Di tengah kehidupan sosial masyarakat Indonesia, status duda dan janda masih menjadi label yang sarat stigma. Meski sama-sama kehilangan pasangan (baik karena cerai maupun kematian) karena cara masyarakat memandang keduanya kerap timpang dan tidak adil. Duda sering dianggap “masih punya masa depan”, sementara janda acap kali diposisikan sebagai beban sosial.
Fenomena ini bukan sekadar gosip warung kopi, melainkan realitas sosial yang hidup dan memengaruhi peluang hidup, jodoh, bahkan martabat seseorang.
Bagaimana Masyarakat Menilai Seorang Duda
Dalam persepsi umum, duda sering dipandang lebih “netral” atau bahkan positif. Seorang duda kerap dianggap:
1. Lebih matang dan berpengalaman dalam rumah tangga.
2. Masih layak menikah kembali tanpa banyak pertanyaan.
3. Dianggap korban keadaan, bukan penyebab kegagalan rumah tangga.
4. Jika mapan secara ekonomi, justru dinilai semakin “bernilai”.
Tak jarang, duda beranak pun tetap diminati perempuan lajang, terutama jika ia stabil secara finansial dan sosial.
Bagaimana Masyarakat Menilai Seorang Janda
Berbeda jauh, janda sering menghadapi penilaian berlapis:
1. Dicurigai sebagai penyebab perceraian
Dicap “rawan godaan” atau “berbahaya” bagi rumah tangga orang lain.
2. Dinilai membawa beban, terutama jika memiliki anak.
3. Kehidupannya sering dijadikan bahan gosip dan penghakiman.
Label sosial ini membuat banyak janda merasa harus bekerja dua kali lebih keras untuk bertahan hidup dan menjaga harga diri.
Lebih Mudah Cari Jodoh: Duda atau Janda?
Secara sosial, duda jauh lebih mudah mendapatkan pasangan dibanding janda. Bahkan duda beranak kerap masih dianggap “wajar” dan “layak”. Sebaliknya, janda (terutama yang memiliki anak) sering kali tersisih dalam pasar jodoh sosial.
Ini bukan karena perbedaan nilai moral, melainkan karena konstruksi budaya patriarkal yang masih kuat.
Mengapa Janda Beranak Kurang Diminati Bujangan? Faktor Ekonomi dan Psikologis
Ada beberapa faktor utama:
1. Beban ekonomi: Bujangan sering takut harus menanggung anak yang bukan darah dagingnya.
2. Tanggung jawab sosial: Menikahi janda beranak berarti menerima masa lalu, termasuk mantan pasangan dan konflik lama.
3. Tekanan keluarga: Banyak orang tua masih enggan menerima menantu janda beranak.
Sebaliknya, duda beranak sering dianggap “kepala keluarga yang gagal sementara”, bukan “beban”.
Janda Cantik Kaya Raya Tapi Beranak, Mengapa Tetap Dihindari?
Menariknya, meski cantik dan mapan, janda dengan banyak anak sering tetap dihindari lelaki baik bujangan maupun duda. Alasannya bukan pada ekonomi, melainkan:
1. Rasa minder: Lelaki takut tak mampu “mengontrol” atau “menjadi pemimpin”.
2. Ego maskulin: Kekayaan perempuan dianggap mengancam posisi laki-laki.
3. Kompleksitas peran: Banyak anak berarti banyak ikatan emosional yang harus diterima.
Sebaliknya, Mengapa Duda Kaya Raya Beranak Tetap Laris?
Karena norma sosial masih memposisikan laki-laki sebagai:
1. Pencari nafkah utama.
2. Pemimpin rumah tangga.
3. Sosok yang “boleh punya masa lalu”.
Kekayaan duda justru menutupi status duda itu sendiri. Anak dianggap bagian dari tanggung jawab, bukan penghalang.
Jika Janda Cantik Tanpa Beban, Mengapa Banyak yang Minat?
Karena stigma “beban” menghilang. Ketika janda cantik tidak membawa tanggungan anak, masyarakat yang terutama laki-laki—melihatnya hampir setara dengan perempuan lajang, meski tetap disertai bisik-bisik moral.
Apa Beratnya Menjadi Janda Beranak?
Menjadi janda beranak berarti:
1. Menjadi ibu dan ayah sekaligus.
2. Menanggung stigma sosial tanpa perlindungan emosional.
3. Bertahan di tengah tekanan ekonomi dan penghakiman moral.
4. Sering disalahkan atas keadaan yang tak sepenuhnya ia pilih.
Apa Beratnya Menjadi Duda Beranak?
Duda beranak juga menghadapi tantangan yaitu:
1. Kesepian dan kehilangan peran pasangan.
2. Tekanan mengasuh anak jika tanpa dukungan keluarga.
3. Konflik batin antara bekerja dan mengasuh.
Namun secara sosial, beban duda lebih sering dipahami, bukan diadili.
Pandangan Pengamat Sosial Jepara, Purnomo Wardoyo
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena ini sebagai cermin ketimpangan budaya.
“Masyarakat kita masih memberi toleransi luas kepada laki-laki, tapi sangat keras kepada perempuan. Janda beranak dihukum dua kali yaitu karena statusnya dan karena anaknya. Padahal, merekalah yang paling berjuang menjaga generasi,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, stigma ini berbahaya karena mendorong perempuan menyembunyikan status atau bertahan dalam rumah tangga tidak sehat demi citra sosial.
Pandangan Ulama Terkemuka di Indonesia
Sejumlah ulama menegaskan bahwa Islam tidak membedakan kemuliaan duda dan janda. Rasulullah SAW sendiri menikahi janda dan memuliakan mereka.
Dalam banyak ceramah, ulama menekankan:
1. Janda beranak justru memiliki keutamaan karena mengasuh anak sendirian.
2. Menikahi janda adalah amal sosial dan ibadah.
3. Menghina janda atau duda adalah bentuk kezaliman sosial.
Islam memandang seseorang dari akhlak dan tanggung jawabnya, bukan status masa lalunya.
Saatnya Masyarakat Berkaca
Duda dan janda sama-sama manusia yang pernah terluka. Namun ketika masyarakat hanya memeluk yang satu dan menghakimi yang lain, ketidakadilan itu menjadi luka kolektif.
Mungkin bukan duda atau jandanya yang bermasalah melainkan cara kita menilai dan memperlakukan mereka.
***
Tim Redaksi.