Notification

×

Iklan

Iklan

Bahasa Kawi yang Terlupakan: Ketika Kata-Kata Leluhur Menjadi Penjaga Identitas Bangsa

Senin, 19 Januari 2026 | 19.54 WIB Last Updated 2026-01-19T12:56:18Z
Foto, tangkap layar dari tulisan bahasa Kawi.


Queensha.id - Jakarta,


Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa populer modern, bahasa Jawa Kawi yang merupakan bahasa tua yang sarat makna filosofis kini perlahan memudar dari kesadaran publik. 


Padahal, di dalam setiap katanya tersimpan pandangan hidup, etika, hingga kosmologi leluhur Nusantara yang membentuk peradaban Jawa berabad-abad lamanya.


Diketahui, bahasa Kawi merupakan sebutan lain untuk Bahasa Jawa Kuno, bahasa Austronesia yang menjadi fase tertua Bahasa Jawa dan digunakan pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa (abad ke-8 hingga ke-15) untuk sastra, keagamaan, dan pengetahuan, merupakan campuran Sanskerta dan Jawa Kuno dengan tata bahasa yang berbeda, serta masih hidup dalam pertunjukan wayang dan tradisi Jawa modern. Kata "Kawi" berasal dari bahasa Sanskerta kavya yang berarti puisi atau syair, menunjukkan fungsinya sebagai bahasa pujangga atau penyair.
 


Namun, bahasa Kawi bukan sekadar bahasa sastra atau ritual. Ia adalah bahasa makna, tempat kata tidak hanya menyebut benda, tetapi menanamkan nilai. Agni bukan sekadar api, melainkan simbol energi dan pemurnian. Atma bukan hanya jiwa, tetapi inti kehidupan. Dharma bukan sekadar kebaikan, melainkan jalan lurus yang menjaga keseimbangan semesta.


Kata sebagai Filsafat Hidup

Daftar kosakata Kawi seperti Bayu (angin), Candra (bulan), Surya (matahari), Tirta (air suci), hingga Tri Loka (tiga alam), menunjukkan bahwa bahasa ini tumbuh dari relasi manusia dengan alam dan Yang Ilahi. Dalam Kawi, manusia (Nara) hidup di Bhuana (dunia), terikat Kala (waktu), menjalani Samsara (lingkar kehidupan), dengan harapan mencapai Swarga melalui Dharma dan Satya.


Menurut Prof. Dr. Suyanto, pengamat sosial dan budaya, bahasa Kawi mencerminkan masyarakat yang berpikir holistik.


“Bahasa Kawi tidak memisahkan manusia dari alam, kekuasaan dari etika, atau ilmu dari spiritualitas. Semua terhubung,” ujarnya, dikutip dari berbagai sumber, Senin (19/1/2026).


Ia menilai hilangnya pemahaman terhadap bahasa Kawi bukan sekadar kehilangan kosakata, tetapi kehilangan cara berpikir.


Dari Bahasa Kekuasaan ke Bahasa Kesadaran

Dalam sejarahnya, Kawi digunakan di lingkungan keraton, sastra kakawin, dan upacara sakral. Kata-kata seperti Aji, Prabu, Narendra, Adipati, dan Manggala bukan sekadar gelar, tetapi mengandung tuntutan moral: pemimpin harus memiliki Wibawa, Tejas, dan Kerti—karya nyata bagi rakyat.


“Dulu, pemimpin dinilai dari dharma-nya. Sekarang, bahasa politik kita miskin nilai, kaya slogan,” kata Dr. Rocky Prabowo, sosiolog Universitas Indonesia.


Ia menilai kosakata Kawi seperti Adhimukti (tekad kuat), Ksama (memaafkan), dan Parartha (kebaikan bersama) justru relevan di tengah krisis kepemimpinan dan polarisasi sosial saat ini.


Bahasa Jiwa yang Digantikan Bahasa Kecepatan

Bahasa Kawi juga kaya kata batin: Manah, Nala, Sukma, Rasa, Wening. Kata-kata ini menandakan masyarakat yang memberi ruang pada perenungan. Bandingkan dengan bahasa media sosial hari ini yang serba singkat, reaktif, dan emosional.


“Ketika bahasa menjadi dangkal, cara berpikir ikut dangkal,” tegas Prof. Suyanto.


Ia menyebut fenomena ini sebagai krisis semantik, di mana manusia kehilangan kata untuk menjelaskan kedalaman perasaan dan makna hidup.


Masih Relevankah Bahasa Kawi?

Meski tak lagi digunakan dalam percakapan sehari-hari, bahasa Kawi tetap hidup dalam nama, mantra, tembang, dan filosofi Jawa. Nama seperti Kirana, Arya, Wira, Ratna, atau Nirmala masih dipakai hingga sering tanpa disadari maknanya.


Pengamat budaya menilai revitalisasi bahasa Kawi tidak harus menjadikannya bahasa komunikasi harian, tetapi bahasa kesadaran: diajarkan di sekolah, dihidupkan dalam sastra, dan dipahami maknanya.


“Bangsa besar bukan hanya yang menguasai teknologi, tetapi yang memahami akar maknanya sendiri,” ujar Dr. Rocky Prabowo.


Di tengah dunia yang bising dan serba cepat, bahasa Kawi mengajarkan satu hal penting: hidup bukan sekadar bergerak, tetapi memahami arah. Dan mungkin, justru dari kata-kata lama itulah, bangsa ini bisa kembali menemukan jati dirinya.


***
Tim Redaksi.