Notification

×

Iklan

Iklan

Allah Mengangkat Derajatmu Lewat Salah Satu Ujian: Saat Hidup Terasa Sempit

Minggu, 25 Januari 2026 | 19.55 WIB Last Updated 2026-01-25T12:56:16Z
Foto, ilustrasi. Seseorang sedang diuji dalam kehidupannya.



Queensha.id - Edukasi Sosial,


Hidup tak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika rezeki terasa sempit, relasi menjauh, rumah tangga menghangat oleh pertengkaran, usaha tiba-tiba sepi, utang menumpuk, dan hati terasa perih karena seolah tak ada yang peduli. 


Bagi sebagian orang, fase ini terasa seperti hukuman. Namun dalam pandangan keimanan, justru di sanalah sering kali Allah sedang bekerja yang mengangkat derajat hamba-Nya lewat satu per satu ujian.


Ujian yang Datang Bertubi-tubi

Banyak orang mengalami ujian ekonomi yang luar biasa: pekerjaan seret, pemasukan menurun, kebutuhan tetap berjalan. Di saat yang sama, teman dan kerabat menjauh yang dulu ramai, kini sunyi. Rumah tangga yang semula tenang mendadak sering bertengkar, seakan kesabaran diuji tanpa jeda. 


Usaha yang dulu berdenyut kini sepi, memicu utang yang kian menumpuk dan sulit dilunasi. Paling menyakitkan, rasa sakit hati mengendap karena merasa tak ada yang peduli.


Rentetan ini bukan kebetulan. Dalam kacamata spiritual, ujian kerap datang bersamaan untuk menguji satu hal inti: keteguhan iman dan keikhlasan.


Pandangan Ulama: Ujian Bukan Tanda Kebencian

Ulama terkemuka Indonesia kerap menegaskan bahwa ujian bukan tanda Allah membenci. Quraish Shihab berulang kali menjelaskan bahwa cobaan adalah bagian dari sunnatullah untuk mematangkan manusia yang memisahkan mana ketergantungan pada makhluk dan mana sandaran sejati kepada Allah. Ketika sandaran dunia runtuh, iman diajak berdiri tegak.


Gus Baha sering mengingatkan bahwa Allah menguji bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk “membersihkan” hingga meluruskan niat, merapikan hati, dan menguatkan tauhid. Saat pintu manusia tertutup, pintu doa terbuka lebar. Di situlah kualitas iman diuji, bukan kuantitas harta.


Buya Yahya menekankan bahwa ujian ekonomi, konflik rumah tangga, hingga sakit hati adalah ladang pahala bila dihadapi dengan sabar dan ikhtiar yang benar. Sabar bukan pasrah, melainkan tenang dalam berusaha dan teguh dalam ketaatan.


Sementara KH Hasyim Muzadi (alm.) pernah menyoroti dimensi sosial ujian: ketika dijauhi, manusia diajak menyadari bahwa pertolongan sejati tak bergantung pada banyaknya relasi, melainkan pada kejujuran ikhtiar dan ketulusan doa.


Apa di Balik Ujian Kehidupan?

Ada beberapa makna yang sering tersembunyi di balik ujian-ujian tersebut:

1. Pembersihan hati.

2. Kesempitan memaksa manusia menanggalkan kesombongan dan ketergantungan palsu.

3. Kenaikan derajat.


Dalam banyak riwayat, derajat seseorang naik justru melalui kesabaran saat sempit.


1. Pelurusan arah hidup

Usaha sepi atau konflik rumah tangga sering menjadi alarm untuk memperbaiki niat, cara, dan prioritas.



Rasa ditinggalkan melatih kepekaan, agar kelak saat lapang, seseorang tak lupa menolong.


3. Penguatan doa dan ikhtiar

Ketika pintu dunia terasa tertutup, doa menjadi jembatan yang paling dekat.



Menyikapi Ujian dengan Dewasa

Menghadapi ujian bukan berarti menormalisasi penderitaan. Islam mengajarkan ikhtiar: memperbaiki manajemen keuangan, merawat komunikasi rumah tangga, menata ulang usaha, dan mencari solusi utang dengan cara yang halal. Bersamaan dengan itu, sabar dan tawakal menjaga hati agar tak runtuh oleh keadaan.


Ujian memang terasa berat. Tapi sering kali, tepat di titik terendah itulah Allah sedang menyiapkan kenaikan bukan selalu dalam bentuk materi, melainkan ketenangan hati, kedewasaan iman, dan derajat yang lebih tinggi.


***