Queensha.id – Jepara,
Di tengah polemik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai disorot publik, muncul temuan menarik dari kajian nutrisi tradisional Jawa. Sajen atau sesajen yang selama ini identik dengan ritual budaya justru disebut memiliki komposisi gizi yang lengkap dan seimbang.
Kajian yang dirujuk dari penelitian akademik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyoroti bahwa makanan tradisional dalam sesajen Jawa sebenarnya disusun berdasarkan keseimbangan nutrisi alami, jauh sebelum konsep gizi modern dikenal masyarakat.
Temuan ini menjadi perbincangan setelah muncul kritik terhadap kualitas menu program MBG yang kini tengah menjadi perhatian legislatif daerah.
Gizi Tersembunyi di Balik Tradisi Leluhur
Selama ini, sesajen sering dipahami sebatas simbol spiritual atau budaya. Namun para peneliti nutrisi menilai komposisi makanan dalam tradisi Jawa menyimpan filosofi kesehatan yang kuat.
Beberapa komponen utama sesajen antara lain:
1. Ayam Ingkung
Ayam kampung utuh yang dimasak santan mengandung protein hewani tinggi, asam amino esensial, serta lemak yang membantu pertumbuhan dan energi tubuh.
2. Urap atau Janganan
Perpaduan sayuran rebus dan kelapa parut menyediakan serat, vitamin, mineral, serta antioksidan alami yang penting bagi metabolisme tubuh.
4. Getuk dan Jadah
Olahan singkong dan ketan menjadi sumber karbohidrat kompleks yang memberikan energi stabil dan tidak cepat meningkatkan gula darah.
Bubur tradisional berbasis tepung beras dan gula alami dipercaya masyarakat sebagai makanan pemulih stamina sekaligus simbol keseimbangan hidup.
Para ahli menyebut komposisi tersebut menyerupai konsep menu gizi seimbang yang kini menjadi standar ilmu nutrisi modern.
MBG Disorot: Legislator Minta Transparansi
Sorotan terhadap kualitas makanan muncul bersamaan dengan evaluasi program Makan Bergizi Gratis yang sedang berjalan di berbagai daerah.
Wakil Ketua DPRD Jepara, Junarso, meminta investigasi menyeluruh apabila ditemukan ketidaksesuaian antara anggaran dan kualitas menu yang diterima siswa.
Menurutnya, program yang bertujuan meningkatkan gizi anak tidak boleh justru bermasalah dalam pelaksanaannya.
“Kalau ada carut-marut pelaksanaan MBG, apalagi menu tidak sesuai anggaran, itu harus diinvestigasi total. Tidak boleh dibiarkan,” tegas Junarso, Jumat (28/2/2026).
Legislatif menyoroti potensi penurunan kualitas bahan pangan akibat praktik pengadaan yang tidak transparan.
Ironi Tradisi dan Program Modern
Perbandingan antara sesajen dan menu program negara memunculkan refleksi sosial menarik.
Dalam tradisi Jawa, makanan ritual disiapkan dengan penuh ketelitian, kejujuran, dan makna simbolik. Setiap bahan memiliki filosofi keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Sebaliknya, program pangan modern yang melibatkan anggaran besar justru rawan dipertanyakan ketika kualitasnya tidak konsisten di lapangan.
Sejumlah pengamat menilai, polemik ini bukan soal membandingkan tradisi dengan kebijakan negara, melainkan pengingat bahwa kualitas gizi tidak selalu bergantung pada besarnya anggaran, tetapi pada integritas pengelolaan.
Pesan yang Muncul untuk Publik
Perdebatan ini membuka ruang diskusi luas tentang pentingnya yaitu transparansi program pangan nasional, pengawasan publik terhadap anggaran serta penghargaan terhadap kearifan pangan lokal.
Sebab pada akhirnya, tujuan utama tetap sama yaitu memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan sehat, layak, dan benar-benar bergizi.
Ketika tradisi leluhur mampu menjaga keseimbangan nutrisi secara alami, masyarakat berharap program modern pun dapat berjalan dengan standar yang tidak kalah jujur dan berkualitas.
***
Suara Jepara.
Tim Redaksi.