Queensha.id – Edukasi Sosial,
Rumah tangga kerap dipersepsikan sebagai ruang aman dan sakral. Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Banyak pernikahan runtuh bukan karena badai besar, melainkan retakan kecil yang dibiarkan membesar tanpa disadari.
Mengutip dari informasi berbagai sumber ada 10 penyebab utama kehancuran rumah tangga, mulai dari persoalan moral hingga krisis nilai hidup. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya angka perceraian dan konflik keluarga di berbagai daerah di Indonesia.
Sepuluh Akar Masalah yang Menggerogoti Pernikahan
Dalam sepuluh penyebab utama kehancuran rumah tangga digambarkan secara gamblang:
1. Perselingkuhan – Ketidaksetiaan yang menghancurkan kepercayaan.
2. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) – Kekerasan fisik maupun verbal yang melukai jiwa.
3. Masalah Keuangan – Utang, konflik ekonomi, dan ketidakjujuran finansial.
4. Kurangnya Komunikasi – Diam yang mematikan, bukan menenangkan.
5. Ketidakcocokan Prinsip dan Nilai – Perbedaan cara pandang hidup.
6. Masalah Seksual – Ketidakpuasan dan disharmoni hubungan intim.
7. Kecanduan – Alkohol, narkoba, judi, dan bentuk adiksi lainnya.
8. Campur Tangan Keluarga – Batas rumah tangga yang ditembus pihak luar.
9. Mengabaikan Anak – Anak menjadi korban konflik orang tua.
10. Perbedaan Tujuan Hidup – Pernikahan tanpa arah dan visi bersama.
Kesepuluh faktor ini jarang berdiri sendiri. Dalam banyak kasus, satu masalah memicu masalah lain, hingga rumah tangga kehilangan fondasi dasarnya.
Pandangan Ulama: Rumah Tangga Runtuh Karena Akhlak, Bukan Sekadar Masalah Teknis
Ulama terkemuka Indonesia menegaskan bahwa akar kehancuran rumah tangga bukan semata persoalan ekonomi atau kecocokan, melainkan krisis akhlak dan lemahnya tanggung jawab spiritual.
“Banyak rumah tangga hancur bukan karena kurang harta, tapi karena kurang iman, kurang sabar, dan kurang adab. Ketika akhlak runtuh, maka cinta pun kehilangan arah,” ujar seorang ulama nasional dalam kajian keluarga sakinah.
Menurutnya, Islam memandang pernikahan bukan hanya kontrak sosial, melainkan ibadah jangka panjang yang menuntut kedewasaan jiwa.
“Perselingkuhan, kekerasan, dan pengabaian anak adalah tanda bahwa pernikahan tidak lagi dijaga dengan nilai takwa. Padahal Allah menempatkan keluarga sebagai madrasah pertama bagi peradaban,” lanjutnya.
Ulama tersebut juga mengingatkan bahwa campur tangan pihak ketiga baik keluarga maupun godaan luar yang akan berbahaya jika pasangan tidak memiliki komitmen dan komunikasi yang sehat.
Anak Jadi Korban Paling Sunyi
Salah satu poin yang paling disorot adalah pengabaian anak. Dalam konflik rumah tangga, anak sering menjadi korban yang tidak bersuara.
“Anak yang tumbuh dalam rumah penuh pertengkaran akan membawa luka itu sampai dewasa. Rumah tangga yang rusak hari ini bisa melahirkan krisis sosial di masa depan,” tegas ulama tersebut.
Menjaga Rumah Tangga, Menjaga Peradaban
Ulama sepakat, solusi kehancuran rumah tangga tidak cukup dengan nasihat instan. Diperlukan komitmen spiritual, kedewasaan emosional, dan kesediaan untuk memperbaiki diri, bukan hanya menuntut pasangan berubah.
“Pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mau menjaga. Jika rumah tangga dijaga dengan iman, komunikasi, dan tanggung jawab, maka badai seberat apa pun bisa dilalui,” pungkasnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kehancuran rumah tangga bukan takdir, melainkan akumulasi dari pilihan-pilihan yang diabaikan. Dan memperbaikinya selalu dimulai dari kesadaran, bukan penyesalan.
***
Tim Redaksi.