Queensha.id — Jepara,
Panggung dangdut yang seharusnya menjadi ruang hiburan rakyat kembali tercoreng darah. Di Bumi Kartini, musik yang mestinya menghadirkan kegembiraan justru berulang kali berubah menjadi saksi bisu kekerasan brutal antar manusia.
Pada Minggu (25/1/2026), jagat media sosial Jepara diguncang kabar meninggalnya Ary Saputra, remaja asal Desa Tulakan Ndrojo, Kecamatan Donorojo, Jepara. Ary, yang sehari-hari bekerja sebagai kru sound system, meregang nyawa usai menjadi korban pengeroyokan brutal setelah pentas dangdut Camelia di Desa Guyangan, Kecamatan Bangsri, Sabtu malam.
Tragedi ini menambah daftar panjang korban jiwa yang jatuh akibat budaya kekerasan yang kerap menyertai hajatan orkes dangdut di Jepara di mulai dari keributan di lokasi pentas, aksi “cegat-cegatan” di jalan, hingga pengeroyokan yang berakhir maut.
Pola Kekerasan yang Terus Berulang
Kematian Ary Saputra seolah membuka kembali luka lama yang belum sempat sembuh. Publik masih mengingat jelas kasus serupa yang merenggut nyawa M. Rangga Alan Saputra usai pentas orkes di wilayah Kecamatan Kembang. Dalam peristiwa itu, polisi bahkan harus mengamankan sejumlah pelaku pengeroyokan.
Rentetan peristiwa tersebut menunjukkan satu pola yang nyaris identik: keributan kecil yang dibiarkan membesar, adu gengsi antar kelompok, aksi sok jagoan di depan panggung, lalu cegat-cegatan di jalan raya yang berujung pengeroyokan massal.
Jika pola ini terus dibiarkan, hiburan rakyat tak ubahnya menjadi arena pertaruhan nyawa, terutama bagi anak-anak muda yang terjebak dalam euforia dan emosi sesaat.
Kronologi Tragis Ary Saputra
Sabtu malam (24/1/2026)
Keributan pecah di lokasi pentas dangdut. Ary menjadi korban pengeroyokan dan mengalami luka serius.
Minggu pagi (25/1/2026)
Setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Kartini Jepara, nyawa Ary tak tertolong.
Minggu siang (10.21 WIB)
Tangis keluarga dan kerabat mengiringi pemakaman Ary di Desa Tulakan Ndrojo.
Desakan Evaluasi Total Izin Keramaian
Kematian demi kematian akibat kekerasan di balik panggung hiburan memicu kemarahan publik.
Warga Jepara kini mendesak aparat kepolisian dan pemerintah daerah untuk tidak hanya berhenti pada penangkapan pelaku, tetapi juga melakukan evaluasi total terhadap izin keramaian dan sistem pengamanan pentas musik.
Jangan sampai niat masyarakat mencari hiburan justru berakhir dengan “ndadak tahlilan”. Jika budaya pengeroyokan, cegat-cegatan, dan aksi sok jagoan terus dibiarkan, maka panggung orkes dangdut di Jepara tak lagi membawa kegembiraan melainkan hanya meninggalkan nisan, air mata, dan trauma berkepanjangan bagi keluarga korban.
***
SJ/Tim Redaksi.