Queensha.id - Edukasi Islam,
Di tengah masyarakat, kepercayaan tentang keberadaan jin dalam diri manusia masih hidup dan diwariskan turun-temurun. Di media sosial, beredar daftar ciri-ciri yang dipercaya sebagai tanda “ada jin di dalam diri seseorang”: suka melamun, menarik diri dari lingkungan, malas bergerak, hingga tiba-tiba menangis tanpa sebab.
Namun, benarkah semua tanda itu selalu berkaitan dengan gangguan gaib?
Antara Kepercayaan dan Kehati-hatian
Dalam tradisi spiritual masyarakat Indonesia, tanda-tanda tersebut kerap dipahami sebagai sinyal lemahnya batin dan spiritual seseorang. Pesannya sering dibungkus dengan niat baik yaitu agar manusia lebih waspada, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Namun persoalan menjadi rumit ketika semua gejala kelelahan mental, kesedihan, atau perubahan perilaku langsung dilabeli sebagai “ada jin”. Di sinilah kehati-hatian sangat diperlukan.
Pandangan Ulama: Jin Itu Ada, Tapi Jangan Gegabah
Ulama terkemuka Indonesia KH. Quraish Shihab berulang kali menegaskan bahwa keberadaan jin adalah bagian dari akidah Islam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Namun, beliau mengingatkan agar umat tidak terlalu mudah mengaitkan setiap masalah psikologis dengan gangguan jin.
“Tidak semua kegelisahan, ketakutan, atau perubahan perilaku disebabkan oleh jin. Bisa jadi itu persoalan kejiwaan, tekanan hidup, atau kelelahan mental.”
Menurut Quraish Shihab, Islam justru mendorong umatnya untuk menggunakan akal sehat, ikhtiar, dan ilmu pengetahuan sebelum menarik kesimpulan yang bersifat gaib.
Senada dengan itu, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menegaskan bahwa menyederhanakan semua masalah manusia menjadi urusan jin justru berbahaya.
“Kalau semua malas, sedih, atau bingung dibilang jin, nanti manusia tidak mau introspeksi dan tidak mau berobat. Padahal bisa jadi itu memang capek hidup.”
Bagi Gus Baha, iman tidak menghapus realitas biologis dan psikologis manusia. Tubuh bisa lelah, jiwa bisa letih, dan pikiran bisa jenuh hingga semuanya tidak otomatis berarti gangguan makhluk halus.
Ketika Jiwa Sedang Lelah
Daftar tandanya seperti:
3. Malas beribadah,
4. Enggan bergerak,
Dalam kacamata modern juga bisa menjadi indikasi stres, depresi ringan, burnout, atau tekanan emosional. Menyematkan label “kerasukan” tanpa empati justru berpotensi memperparah kondisi seseorang.
Islam sendiri mengajarkan keseimbangan: ruhani dijaga, jasmani dirawat, dan akal dimuliakan.
Ulama sepakat bahwa perlindungan spiritual tetap penting: dzikir, doa, menjaga shalat, dan menjauhi maksiat adalah benteng batin yang kuat. Namun Islam juga tidak pernah melarang umatnya untuk mencari pertolongan medis dan psikologis.
KH. Quraish Shihab menekankan bahwa mendekatkan diri kepada Allah tidak berarti menolak bantuan manusia.
“Agama tidak datang untuk meniadakan ilmu, tapi untuk membimbingnya.”
Waspada bukan berarti paranoid. Percaya pada yang gaib tidak sama dengan menutup mata pada realitas jiwa manusia. Tidak semua hal bersifat mistis—kadang seseorang hanya sedang lelah, terluka, atau butuh didengar.
Masyarakat perlu belajar lebih arif: menguatkan iman tanpa menghakimi, menjaga spiritualitas tanpa menafikan kesehatan mental.
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak hanya dekat pada orang yang kuat secara ibadah, tetapi juga pada mereka yang jujur mengakui kelemahan dan berusaha mencari jalan kesembuhan.
***
Tim Redaksi.