Notification

×

Iklan

Iklan

Antara Kesatria, Tanggung Jawab, dan Setia: Tafsir Filosofis di Balik Poligami dalam Islam

Jumat, 30 Januari 2026 | 19.02 WIB Last Updated 2026-01-30T12:03:42Z
Foto, ilustrasi.


Queensha.id - Edukasi Sosial,


Ungkapan “jiwa kesatria tak meninggalkan masalah” kembali ramai diperbincangkan. Kalimat ini sering disandingkan dengan pernyataan yang lebih provokatif: laki-laki ditakdirkan untuk tanggung jawab, bukan untuk setia. Bahkan ada yang melangkah lebih jauh jika laki-laki ditakdirkan setia pada satu perempuan, maka agama tak akan membuka ruang poligami.


Pernyataan ini memicu perdebatan panjang. Apakah kesetiaan memang bukan kodrat laki-laki? Atau justru tanggung jawab adalah bentuk kesetiaan yang paling hakiki?



Kesatria: Lari dari Masalah atau Menanggungnya?

Dalam filsafat klasik Nusantara, kesatria bukan sosok tanpa cela, melainkan pribadi yang tidak meninggalkan akibat dari pilihannya. Ia boleh mengambil keputusan berat, tetapi pantang bersembunyi dari konsekuensinya.


Dalam konteks ini, poligami kerap diposisikan sebagai ujian kesatria yaitu bukan soal berani mengambil lebih dari satu istri, tetapi berani memikul beban keadilan, nafkah, dan luka batin yang mengikutinya.


“Masalahnya bukan pada jumlah istri, tapi pada keberanian menanggung dampak,” ujar seorang pengamat budaya Jawa.


Setia: Emosi atau Tanggung Jawab?

Dalam pemahaman modern, setia sering dimaknai secara romantik: cinta eksklusif, perhatian utuh, dan kesatuan emosi.


Namun dalam perspektif sosial dan agama, setia juga bisa dimaknai sebagai konsistensi tanggung jawab tidak meninggalkan perempuan dan anak-anak dalam keadaan terlantar.


Di sinilah benturan terjadi. Sebagian pihak menilai, poligami bukan pengkhianatan setia, melainkan bentuk lain dari kesetiaan sosial: tidak lepas tangan terhadap perempuan yang berada dalam kondisi sulit.


Namun benarkah demikian?

Pandangan Ulama: Bukan Soal Boleh, Tapi Mampu


Ulama terkemuka Indonesia Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa Islam tidak pernah mendorong poligami sebagai norma ideal.


“Poligami bukan perintah, bukan anjuran. Ia adalah pintu darurat dengan syarat yang sangat berat. Bahkan Al-Qur’an mengingatkan, keadilan itu hampir mustahil,” tulisnya dalam tafsir Al-Mishbah.


Menurut Quraish Shihab, ayat tentang poligami justru lebih banyak berbicara soal pembatasan, bukan pembenaran hasrat. Setia dalam Islam tidak semata soal jumlah pasangan, tetapi tentang tidak zalim.


Senada dengan itu, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menekankan bahwa tanggung jawab tanpa empati hanyalah kekuasaan yang dibungkus dalil.


“Kalau hanya merasa mampu memberi nafkah, tapi tidak mampu menjaga perasaan, itu belum tentu adil. Dan kalau tidak adil, lebih baik satu,” ujarnya.


Aa Gym menambahkan, kesatria sejati bukan yang paling berani mengambil pilihan ekstrem, melainkan yang paling jujur mengukur kemampuan dirinya.


Filosofi yang Kerap Terlupakan

Pernyataan “agama mengizinkan poligami karena laki-laki tidak ditakdirkan setia” dinilai banyak ulama sebagai penyederhanaan berbahaya. Islam justru menjadikan kesetiaan pada amanah sebagai inti akhlak.


Agama memberi ruang poligami bukan karena meragukan kesetiaan laki-laki, tetapi karena realitas sosial manusia tidak selalu ideal. Namun ruang itu dibatasi oleh syarat keadilan yang, menurut Al-Qur’an sendiri, hampir mustahil dipenuhi secara batin.


Kesatria dalam Timbangan Nurani

Pada akhirnya, filosofi kesatria dalam Islam bukan soal jumlah perempuan yang mampu dinafkahi, melainkan berapa banyak kezaliman yang berhasil dihindari.
Setia bukan hanya soal satu nama dalam akad, tetapi tentang:

1. Tidak meninggalkan luka tanpa tanggung jawab,

2. Tidak menggunakan dalil untuk menutupi ego,

3. Tidak menjadikan agama tameng bagi ketidakjujuran diri.


Agama memberi pilihan, tetapi nurani yang matang akan bertanya lebih dulu yaitu 
apakah aku benar-benar mampu adil, atau hanya sedang mencari pembenaran?
Di situlah letak ujian kesatria yang sesungguhnya.


***