Queensha.id - Edukasi Sosial,
Di media sosial beredar sebuah visual reflektif bertajuk “Pertanda Kamu Banyak Dosa (Tanpa Disadari)”. Isinya sederhana, namun menohok batin: hati mudah gelisah, sulit tenang, mudah emosi, menunda ibadah, merasa kosong, hingga hidup terasa berat tanpa sebab yang jelas. Pesan penutupnya bahkan lebih tajam dosa tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa di hati.
Fenomena ini bukan sekadar renungan populer. Dalam pandangan para ulama terkemuka di Indonesia, kegelisahan batin yang terus-menerus memang sering kali berkaitan dengan kondisi spiritual seseorang.
Hati yang Resah, Alarm dari Allah SWT
Buya Hamka dalam Tasawuf Modern pernah menegaskan bahwa hati manusia memiliki “indra batin”. Ketika dosa dilakukan berulang dan tak disesali, hati menjadi keruh. Akibatnya, ketenangan sulit diraih meski secara lahiriah hidup tampak mapan dan aman.
“Hati yang jauh dari Allah akan selalu merasa kekurangan, walau dunia berada dalam genggamannya,” tulis Buya Hamka.
Gelisah tanpa sebab, menurut beliau, adalah alarm ruhani dan peringatan halus agar manusia kembali menata hubungannya dengan Tuhan.
Sulit Dinasehati, Tanda Hati Mengeras
Quraish Shihab, cendekiawan Muslim Indonesia, kerap mengingatkan bahwa hilangnya rasa bersalah adalah fase berbahaya. Dalam tafsir dan ceramahnya, ia menjelaskan bahwa dosa yang dibiarkan akan menumpuk dan membentuk raan (karat) di hati, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an.
Ketika seseorang:
1. Gemar membenarkan kesalahan sendiri,
menolak nasihat,
2. Ringan menilai kesalahan orang lain,
itu bukan semata soal ego, melainkan indikasi hati yang mulai kehilangan kepekaan moral.
Menunda Ibadah, Cepat pada Maksiat
KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sering menyampaikan bahwa salah satu tanda penyakit hati adalah ketidakseimbangan respon: berat melangkah ke masjid, tapi ringan melangkah ke arah maksiat.
Menurutnya, ini bukan karena waktu yang sempit, melainkan karena hati yang tidak lagi menjadikan Allah sebagai prioritas.
“Kalau hati bersih, kebaikan terasa ringan. Kalau hati kotor, kebaikan terasa berat,” ujar Aa Gym dalam salah satu tausiyahnya.
Hidup Terasa Berat, Padahal Masih Bernapas
Perasaan hidup yang terasa berat tanpa sebab logis (seperti yang tertulis dalam poin-poin visual tersebut) dalam perspektif tasawuf dipahami sebagai beban batin akibat dosa yang belum ditebus dengan taubat. Bukan berarti setiap masalah adalah hukuman, tetapi kegelisahan yang menetap sering kali adalah panggilan untuk berhenti dan bercermin.
Pintu Taubat Masih Terbuka
Menariknya, tulisan dalam gambar itu tak berhenti pada vonis. Ada harapan. Selama seseorang masih merasa tidak nyaman dengan keadaannya, itu tanda hatinya belum mati. Dalam pandangan para ulama, rasa tidak tenang karena dosa justru adalah nikmat, sebab itu berarti Allah masih menegur, belum membiarkan.
Sebagaimana pesan yang sejalan dengan nasihat para ulama:
"Selama hati masih terusik, pintu taubat belum tertutup".
Di tengah kehidupan modern yang riuh, pesan ini menjadi tamparan sunyi: jangan-jangan yang perlu kita benahi bukan dunia di luar, melainkan hati di dalam.
***
Tim Redaksi.