Queensha.id - Kudus,
Nama rokok Sukun kini lekat dengan Kudus, Jawa Tengah kota yang sejak lama dikenal sebagai jantung industri kretek nasional. Namun di balik merek besar itu, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, disiplin, dan keberanian seorang anak desa bernama Mochamad Wartono.
Lahir pada 1920 di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog (kini sering ditulis Gebog/Gobog), Kabupaten Kudus, Mochamad Wartono berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Singo Sarpani, adalah petani sekaligus lurah desa, sementara ibunya, Paijah, mendidik enam anak dengan nilai kerja keras. Wartono kecil sempat mengenyam pendidikan di Vervolk School dan sekolah dagang di daerahnya—bekal penting yang kelak membentuk naluri bisnisnya.
Awal Mula: Ketelitian Seorang Kasir Rokok
Cikal bakal lahirnya rokok Sukun berawal dari pekerjaan Wartono sebagai pembantu kakaknya, Kamad, yang bekerja sebagai kasir di perusahaan rokok milik Hj. Moeslich. Di sanalah Wartono muda belajar menghitung upah karyawan, mencatat bahan baku, dan memahami alur produksi rokok. Ketelitian itu menumbuhkan satu tekad: mendirikan usaha rokok sendiri.
Tekad itu terwujud pada 1947, ketika Wartono mendirikan pabrik rokok skala kecil di Desa Gondosari. Dengan karyawan hanya 6 hingga 10 orang, ia memproduksi rokok klobot (bungkus jagung) dan sigaret bermerek “Siyem.” Tiga tahun berselang, tepatnya 1950, lahirlah merek yang kelak melegenda yaitu Sukun.
Sukun Melaju, Usaha Melebar
Peluncuran rokok Sukun menjadi titik balik. Pertumbuhan permukiman di sekitar rumah dan pabrik Wartono ikut mendorong permintaan. Pada 1960, ia membangun gedung pabrik dua lantai sebagai pusat produksi. Dari usaha rumahan, Sukun bertransformasi menjadi industri yang kian mapan.
Tak berhenti di rokok, keluarga Wartono berani melakukan diversifikasi. CV Sukuntex dirintis dari kegemaran sang istri, Sutarsi, yang menekuni kerajinan Tenun Gedog merupakan selendang toh watu pelengkap busana adat Kudus. Usaha yang awalnya home industry itu resmi berdiri pada 23 Juli 1969, lalu meningkat statusnya menjadi PT Sukuntex pada 16 September 1971, memproduksi kain mori, kain greige, dan benang.
Di sektor percetakan, keluarga Wartono mendirikan Percetakan Sukun pada 1965 untuk melayani kebutuhan internal perusahaan. Pada 1978, nama itu berubah menjadi PT Sukun Druck, yang memproduksi kalender, poster, brosur, majalah, hingga kardus kemasan. Bahkan lini jasa logistik pun dikembangkan melalui PT Sukun Transport Logistik.
Warisan Nilai dan Regenerasi
Dalam keluarga, Wartono dikenal menanamkan disiplin dan tanggung jawab. Ia menyiapkan anak-anaknya untuk melanjutkan estafet usaha. Putri sulungnya, Sri Fatimah Wartono, mengelola PR Siyem; Annie Wartono menangani PR Langsep; sementara Tasan Wartono dipercaya memimpin PR Sukun. Regenerasi ini menjadi kunci kesinambungan bisnis keluarga.
Akhir Perjalanan, Awal Legenda
Mochamad Wartono wafat pada 20 Februari 1973. Tongkat estafet usaha diteruskan oleh Tasan Wartono bersama adik-adiknya yaitu Ridho, Yusuf, dan Edy Wartono. Sejak itu, Sukun terus berkembang menjadi salah satu pilar industri kretek nasional, dengan unit usaha yang mencakup rokok, tekstil, percetakan, hingga logistik.
Dari rokok klobot berbungkus jagung hingga jaringan industri yang terintegrasi, kisah Sukun adalah potret ketekunan anak desa Kudus yang menjelma legenda. Sebuah cerita tentang bagaimana ketelitian, keberanian mengambil peluang, dan disiplin keluarga mampu membangun warisan bisnis lintas generasi.
-Kudus, 20 Februari 1973-.
***
Tim Redaksi.