Notification

×

Iklan

Iklan

Allah: Nama, Makna, dan Polemik Tuhan yang Sama tapi Dipahami Berbeda

Rabu, 21 Januari 2026 | 11.08 WIB Last Updated 2026-01-21T04:11:40Z
Foto, tulisan arab Islam (Allah).


Queensha.id - Edukasi Islam,


Perkataan paling fundamental dalam Islam (“Tidak ada tuhan selain Allah”) bukan sekadar kalimat ritual dalam syahadat. Ia adalah pernyataan teologis yang memuat sejarah panjang, perdebatan lintas iman, dan tafsir yang terus bergulir hingga hari ini.


Bagi umat Islam, Allah adalah Tuhan semesta alam, Pencipta langit dan bumi, yang mengutus para nabi sejak Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Isa, hingga Muhammad SAW. Semua nabi itu, menurut keyakinan Islam, membawa satu pesan yang sama yaitu menyembah hanya kepada Allah dan menolak segala bentuk kemusyrikan.


Namun, di luar keyakinan internal umat Islam, nama “Allah” sering menjadi sumber perdebatan (bahkan polemik) terutama ketika dibicarakan dalam konteks hubungan Islam, Kristen, dan Yahudi.


Islam Sebelum Jadi Nama Agama

Secara historis-teologis, Islam tidak dipahami sebagai agama baru yang didirikan oleh Nabi Muhammad. Kata Islam berarti berserah diri, dan dalam pandangan Islam, seluruh alam semesta tunduk kepada kehendak Allah.


Karena itu, para nabi dan pengikutnya disebut sebagai Muslim dalam makna umum: orang-orang yang berserah diri kepada Tuhan Yang Esa. Penyebutan Islam sebagai nama agama baru terjadi kemudian, seiring perkembangan sejarah dan komunitas umat.


Kitab-kitab suci seperti Taurat, Zabur, dan Injil diyakini berasal dari Allah, namun dalam pandangan Islam, teks-teks tersebut mengalami perubahan atau distorsi. Al-Qur’an hadir sebagai wahyu terakhir yang dijaga keasliannya, sehingga tidak diperlukan lagi nabi setelah Muhammad SAW.


Allah dan 99 Nama, Bukan Nama Pribadi
Berbeda dengan konsep “nama pribadi Tuhan” dalam tradisi tertentu, Al-Qur’an tidak memperkenalkan Allah sebagai nama personal seperti manusia. Allah adalah sebutan Tuhan Yang Maha Esa, dengan 99 asmaul husna yang berfungsi sebagai sifat atau julukan yang bukan nama diri.


Al-Khaliq (Pencipta), Al-Malik (Maha Merajai), Al-‘Aziz (Maha Perkasa), dan Al-Bashir (Maha Melihat) adalah sebagian dari nama-nama itu. Dua sifat utama (Ar-Rahman dan Ar-Rahim) bahkan mengawali hampir seluruh surat Al-Qur’an, menegaskan bahwa kasih sayang adalah fondasi relasi Tuhan dengan makhluk-Nya.
Namun, Al-Qur’an juga menggambarkan Allah sebagai Penguasa Hari Pembalasan, di mana keadilan ditegakkan tanpa kompromi.


Tuhan yang Sama, Tafsir yang Berbeda

Dalam bahasa Arab, Allah secara linguistik berkaitan dengan kata al-ilah (tuhan), dan serumpun dengan Alaha dalam bahasa Aram. Karena itu, umat Kristen Arab sejak lama menyebut Tuhan sebagai Allah. Bahkan Al-Qur’an sendiri menyatakan, “Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu” (QS. Al-‘Ankabut: 46).


Masalah muncul bukan pada nama, melainkan pada konsep. Islam menolak trinitas dan inkarnasi Tuhan menjadi manusia. Di sinilah perbedaan mendasar dengan teologi Kristen. Sebagian umat Kristen kemudian menyimpulkan bahwa Allah dalam Al-Qur’an adalah Tuhan yang berbeda, meski di sisi lain mereka mengakui bahwa Yahudi menyembah Tuhan yang sama dengan mereka, padahal Yahudi juga menolak trinitas.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa konflik sering kali bukan soal siapa Tuhan yang disembah, melainkan bagaimana Tuhan itu dipahami.


Jejak Politeisme dan Klaim Monoteisme
Menariknya, secara historis, nama Allah sudah dikenal sebelum Islam, bahkan di tengah masyarakat Arab yang politeistik. Nama ayah Nabi Muhammad sendiri, Abdullah (“hamba Allah”) menjadi bukti kuat.


Kritikus agama kerap menggunakan fakta ini untuk menyatakan bahwa konsep Allah hanyalah hasil evolusi dari sistem politeisme. Namun argumen serupa juga dapat diarahkan pada tradisi Yahudi dan Kristen, yang dalam sejarah awalnya berinteraksi dengan budaya dan kosmologi politeistik.


