Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Takdir dari Sekadar Pasangan: Ketika Ego Diam-diam Menjadi Penyebab Perceraian

Selasa, 27 Januari 2026 | 18.00 WIB Last Updated 2026-01-27T11:01:29Z
Foto, ilustrasi keributan dalam rumah tangga yang berakibat perceraian.




“Yang bikin cerai itu pasanganmu atau egomu?”

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi menghantam tepat di jantung persoalan rumah tangga modern. Di balik angka perceraian yang terus meningkat, jarang ada yang benar-benar berani bercermin: apakah konflik ini murni karena pasangan, atau karena ego yang tak mau mengalah?


Fakta di lapangan menunjukkan, alasan perceraian hampir selalu punya dua versi-versi suami dan versi istri. Keduanya merasa benar, keduanya merasa paling terluka.


Versi Suami: Lelah yang Tak Pernah Didengar

Dari sisi suami, perceraian sering berangkat dari kelelahan yang dipendam terlalu lama.


Banyak suami merasa:

1. Tidak dihargai, seolah kerja keras dan pengorbanannya dianggap biasa.

2. Ditekan secara ekonomi, bukan soal jumlah, tapi tuntutan tanpa empati pada proses.

3. Dikontrol berlebihan, kehilangan ruang pribadi, dicurigai tanpa sebab.

4. Lelah mental, namun memilih diam karena bicara dianggap tak berguna.
Tersingkir di rumah sendiri, kalah posisi oleh mertua atau keluarga istri.



Sementara itu, dalam pandangan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), banyak suami gagal mengungkapkan perasaan dengan cara yang sehat. Diam yang dipelihara akhirnya berubah menjadi jarak, lalu dingin, lalu pergi.


“Masalah rumah tangga bukan karena tidak cinta, tapi karena tidak jujur pada perasaan,” ujar Aa Gym dalam salah satu kajiannya.


Versi Istri: Luka yang Terasa Sendirian

Sementara dari sisi istri, perceraian sering lahir dari rasa ditinggalkan secara emosional, meski suami masih ada secara fisik.


Istri kerap merasa:

1. Kurang diperhatikan dan tidak didengar, komunikasi terasa satu arah.

2. Nafkah tak jelas, bukan besar kecilnya, tapi tanggung jawab yang kabur.

3. Terluka oleh kekerasan verbal, bentakan dan kata meremehkan yang membekas lama.


Dikhianati, baik secara fisik maupun emosional yang sering diawali dengan “cuma teman”.


Berjuang sendirian, mengurus anak, rumah, dan emosi tanpa pasangan yang hadir.


Quraish Shihab menegaskan bahwa dalam Islam, suami bukan hanya pencari nafkah, tetapi penjaga ketenangan jiwa istri.
“Sakinah bukan soal materi, tapi rasa aman dan dihargai,” tegasnya.


Pandangan Ulama: Ego Lebih Berbahaya dari Masalah

Para ulama sepakat, banyak rumah tangga runtuh bukan karena masalahnya besar, tapi karena egonya terlalu tinggi.


Buya Hamka dalam Tasawuf Modern menyebut bahwa ego adalah penyakit halus dalam rumah tangga. Saat suami ingin selalu dimengerti, dan istri ingin selalu dibenarkan, maka yang lahir bukan musyawarah, melainkan pertarungan.
Islam tidak memihak salah satu gender.


Yang dikecam adalah suami yang lalai tanggung jawab, istri yang mengabaikan adab dan keduanya yang enggan menurunkan ego.


Buya Yahya bahkan mengingatkan, “Banyak orang ingin rumah tangganya bahagia, tapi tidak mau belajar merendahkan diri," pesannya.


Cerai Boleh, Tapi Bukan Jalan Pintas Ego

Islam tidak mengharamkan perceraian, namun menjadikannya jalan terakhir setelah ikhtiar, komunikasi, dan introspeksi. Perceraian yang lahir dari ego tapi bukan dari ikhtiar yang jujur yang sering menyisakan penyesalan panjang, terutama bagi anak.


Pesan inti yang sering diingatkan para ulama Indonesia jelas yaitu rumah tangga tidak hancur karena satu pihak buruk, tapi karena dua pihak sama-sama berhenti memperbaiki diri.


Sebelum bertanya “siapa yang salah”, mungkin pertanyaan paling jujur adalah:
sudah sejauh apa kita menurunkan ego demi keutuhan?


Karena sering kali, yang membuat cerai bukan pasangan kita tapi melainkan ego yang tak pernah mau mengalah.


***
Tim Redaksi.