| Foto, ilustrasi gambaran seorang bernama Putri Arimbi. (Dikutip dari YouTube) |
Queensha.id — Jepara, (Kisah Kehidupan),
Tidak semua pernikahan lahir dari cinta. Sebagian hadir karena luka masa lalu, tekanan keluarga, dan harapan untuk memperbaiki hidup yang justru berujung pada kesepian panjang. Itulah kisah pilu yang dialami Putri Arimbi (18), gadis muda asal Jepara yang harus menerima takdir menikah dengan pamannya sendiri.
Kisah ini bukan sekadar cerita rumah tangga, tetapi rangkaian tragedi keluarga yang saling terhubung dimulai dari cinta palsu, hutang besar, perceraian, hingga keputusan menikah yang meninggalkan pertanyaan tentang arti kebahagiaan.
Awal Retaknya Sebuah Keluarga
Putri Arimbi merupakan anak kedua pasangan Joko Susanto dan Sulastri. Ia tumbuh bersama kakaknya, Ahmad Riyanto, dalam keluarga sederhana yang awalnya berjalan normal.
Namun badai datang dari keluarga besar mereka.
Ranti Nikmah, adik kandung Joko Susanto, menikah dengan pria bernama Pujiono dan dikaruniai seorang anak, Doni Wiryo. Rumah tangga mereka sebenarnya cukup stabil, hingga seorang pria bernama Prasetyo hadir dalam kehidupan Ranti.
Prasetyo mengaku sebagai pengusaha kaya. Ia mendekati Ranti dengan rayuan cinta dan janji kehidupan mewah. Tanpa disadari, Ranti terjebak dalam penipuan emosional.
Ranti meminta cerai dari Pujiono dan perceraian itu sah terjadi. Keputusan itu menjadi awal kehancuran.
Cinta Palsu dan Hutang Ratusan Juta
Setelah resmi bercerai, Prasetyo mulai memanfaatkan kepercayaan keluarga Ranti. Ia meminjam uang kepada tiga anggota keluarga sekaligus, masing-masing sebesar Rp100 juta.
Total ratusan juta rupiah lenyap. Tak lama kemudian, Prasetyo menghilang tanpa jejak.
Ranti yang sudah meninggalkan suaminya justru ditinggalkan pria yang ia bela mati-matian. Beban hutang, rasa bersalah, dan tekanan keluarga membuat kondisi kesehatannya memburuk.
Ia jatuh sakit karena depresi berat.
Beberapa waktu kemudian, Ranti Nikmah meninggal dunia. Sebuah tragedi yang meninggalkan luka panjang bagi seluruh keluarga.
Hidup Berpencar Setelah Ditinggal
Setelah diceraikan, Pujiono memilih merantau ke Sumatra untuk memulai hidup baru.
Dua tahun berselang, keluarga Putri juga ikut hancur. Joko Susanto bercerai dengan Sulastri. Sang ibu kemudian menikah lagi dengan pria asal Klaten bernama Yono dan membawa Putri pindah jauh ke Papua.
Namun kehidupan baru itu tidak seperti harapan.
Di Papua, Putri justru merasa disia-siakan oleh ayah tirinya. Ia hidup tanpa perhatian, tanpa tempat pulang secara emosional.
Seorang gadis 18 tahun yang seharusnya menikmati masa muda, justru hidup dalam kesendirian.
Dijodohkan dengan Mantan Suami Bibinya
Ketika melihat Pujiono mulai sukses secara ekonomi di perantauan, Joko Susanto mengambil keputusan besar: menjodohkan putrinya sendiri dengan Pujiono merupakan mantan suami adiknya.
Artinya, Putri harus menikah dengan pamannya sendiri dan Putri menerima karena terpaksa.
Bukan karena cinta, melainkan karena kepatuhan kepada orang tua dan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih stabil.
Ia kembali ke Jepara dan resmi menikah dengan Pujiono.
Pernikahan Tanpa Kehangatan
Secara materi, kehidupan Putri terpenuhi. Pujiono mencukupi semua kebutuhan istrinya.
Namun satu hal tak pernah hadir yaitu kasih sayang.
Pujiono belum mampu mencintai Putri sepenuhnya. Setiap empat bulan sekali ia kembali merantau ke Sumatra, meninggalkan Putri sendirian di rumah yang jauh dari rumah yang ditempati oleh Ranti dan anaknya hingga hari-hari Putri dipenuhi kesunyian.
Ia mencoba belajar mencintai suaminya. Ia ingin menjadi istri yang utuh, bahkan berharap segera hamil agar memiliki alasan untuk bertahan.
Namun satu tahun pernikahan berlalu tanpa kehamilan dan kesepian semakin terasa.
Rumah yang Tak Lagi Menjadi Tempat Pulang
Masalah lain muncul dari rumah peninggalan keluarga Pujiono dan Ranti. Rumah itu kini dikuasai ibu Ranti yang mengatur siapa pun yang tinggal di sana, bahkan termasuk anak kandung Ranti sendiri.
Putri pun merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.
Tak memiliki ruang pribadi, tak memiliki perhatian emosional dan tak memiliki pasangan yang benar-benar hadir dan pernikahan itu terasa hampa.
Pertanyaan yang Tak Pernah Terjawab
Di usia yang masih sangat muda, Putri mulai mempertanyakan hidupnya sendiri.
"Apa arti hidupku? Kebutuhanku dipenuhi, tapi perhatian dan kasih sayang tidak pernah aku rasakan."
Pertanyaan itu menjadi jeritan sunyi yang tidak terdengar siapa pun.
Purnomo Wardoyo, pengamat sosial asal Jepara menilai kasus seperti Putri bukanlah cerita tunggal di masyarakat Indonesia. Pernikahan sering dijadikan jalan keluar dari masalah ekonomi, konflik keluarga, atau tekanan sosial.
Padahal pernikahan tanpa kesiapan emosional justru berpotensi melahirkan penderitaan baru.
Secara hukum, pernikahan antar kerabat tertentu memang diperbolehkan selama bukan hubungan mahram langsung. Namun secara psikologis, hubungan yang terbentuk dari keterpaksaan sering meninggalkan luka batin yang panjang.
Luka yang Tak Terlihat
Kisah Putri Arimbi menunjukkan bahwa penderitaan tidak selalu tampak dari kemiskinan.
Kadang seseorang memiliki rumah, uang, dan status sebagai istri tetapi tetap merasa sendirian.
Di balik foto pernikahan yang terlihat bahagia, ada perempuan muda yang setiap malam tidur dengan pertanyaan yang sama, "Apakah hidup hanya tentang bertahan, bukan tentang dicintai?," tanya Putri.
Dan hingga hari ini, Putri masih menunggu satu hal yang belum pernah benar-benar ia miliki sejak kecil yaitu rasa memiliki rumah dan seseorang yang benar-benar memilihnya karena cinta.
***
Tim Redaksi.