Dalam perspektif Islam, monoteisme adalah agama asli manusia sejak Adam. Penyimpangan menuju politeisme justru dianggap sebagai distorsi sejarah, yang kemudian diluruskan kembali oleh para nabi—terutama Ibrahim, figur sentral yang diakui oleh tiga agama besar dunia.


Tuhan: Wahyu atau Konstruksi Manusia?

Di sinilah perdebatan modern semakin tajam. Sebagian sejarawan dan pemikir kritis menilai bahwa konsep Tuhan adalah konstruksi sosial merupakan hasil proyeksi harapan, ketakutan, dan kepentingan manusia. Agama, dalam pandangan ini, menjadi alat identitas dan bahkan legitimasi kekuasaan.


Pandangan semacam ini menjelaskan mengapa perebutan atas nama “Allah” bisa menjadi isu politik, seperti larangan sebagian pihak terhadap umat Kristen di Malaysia untuk menggunakan kata tersebut. Ketakutan akan hilangnya dominasi agama kerap dibungkus dalam bahasa teologis.


Antara Iman dan Kekuasaan Tafsir

Pada akhirnya, perdebatan tentang Allah bukan hanya soal linguistik atau sejarah, melainkan soal otoritas tafsir. Apakah Tuhan adalah realitas transenden yang mewahyukan diri-Nya, atau konsep yang dibangun manusia untuk memberi makna pada dunia?


Bagi umat beriman, jawabannya jelas: Allah adalah Tuhan Yang Esa, bukan ciptaan pikiran manusia. Namun bagi dunia modern yang kritis, pertanyaan itu akan terus diajukan.


Dan di situlah garis pemisahnya: antara iman yang diyakini, dan tafsir yang diperdebatkan.


Pandangan Ulama Terkemuka Indonesia

Ulama-ulama terkemuka di Indonesia pada umumnya menegaskan bahwa perdebatan mengenai nama “Allah” tidak boleh dilepaskan dari konteks akidah Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus realitas kebangsaan yang majemuk.


Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata Allah bukanlah “milik eksklusif” satu komunitas bahasa atau budaya, melainkan sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa. Menurutnya, perbedaan mendasar bukan terletak pada nama, tetapi pada konsep ketuhanan. Islam menegaskan tauhid murni (Allah Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan) sementara agama lain memiliki konstruksi teologis yang berbeda.


Quraish Shihab juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an sendiri mengakui keberadaan dialog teologis dengan Ahli Kitab, bukan untuk menyeragamkan iman, tetapi untuk menegaskan posisi Islam secara jernih dan bermartabat.


Sementara itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan aspek etika dalam perbedaan iman. Ia berpendapat bahwa perdebatan tentang Tuhan kerap menjadi buntu ketika dibingkai dengan emosi dan klaim kebenaran sepihak. 


Menurut Gus Mus, tugas utama umat beragama bukan hanya “membela Tuhan” dalam polemik, melainkan menunjukkan akhlak ketuhanan dalam kehidupan sosial: kejujuran, kasih sayang, dan keadilan.


Dari kalangan Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin menegaskan bahwa Islam adalah kelanjutan risalah tauhid para nabi sebelumnya. 


Karena itu, secara teologis Islam mengakui akar monoteisme yang sama dengan Yahudi dan Kristen, namun tetap menolak konsep-konsep ketuhanan yang dianggap menyimpang dari tauhid murni. Ia mengingatkan bahwa dialog lintas agama harus berdiri di atas kejujuran teologis, bukan pencampuradukan akidah.


Adapun KH. Said Aqil Siradj (alm.), mantan Ketua Umum PBNU, berulang kali menekankan bahwa konflik atas nama Tuhan sering kali lebih dipicu oleh kepentingan politik dan identitas, bukan oleh ajaran agama itu sendiri. Menurutnya, tauhid yang benar justru melahirkan sikap rendah hati, bukan klaim superioritas.


Antara Ketegasan Akidah dan Kedewasaan Beragama

Pandangan para ulama Indonesia menunjukkan satu benang merah yaitu 
Islam menuntut ketegasan dalam akidah, namun juga kedewasaan dalam menyikapi perbedaan. Nama Allah tidak diperdebatkan untuk dimenangkan, melainkan dipahami untuk dimuliakan.


Dalam konteks Indonesia yang plural, ulama menegaskan bahwa iman tidak perlu dibentengi dengan ketakutan, tetapi dengan pemahaman. Tauhid tidak runtuh karena dialog, justru ia menjadi rapuh ketika dicampur dengan kebencian.


Pada akhirnya, bagi umat Islam, Allah bukan sekadar nama dalam perdebatan akademik atau politik identitas. Ia adalah Tuhan Yang Maha Esa merupakan tempat berserah, bukan alat untuk saling meniadakan.


***
Sumber: Wikipedia.