Notification

×

Iklan

Iklan

Iblis Meminta Umur Panjang, Allah Mengabulkan: Bukan Hadiah, Tapi Perang Terbuka bagi Manusia

Rabu, 21 Januari 2026 | 08.41 WIB Last Updated 2026-01-21T01:42:53Z
Foto, ilustrasi. Gambaran iblis.


Queensha.id - Edukasi Islam,


Ketika Allah SWT menciptakan Adam Alaihi salam untuk perintah sujud kepada para malaikat bukan sekadar ritual, melainkan deklarasi kemuliaan manusia sebagai khalifah di bumi. Semua tunduk kecuali satu makhluk yang memilih kesombongan daripada ketaatan yaitu Iblis.


Penolakannya bukan karena lupa atau keliru, melainkan karena logika angkuh yang menantang kehendak Ilahi. Ia membandingkan api dan tanah, seolah nilai makhluk ditentukan oleh asal bahan, bukan ketaatan.


Akibatnya jelas: laknat Allah SWT dan pengusiran dari surga. Namun di titik inilah kisah menjadi semakin dalam dan menggetarkan.


Alih-alih menyesal, Iblis justru mengajukan permintaan yang tampak “netral”, bahkan terkesan rasional: umur panjang hingga hari kebangkitan. Allah SWT mengabulkannya. Bukan karena Iblis layak, tetapi karena manusia akan diuji.


Menurut Ulama Indonesia: Ini Bukan Dialog Setara, Tapi Penegasan Kekuasaan Allah

Prof. Quraish Shihab dalam berbagai tafsir dan kajiannya menegaskan bahwa dialog antara Allah dan Iblis bukan dialog tawar-menawar, apalagi tanda kasih sayang.


“Allah mengabulkan permintaan Iblis bukan sebagai penghormatan, tetapi sebagai bagian dari sunnatullah dalam menguji manusia—apakah memilih jalan kebenaran atau mengikuti bisikan,” jelasnya.


Menurut Quraish Shihab, umur panjang Iblis justru adalah bentuk istidraj yang merupakan penangguhan azab yang membuatnya semakin jauh dari rahmat Allah.


Senada dengan itu, Buya Yahya menegaskan bahwa kesalahan terbesar Iblis bukan pada satu pembangkangan, tetapi pembenaran diri.


“Iblis tidak pernah berkata ‘aku salah’. Ia berkata ‘aku lebih baik’. Dari sinilah seluruh kejahatan bermula,” ujar Pengasuh LPD Al-Bahjah tersebut.


Iblis Tidak Memaksa, Tapi Menghias Keburukan

Berbeda dengan gambaran populer, Iblis tidak memiliki kekuasaan memaksa manusia. Ia hanya membisikkan, menghiasi, dan menormalisasi dosa.
KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menekankan bahwa kekuatan Iblis terletak pada kelalaian manusia, bukan pada kekuatannya sendiri.


“Jika hati sibuk dengan zikir, bisikan tidak akan betah. Setan kuat karena kita memberi ruang,” ungkapnya dalam salah satu tausiyah.


Al-Qur’an sendiri menegaskan batas itu:
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak mempunyai kekuasaan atas mereka.”
(QS. Al-Hijr: 42)


Di Akhir, Iblis Lepas Tangan

Yang paling ironis dan tragis adalah akhir kisah ini. Ketika manusia menyesali kesesatan mereka di hari kiamat, Iblis justru berlepas diri. Ia tidak meminta maaf. Ia tidak bertanggung jawab.
KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan:


“Setan hanya memberi janji kosong. Yang memutuskan tetap manusia sendiri. Maka jangan salahkan setan kalau kita meninggalkan sholat, karena yang meninggalkan itu kaki kita sendiri," jelasnya.


Umur Panjang Itu Hukuman, Bukan Kemenangan

Dalam pandangan para ulama, jelas bahwa umur panjang yang diminta Iblis bukan kemenangan, melainkan hukuman yang ditangguhkan. Ia hidup lama untuk terus menumpuk dosa, tanpa peluang taubat.


Sedangkan bagi manusia, kisah ini adalah peringatan keras: bahwa musuh terbesar bukanlah makhluk gaib di luar sana, melainkan bisikan yang kita pelihara dalam hati.


Dan setiap hari, tanpa sadar, manusia sedang menjawab satu pertanyaan yang sama: mengikuti Adam yang bertaubat—atau mengikuti Iblis yang membenarkan diri.

***
Tim Redaksi.