Indonesia tengah menghadapi ancaman serius yang tak kasat mata, namun dampaknya berpotensi menghancurkan fondasi persatuan nasional.
Fenomena ini dapat disebut sebagai “Algoritma Adu Domba Nasional” merupakan sebuah pola sistematis di ruang digital yang bukan lagi sekadar hiruk-pikuk media sosial, melainkan bentuk serangan siber-psikologis terhadap keutuhan bangsa.
Dalam beberapa waktu terakhir, ruang digital Indonesia dibanjiri konten provokatif yang memainkan isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Polanya tampak rapi dan terarah: mulai dari narasi kemerdekaan Aceh, pembenturan identitas Sunda–Madura–Jawa, hingga provokasi antara penduduk asli Bali dan para pendatang.
Konten-konten ini tidak muncul secara kebetulan, melainkan bergerak mengikuti logika algoritma yang memperbesar emosi, kemarahan, dan rasa curiga antar kelompok.
Fenomena ini bukan dinamika sosial yang tumbuh alami dari bawah. Para pengamat menilai, pola tersebut memiliki kemiripan kuat dengan strategi perang hibrida modern, di mana media sosial dijadikan senjata untuk menciptakan konflik horizontal. Tujuannya jelas yaitu melemahkan stabilitas nasional, memecah kohesi sosial, dan secara perlahan meruntuhkan legitimasi negara dari dalam.
Sejarah dunia telah memberikan pelajaran mahal. Sejumlah negara di Timur Tengah runtuh bukan karena kalah dalam perang konvensional, melainkan karena dihancurkan oleh konflik identitas yang terus dipelihara dan diprovokasi. Ketika masyarakat terbelah, negara kehilangan energi untuk membangun dan justru sibuk memadamkan api di dalam rumahnya sendiri.
Jika bangsa ini lengah dan terus terpancing emosi di ruang digital, gesekan kecil yang awalnya hanya berupa perang komentar dapat berkembang menjadi konflik nyata di masyarakat.
Dalam kondisi kacau seperti inilah, pihak-pihak asing berkepentingan akan paling diuntungkan. Infiltrasi politik, ekonomi, bahkan militer menjadi jauh lebih mudah ketika anak bangsa saling mencurigai dan saling melemahkan.
Pengamat sosial asal Jepara, Jawa Tengah, Purnomo Wardoyo, mengingatkan bahwa masyarakat perlu lebih cerdas membaca pola konflik di media sosial. Menurutnya, algoritma digital hari ini tidak netral dan kerap memperbesar konten yang memicu emosi ekstrem.
“Jika kita terus bereaksi dengan amarah dan kebencian, berarti kita sedang bermain di arena yang sudah dirancang untuk memecah belah. Persatuan bangsa bisa runtuh bukan karena serangan fisik, tapi karena kita gagal mengendalikan emosi dan nalar di ruang digital,” tegas Purnomo.
Ia menambahkan, kewaspadaan nasional saat ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Literasi digital, pengendalian diri, dan kesadaran kolektif menjadi benteng terakhir agar Indonesia tidak terjebak dalam skenario adu domba di tanahnya sendiri.
Di tengah derasnya arus informasi, persatuan adalah harga mati. Tanpa itu, Indonesia berisiko menjadi korban perang modern yang paling berbahaya: perang melawan sesama anak bangsa sendiri.
***
Tim Redaksi.