| Foto, tiga korban dari penipuan berkedok (CINTA). |
Mereka bukan hanya kehilangan uang. Yang lebih menyakitkan, rasa percaya ke orang lain bahkan pada diri sendiri yang kini ikut runtuh. Penipuan berkedok cinta telah memperdaya para korban mentah-mentah, meninggalkan trauma panjang yang tak mudah disembuhkan.
Rasa bersalah dan takut diolok-olok lingkungan sekitar membuat para korban memilih diam. Banyak yang menutup diri, menarik diri dari pergaulan, dan skeptis terhadap siapa pun termasuk jurnalis. Tak sedikit yang merasa kebodohan terbesar dalam hidup mereka bukan kehilangan uang, melainkan terlalu percaya pada kata “cinta”.
Pada Minggu (17/3/2022), tiga korban penipuan cinta palsu melapor ke Polres Kediri Kota, Jawa Timur. Mereka mengaku tertipu oleh seorang pria bernama Faris Ahmad Faza (31), yang dikenal melalui aplikasi Tinder dan Line.
Modusnya klasik, tetapi efektif: pendekatan intens, janji masa depan, lalu permintaan bantuan keuangan yang berujung jeratan pinjaman daring (pinjol).
Kerugian mereka bukan ratusan ribu, melainkan puluhan juta rupiah—utang yang harus ditanggung sendirian setelah pelaku menghilang.
Tumpukan bukti transaksi, tangkapan layar percakapan, hingga catatan pinjaman daring mereka bawa bersama saat melapor. Namun di balik map-map itu, tersimpan rasa malu dan amarah yang bercampur aduk.
Trauma yang Membuat Korban Tak Percaya Siapa Pun
WT, salah satu korban, bahkan membutuhkan waktu panjang untuk bersedia berbicara. Ketika akhirnya bertemu di sebuah pusat perbelanjaan di Semarang, ia datang sendiri, membawa map plastik dan ponsel yakni dua benda yang kini menjadi saksi pahit hidupnya.
Cerita serupa dialami AM, korban lain yang awalnya bersedia diwawancarai, tetapi mendadak membatalkan pertemuan.
“Saya belum siap,” katanya singkat. Keputusan itu dipahami karena bagi korban, membuka luka lama berarti mengulang rasa sakit.
Bahkan untuk memastikan wawancara aman, beberapa korban meminta verifikasi ketat: kartu pers, video call, hingga pencocokan identitas. Kepercayaan mereka telah dihancurkan terlalu dalam.
Korban Bertemu Korban, Air Mata Tak Terbendung
Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sembilan korban lain ditemui. Mereka akhirnya dipertemukan dalam ruang aman yaitu (sesama korban) yang awalnya diwarnai kecurigaan, lalu berubah menjadi tangis kolektif.
Dalam satu pertemuan di Kediri, seorang korban berinisial TR yang sempat dituding sebagai “kaki tangan” penipu, akhirnya buka suara. Obrolan berubah menjadi luapan emosi. Tangis pecah. Kalimat yang berulang terdengar: “Kenapa aku sebodoh itu?” “Kenapa aku bisa percaya?”
Di antara mereka ada LL, mahasiswi fakultas hukum. Tabungannya habis, orangtuanya belum tahu, dan pinjol terus menagih. Ia terjebak di persimpangan: jujur dan memperburuk kondisi keluarga, atau diam dan menanggung beban sendiri.
Penipuan Cinta: Kejahatan Emosional yang Nyata
Kasus lain mencatat kerugian lebih besar. Rk (43), perempuan asal Bekasi, mengaku kehilangan sekitar Rp350 juta akibat penipuan cinta. Ada pula korban dari jejaring media sosial lain, dengan pelaku berbeda namun pola serupa: manipulasi emosi, isolasi korban, lalu eksploitasi finansial.
Penipuan cinta bukan sekadar kejahatan siber. Ia adalah kejahatan emosional yang dampaknya jauh melampaui angka kerugian materi. Korban kehilangan rasa aman, harga diri, dan keberanian untuk percaya kembali.
Bersuara agar Tak Ada Korban Berikutnya
Sebagian korban akhirnya melapor ke polisi. Sebagian lain masih bergulat dengan trauma.
Namun satu harapan yang sama mereka pegang: agar pengalaman pahit ini tak terulang pada orang lain.
Di era digital, cinta bisa datang dari layar tetapi penipuan juga menyamar di sana. Kisah-kisah ini menjadi pengingat keras: rayuan manis di dunia maya bisa berujung pahit di dunia nyata.
Mereka yang bersuara hari ini bukan mencari iba. Mereka berjuang agar tak ada lagi cinta palsu yang merampas masa depan orang lain.
***
Sumber: Kompas.id