Queensha.id - Edukasi Sosial,
Kehancuran hidup jarang datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, berawal dari perilaku yang dianggap sepele, lalu berubah menjadi kebiasaan yang merusak. Dalam banyak kasus, kehancuran lelaki dan wanita memiliki pola berbeda, namun berpangkal pada satu akar yang sama yaitu hilangnya nilai moral, tanggung jawab, dan kendali diri.
Fenomena ini semakin sering ditemui di tengah masyarakat. Rumah tangga retak, ekonomi ambruk, dan luka batin menganga bukan semata karena takdir, melainkan akibat perilaku negatif yang dibiarkan berlarut-larut.
Kehancuran Lelaki: Ketika Amanah Diabaikan
Banyak lelaki jatuh bukan karena kurang kecerdasan atau peluang, melainkan karena perilaku yang merusak dirinya sendiri.
Judi menjadi pintu awal kehancuran. Kecanduan judi membuat nalar tumpul, harta terkuras, dan keluarga terabaikan. Ulama menyebut judi sebagai ilusi keuntungan yang berujung kemiskinan dan kehinaan.
Kecanduan minuman keras menenggelamkan kesadaran. Dalam kondisi mabuk, kontrol diri hilang, emosi meledak, dan tanggung jawab dilupakan.
Gila perempuan, gemar berganti pasangan, mencerminkan kegagalan menjaga amanah. Kepercayaan pasangan hancur, rumah tangga rapuh, dan martabat diri runtuh.
Malas bekerja mempercepat kehancuran. Enggan berusaha namun menuntut hasil besar mendorong seseorang pada utang, kebohongan, dan keputusasaan.
Tidak jujur dan suka menipu membuat lelaki kehilangan satu hal paling mahal dalam hidup sosial: kepercayaan. Sekali hilang, sulit dikembalikan.
Puncaknya adalah tidak bertanggung jawab hingga lari dari kewajiban sebagai suami, ayah, atau anggota masyarakat. Tak jarang, perilaku ini berujung pada ditinggalkan pasangan, sebagai konsekuensi dari kelelahan batin yang tak lagi tertahankan.
Kehancuran Wanita: Luka Batin yang Berlapis
Jika kehancuran lelaki sering tampak secara kasat mata, kehancuran wanita kerap tersembunyi dalam luka emosional yang panjang.
Banyak wanita tumbuh dengan kehilangan peran ayah, menciptakan kehampaan kasih sayang. Kekosongan ini, menurut para ulama, sering membuat seseorang mudah mencari pengakuan di tempat yang keliru.
Pasangan yang bersikap kasar, baik fisik maupun verbal, meninggalkan trauma mendalam. Kekerasan merusak rasa aman dan menghancurkan harga diri.
Lebih menyakitkan lagi ketika pasangan terus mengulangi kesalahan. Pengkhianatan berulang membuat luka tak sempat sembuh.
Diselingkuhi oleh lelaki yang dicintai menjadi pukulan berat bagi psikologis wanita. Kepercayaan runtuh, dan rasa berharga perlahan memudar.
Tak sedikit wanita dicintai karena nafsu semata yang dimanfaatkan tanpa komitmen. Dalam kondisi rapuh, sebagian terjebak pada kesalahan lanjutan, termasuk berselingkuh dari pasangan, yang justru menambah kerusakan batin.
Pandangan Ulama: Kehancuran Bukan Soal Gender, Tapi Akhlak
Ulama terkemuka Indonesia menegaskan bahwa kehancuran lelaki maupun wanita tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh akhlak dan pengendalian diri.
Quraish Shihab menekankan bahwa nafsu yang tak dikendalikan iman akan menjerumuskan manusia pada kehancuran, sekalipun ia cerdas dan berpendidikan.
Gus Baha mengingatkan bahwa dosa yang terus diulang tanpa taubat akan membentuk karakter. Dari karakter itulah lahir kebiasaan yang menentukan arah hidup.
Sementara Buya Yahya menegaskan pentingnya kejujuran dan tanggung jawab dalam relasi. Banyak kehidupan hancur bukan karena kurang cinta, tetapi karena hilangnya amanah.
Kehancuran atau Titik Balik
Deretan perilaku negatif ini sejatinya bukan vonis akhir, melainkan peringatan. Setiap kehancuran menyimpan peluang untuk berhenti, sadar, dan berubah.
Karena hidup tidak ditentukan oleh seberapa jauh seseorang tersesat, melainkan seberapa sungguh ia memilih kembali ke jalan yang benar.
***
Tim Redaksi.