Queesha.id — Jepara,
Krisis air bersih tengah menghantui ratusan keluarga di Desa Kunir, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Sejak banjir dan tanah longsor menerjang kawasan sumber mata air pada 9 Januari 2026, pasokan air bersih yang dikelola Badan Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (BP-SPAM) desa setempat lumpuh total.
Bencana tersebut merusak jaringan pipa air bersih sepanjang kurang lebih satu kilometer. Sebagian pipa bahkan hilang terseret material longsor, membuat aliran air ke rumah-rumah warga terputus tanpa sisa.
Akibatnya, lebih dari 300 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar seribu jiwa kini kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan paling dasar: minum, memasak, mandi, dan mencuci.
Bertahan dengan Air Langit
Tanpa pasokan dari BP-SPAM, warga Desa Kunir terpaksa mengandalkan air hujan sebagai satu-satunya sumber air. Ember, drum, hingga tandon seadanya menjadi penampung utama setiap kali hujan turun.
Namun ketergantungan ini menyimpan risiko besar.
Selain jumlah air yang tidak menentu, kualitas air hujan yang ditampung secara sederhana rawan tercemar. Kondisi ini membuat kesehatan warga berada dalam posisi rentan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Di sisi lain, aktivitas harian masyarakat pun terganggu. Waktu dan tenaga tersita hanya untuk memastikan ketersediaan air, sementara kebutuhan ekonomi dan rumah tangga tetap harus berjalan.
Lereng Rapuh, Infrastruktur Runtuh
Banjir dan longsor yang memicu krisis ini diduga akibat curah hujan tinggi berkepanjangan di wilayah hulu, ditambah kondisi lereng yang labil di sekitar sumber mata air. Peristiwa ini sekaligus membuka mata akan pentingnya konservasi daerah tangkapan air serta mitigasi bencana di kawasan penyangga kebutuhan dasar masyarakat.
Perbaikan jaringan pipa bukan perkara mudah. Medan yang rusak dan rawan longsor menjadi tantangan besar, baik dari sisi teknis maupun keselamatan.
Dibutuhkan koordinasi cepat dan konkret antara pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, pengelola BP-SPAM, serta dinas terkait seperti PUPR dan BPBD.
Selain perbaikan fisik, evaluasi menyeluruh terhadap keamanan lokasi sumber air dan jalur pipa menjadi keharusan agar bencana serupa tidak kembali terulang.
Harapan dari Lereng Kering
Petinggi Desa Kunir, Sucipto, menyampaikan harapan besar kepada pemerintah kabupaten agar segera turun tangan membantu pemulihan jaringan air bersih.
“Harapan ke depan, ada bantuan dari pemerintah kabupaten berupa pipa PE untuk normalisasi kembali jaringan air bersih, agar kebutuhan air warga bisa terpenuhi seperti semula,” ujar Sucipto, Rabu (21/1/2026), dalam keterangan yang diterima awak media.
Krisis air bersih di Desa Kunir menjadi pengingat pahit bahwa hak dasar atas air sangat bergantung pada kelestarian lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Dukungan lintas sektor dan kepedulian semua pihak sangat dibutuhkan yang bukan hanya untuk memulihkan pasokan air, tetapi juga membangun ketahanan desa menghadapi ancaman alam di masa depan.
Bagi ratusan keluarga di Desa Kunir, air bukan sekadar kebutuhan, melainkan soal bertahan hidup.
***
Wartawan: Yusron.
Tim Redaksi.