justru di usia inilah kematian sering datang tanpa aba-aba. Karena itu, sikap lalai ibadah, ghibah, iri dengki, dan terlalu mencintai dunia—seperti yang disebutkan dalam daftar hal yang harus ditinggalkan adalah tanda kegagalan membaca isyarat usia.
Kacamata Sosial: Bukan Sekadar Religius
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai pesan tentang usia 40 ini relevan tidak hanya secara religius, tetapi juga sosial. Menurutnya, banyak konflik keluarga, krisis moral, hingga kegelisahan batin di masyarakat hari ini berakar dari kegagalan individu dewasa dalam mengelola egonya.
“Di usia 40, seharusnya seseorang menjadi sumber ketenangan bagi keluarga, lingkungan, dan dirinya sendiri. Tapi yang sering terjadi justru sebaliknya yaitu masih kejar validasi, pamer hidup, sibuk tanpa arah, dan mudah marah. Ini krisis kedewasaan, bukan krisis ekonomi,” ujar Purnomo, Senin (2/2/2026).
Ia menambahkan, jika nilai-nilai seperti memperbaiki sholat, menjaga lisan, rajin sedekah, dan mengingat akhirat benar-benar dihidupkan, maka usia 40 akan melahirkan figur-figur panutan, bukan sumber masalah baru di masyarakat.
Pesan tentang usia 40 sejatinya adalah undangan untuk muhasabah kolektif. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi menyadarkan. Islam tidak melarang manusia menikmati dunia, tetapi mengingatkan agar dunia tidak menjadi tujuan akhir. Di usia ini, pilihan hidup menjadi semakin jelas yaitu terus menunda perubahan, atau melangkah pulang dengan kesadaran penuh. Karena pada akhirnya, usia bukan yang akan ditanya.
"Yang akan ditanya adalah apa yang sudah kita perbaiki sebelum waktu benar-benar habis".
***
Tim Redaksi.