Notification

×

Iklan

Iklan

Petani Rajekwesi Jepara Mengadu: Sumber Air Sawah Tertutup Akibat Pembangunan Perumahan

Kamis, 13 November 2025 | 18.24 WIB Last Updated 2025-11-13T11:47:12Z

Foto, area persawahan yang dirugikan.


Queensha.id — Jepara,


Puluhan perwakilan petani penggarap dari Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, mendatangi Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Jepara, Rabu (12/11/2025). Mereka menyampaikan pengaduan terkait penutupan sumber air belik Pecici dan pemindahan jalur saluran air oleh pihak pengembang perumahan Lestari Garden Hill.


Menurut perwakilan petani, sejak sumber air ditutup dan aliran air dialihkan ke danau serta kolam pemancingan milik pengembang, pasokan air ke lahan pertanian menjadi sangat terbatas. Akibatnya, sawah yang semula dapat diairi hingga 10 hektar kini hanya tersisa sekitar 1,5 hektar yang masih bisa ditanami.


“Dulunya air dari belik Pecici sangat melimpah. Tapi sekarang setelah dialihkan untuk kolam dan danau perumahan, air jadi kecil dan sawah kami kekeringan,” ujar LGM, salah satu petani penggarap, kepada Queensha.id pada Kamis (13/11/2025).


Menanggapi pengaduan tersebut, Kepala Dinas PUPR Jepara, Hery Yulianto, langsung menugaskan Kepala Bidang (Kabid) Pengairan untuk melakukan pengecekan ke lokasi guna memastikan kondisi sumber air dan saluran yang dipersoalkan.


Kabid Pengairan, Teguh, saat ditemui di area persawahan Rajekwesi, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan kunjungan lapangan. Ia menyebutkan, langkah itu dilakukan untuk memperoleh data yang akurat sebelum laporan resmi disampaikan kepada pimpinan.


“Kami turun langsung untuk melihat kondisi nyata di lapangan, termasuk sumber air dan arah saluran yang kini berubah. Hasil pemantauan akan kami laporkan ke pimpinan agar dapat diputuskan langkah tindak lanjutnya,” jelas Teguh.


Para petani berharap, dinas terkait dapat segera memberikan solusi agar fungsi sumber air belik Pecici dikembalikan seperti semula. Dengan begitu, mereka bisa kembali menanam padi dua kali dalam setahun seperti sebelum adanya pembangunan perumahan.


Kasus ini menjadi sorotan warga sekitar karena dianggap sebagai potret nyata benturan antara pembangunan perumahan modern dan kebutuhan dasar masyarakat agraris.


***

Wartawan: Gun Queensha Jepara.

Tim Redaksi Queensha.id | Jepara, 13 November 2025.