| Foto, anggota Paguyuban Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) untuk Desa Mambak, kecamatan Pakisaji, Jepara. |
Queensha.id - Jepara,
Sabtu malam (24/1/2026), Balai Desa Mambak, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, menjelma lebih dari sekadar ruang pertemuan desa. Bangunan sederhana itu menjadi saksi bisu sebuah perjuangan sunyi yakni perjuangan yang lahir dari loyalitas, keikhlasan, dan rasa tanggung jawab para anggota Paguyuban Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) Kabupaten Jepara.
Tanpa sorotan kamera, tanpa fasilitas mewah, bahkan tanpa sokongan anggaran negara, perwakilan Satlinmas dari berbagai kecamatan di Jepara bertahan hingga dini hari. Mereka duduk sejajar, berdiskusi panjang, terkadang keras, namun tetap sarat harapan.
Satu tujuan besar dirumuskan bersama yaitu memperjuangkan hak dan masa depan sekitar 7.000 anggota Linmas se-Kabupaten Jepara yang selama ini kerap luput dari perhatian kebijakan.
“Kami bukan pemangku kebijakan yang terhormat, kami tidak duduk di kursi kekuasaan. Tapi malam ini kami membuktikan, kami juga mampu merumuskan kebijakan internal yang berpihak pada anggota,” ujar Abdul Rosyid, salah satu peserta rapat, dengan nada tegas namun penuh kegetiran, Sabtu (24/1/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar kalimat retoris. Ia adalah jeritan nurani dari barisan pengabdian yang selama ini berada di garis terdepan yakni mengamankan desa, pemilu, penanganan bencana, hingga kegiatan sosial namun sering kali berada di barisan paling belakang ketika berbicara soal kesejahteraan.
Rapat panjang tersebut melahirkan kesepakatan penting: komitmen membangun kekuatan organisasi secara mandiri. Salah satu langkah konkret yang disepakati adalah iuran anggota sebesar Rp10.000 per orang per tahun. Nominal yang kecil secara angka, tetapi besar secara makna atau simbol kemandirian, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif.
“Iuran ini bukan beban, tapi investasi kebersamaan. Manfaatnya akan kembali untuk kita semua,” tegas Ngasiran, delegasi dari Kecamatan Kembang.
Lebih dari sekadar rapat rutin, malam itu menjadi tonggak sejarah bagi Satlinmas Jepara. Sejarah bahwa mereka mampu berdiri tegak dengan kaki sendiri. Bahwa kebijakan tidak selalu lahir dari ruang berpendingin udara dan meja anggaran, melainkan bisa tumbuh dari lantai balai desa, dari kopi yang mulai dingin, dan dari tekad yang tak pernah padam.
Para peserta berharap, semangat yang menyala di Balai Desa Mambak mampu menjalar ke seluruh Linmas di Jepara. Sebuah pengingat bahwa perubahan tidak datang dari belas kasih, melainkan diperjuangkan bersama, dari bawah, dengan martabat.
“Bersama kita bisa,” menjadi kalimat penutup yang menggema malam itu yaitu pesan sederhana namun kuat. Sebab bagi Satlinmas Jepara, dukungan dan peran serta seluruh anggota adalah kunci menuju masa depan yang lebih bermartabat dan berkeadilan.
***
Wartawan: Aris BS.