Notification

×

Iklan

Iklan

Di Bawah Lereng Merapi, Kesetiaan Seorang Istri Hancur oleh Kebohongan Suami

Rabu, 21 Januari 2026 | 09.30 WIB Last Updated 2026-01-21T02:43:21Z
Foto, seorang istri yang sabar bernama Utami dan suaminya Irfan.




Di sebuah perkampungan tenang di bawah lereng Gunung Merapi, hidup seorang perempuan bernama Utami Setiawati seorang istri yang belum memiliki keturunan. Warga sekitar mengenalnya sebagai istri paling sabar di lingkungan itu. Selama hampir setahun, ia merawat suaminya yang dikabarkan lumpuh akibat kecelakaan kerja.


Setiap pagi, udara dingin Merapi menyelimuti rumah kecil mereka. Dan setiap pagi pula, Utami memulai hari dengan rutinitas yang sama yaitu memandikan, menyuapi, dan menemani suaminya yaitu Irfan Kurniawan yang terbaring lemah di kamar.


Namun, di balik ketenangan desa yang terlihat damai, sebuah kebohongan besar tumbuh perlahan.


Bisik-bisik di Warung Lereng Merapi

Kecurigaan itu muncul di warung kecil langganan warga, tempat Utami membeli bumbu masak. Seorang tetangga mengaku melihat Irfan duduk santai di sebuah kafe bersama perempuan lain. Utami menepis kabar itu. Baginya, Irfan bahkan belum bisa berjalan.


“Suami saya selalu di rumah,” ucapnya Utami yakin.


Dan memang, sore itu di Magelang yang berkabut tipis, Utami mendapati Irfan terbaring di tempat tidur seperti biasa. Keyakinannya kembali utuh. Ia menyesali prasangka yang sempat muncul di hatinya.
Ia memeluk Irfan, mengangkat tubuhnya yang berat, lalu memasak sup sederhana yang merupakan makanan favorit sang suami.


Kemiskinan yang Disembunyikan oleh Kesetiaan

Di balik pengabdian itu, Utami diam-diam menghitung sisa uang belanja yaitu tujuh puluh tiga ribu rupiah. Upah menulis lepasnya baru cair dua hari lagi. Perhiasan telah lama habis terjual demi biaya pengobatan.


Di desa bawah Merapi itu, kesetiaan Utami menjadi cerita yang dikagumi warga. Tak banyak yang tahu, betapa sunyinya hidup yang ia jalani.


Tas Hitam di Kamar Sempit

Sore yang dingin, saat Irfan tertidur, Utami membereskan barang-barang lama. Daster robek, kertas bekas, dan tempat perhiasan kosong. Hingga tangannya menemukan sebuah tas hitam asing.


Di dalamnya, sebuah ponsel. Bukan miliknya. Bukan pula milik Irfan yang ia kenal.


Sebelum sempat berpikir lebih jauh, sebuah suara membuat tubuhnya membeku.


“Utami, kamu sedang apa?”
Ia menoleh.


Irfan berdiri di ambang pintu kamar yang tegap, tanpa alat bantu, tanpa goyah.


Di bawah atap rumah sederhana di lereng Merapi itu, ternyata ada kebohongan selama setahun membuat hati Utami runtuh seketika.


Pengkhianatan di Tanah yang Dikenal Tenang

Bukan hanya perselingkuhan yang ternyata benar dari apa yang diketahui oleh para tetangga yang telah menghancurkan Utami. 

Tapi yang paling menyakitkan adalah kepura-puraan. Ia telah mengorbankan hidupnya untuk seseorang yang memilih berpura-pura lumpuh demi kenyamanan.


Tangis Utami pecah, lirih dan dalam.
“Aku capek, Mas… capek dibohongi,” ucapnya.


Irfan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tak mampu berdiri bukan karena lumpuh, tetapi karena rasa bersalah.


Perempuan yang Pergi dari Lereng Merapi

Malam itu, Utami pergi meninggalkan rumah di bawah lereng Gunung Merapi. Ia tidak membawa apa-apa selain luka dan kelelahan yang tak lagi sanggup ia simpan.


Keesokan harinya, warga melihat Irfan duduk sendiri di teras. Kakinya menapak tanah dengan sempurna, namun matanya kosong menatap arah gunung Merapi.


Di desa itu, tak ada lagi yang bertanya tentang kesembuhan Irfan. Karena semua orang paham bahwa di bawah Merapi yang kokoh berdiri, sebuah kesetiaan runtuh bukan oleh bencana alam melainkan oleh kebohongan manusia.


***
Tim Redaksi.