Notification

×

Iklan

Iklan

Ujian Hidup Bukan Kutukan: Saat Ekonomi, Keluarga, dan Kesepian Menjadi Jalan Kenaikan Derajat

Sabtu, 31 Januari 2026 | 19.02 WIB Last Updated 2026-01-31T12:04:12Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook Inspirasi Sehat.



Queensha.id - Edukasi Sosial,


Gambar yang beredar luas di media sosial itu seolah menampar kesadaran publik. Enam potret getir disajikan tanpa basa-basi: dompet kosong dan tagihan menumpuk, dijauhi teman saat susah, rumah tangga yang retak oleh pertengkaran, usaha sepi tanpa pelanggan, hutang kian menggunung, hingga luka batin karena merasa tak ada yang peduli. Di bagian bawah, sebuah pesan menutup semuanya yakni "Bersabar dan Tawakal". Percayalah, pahala besar menantimu.


Pesan visual ini sederhana, namun tajam. Ia tidak menjual optimisme murahan. Ia memotret kenyataan hidup kelas bawah dan menengah yang kerap luput dari panggung kebijakan. Bahwa bagi banyak orang, ujian hidup bukan teori, melainkan rutinitas harian.


Ujian Sosial yang Nyata

Ekonomi sulit sering kali menjadi pintu masuk bagi masalah lain. Ketika pemasukan seret, pertengkaran rumah tangga meningkat. Saat usaha sepi, lingkar pertemanan menyusut. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat kerap tergoda melabeli yaitu siapa yang gagal dianggap malas, siapa yang tersingkir dicap “tidak benar”.


Di titik inilah stigma bekerja. Misalnya pada anak-anak jalanan atau komunitas punk. Di ruang publik, mereka kerap disederhanakan sebagai “anak nakal”, “produk broken home”, bahkan dicurigai sebagai bibit kriminal. 



Padahal, realitas sosial tak sesempit itu. Labelisasi justru menutup peluang pembinaan dan mendorong siklus keterasingan yang pada akhirnya benar-benar melahirkan masalah sosial baru.


Pandangan Ulama: Ujian sebagai Proses, Bukan Vonis

Sejumlah ulama terkemuka Indonesia berulang kali menegaskan bahwa kesulitan hidup tidak identik dengan kehinaan di hadapan Tuhan.


Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya menjelaskan bahwa ujian adalah cara Allah “menyaring” kualitas manusia. Kekurangan harta, konflik keluarga, dan kesepian bukan tanda dibenci, melainkan sarana pendidikan ruhani agar manusia naik kelas yang lebih matang, lebih jujur pada diri sendiri, dan lebih dekat pada nilai-nilai ilahi.


Sementara Gus Baha sering mengingatkan bahwa kesabaran bukan sikap pasif. Sabar adalah keteguhan untuk tetap berada di jalan yang benar meski keadaan memaksa kita marah, putus asa, atau berbuat curang. 


Tawakal, menurutnya, bukan menyerah, melainkan menyerahkan hasil setelah ikhtiar maksimal dilakukan.
Pandangan serupa juga disampaikan KH Said Aqil Siradj, yang menekankan dimensi sosial dari iman. 


Bagi beliau, masyarakat berdosa bila membiarkan warganya jatuh terlalu dalam karena kemiskinan dan stigma. Ujian individu tak boleh menjadi alasan abai kolektif.


Antara Iman dan Tanggung Jawab Sosial

Gambar itu mengajak bersabar dan bertawakal. Namun pesan ini akan timpang jika hanya dibebankan kepada korban. Kesabaran personal harus berjalan beriringan dengan keadilan sosial. Negara, tokoh masyarakat, dan komunitas wajib hadir yang bukan sekadar menasihati, tetapi membuka akses kerja, pendidikan, dan pendampingan.


Ujian hidup memang bisa mengangkat derajat seseorang. Tetapi dalam kacamata jurnalistik, pertanyaan yang lebih tajam adalah: apakah kita sedang membantu proses kenaikan derajat itu, atau justru memperberat ujiannya dengan stigma dan pembiaran?


Di situlah pesan gambar ini menemukan relevansinya yang paling keras: iman bukan hanya soal bertahan, melainkan juga tentang keberpihakan.


***
Tim Redaksi.