Notification

×

Iklan

Iklan

Romantis Itu Sunnah: Cara Nabi Muhammad SAW Mencintai Istri dengan Perbuatan

Senin, 26 Januari 2026 | 23.28 WIB Last Updated 2026-01-26T16:29:23Z
Foto, ilustrasi. Suami istri romantis.


Queensha.id - Edukasi Islam,


Di tengah meningkatnya konflik rumah tangga, kekerasan emosional, dan dinginnya relasi suami-istri, muncul satu pertanyaan penting: apakah Islam benar-benar kering dari romantisme?
Jawabannya justru sebaliknya.


Dalam kehidupan Rasulullah SAW, cinta kepada istri tidak pernah berhenti pada kata-kata. Ia hadir dalam sentuhan, kebersamaan, perhatian kecil, dan sikap penuh empati. Apa yang hari ini sering dianggap “terlalu romantis” atau “bukan budaya timur”, justru merupakan sunnah Nabi.


Cinta yang Diterjemahkan Menjadi Perbuatan

Rasulullah SAW mencontohkan bentuk cinta yang nyata. Beliau mencium istri, tidur dalam satu selimut, makan dan minum bersama, bahkan mandi bersama istrinya. Semua itu dilakukan bukan untuk mempertontonkan keintiman, tetapi untuk menenangkan hati dan memperkuat ikatan batin.


Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW tetap bersikap lembut dan romantis kepada istrinya meski sedang haid. Ini menegaskan bahwa cinta dalam Islam tidak bergantung pada kondisi fisik semata, tetapi pada penghormatan dan kasih sayang.


Bahkan ketika istri sakit, Rasulullah SAW hadir dan menemani. Dalam rumah tangga Nabi, kehadiran suami bukan simbol kekuasaan, melainkan sumber rasa aman.
Membantu Pekerjaan Rumah:

1. Kepemimpinan Tanpa Ego

Salah satu sunnah yang paling sering diabaikan adalah membantu pekerjaan rumah. Padahal, dalam hadis riwayat Muslim, Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah SAW membantu pekerjaan rumah tangga ketika berada di rumah.


Ulama terkemuka Indonesia KH. Quraish Shihab menegaskan bahwa keteladanan Nabi ini membongkar cara pandang keliru tentang maskulinitas.


“Membantu istri bukan berarti merendahkan martabat suami. Justru itulah kemuliaan akhlak dan kedewasaan iman.”


Menurutnya, kepemimpinan dalam rumah tangga bukan soal perintah, tetapi keteladanan dan empati.


2. Romantis Bukan Budaya Barat

Stigma bahwa romantisme adalah budaya Barat juga diluruskan oleh banyak ulama. KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) kerap menekankan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang paling lembut kepada keluarganya.


“Kalau Nabi saja romantis, kok umatnya malah gengsi? Jangan-jangan yang merasa aneh itu justru karena jauh dari sunnah.”


Memberi hadiah, memanggil istri dengan panggilan mesra, dan meluangkan waktu berjalan berdua adalah bagian dari ibadah sosial dalam Islam. Hadis riwayat Ahmad menyebutkan bahwa memberi hadiah dapat menumbuhkan cinta yang bukan soal nilai barang, tetapi perhatian di baliknya.


3. Sunnah yang Menghidupkan Rumah Tangga

Dalam pandangan ulama, sunnah-sunnah ini bukan pelengkap, melainkan pondasi rumah tangga yang penuh rahmat. Ketika suami lembut, istri merasa aman. Ketika istri merasa dicintai, rumah menjadi tempat pulang yang menenangkan.


Islam tidak mengajarkan rumah tangga yang kaku, dingin, apalagi penuh dominasi. Rasulullah SAW menunjukkan bahwa ketegasan bisa berjalan seiring dengan kelembutan, dan kepemimpinan tidak menghapus romantisme.


Menjadi suami romantis bukan soal gaya, bukan pula soal tren. Ia adalah jejak Nabi Muhammad SAW. Bukti cinta dalam Islam tidak berhenti di lisan, tetapi hidup dalam perbuatan sehari-hari.


Dan barangkali, banyak rumah tangga hari ini tidak kekurangan nasihat—yang kurang adalah keteladanan sunnah yang benar-benar dijalankan.


***
Tim Redaksi.