| Foto, slogan, "Indonesia Emas 2045". |
Queensha.id - Opini Publik,
Indonesia Emas 2045 kerap digaungkan sebagai visi besar bangsa. Sebuah janji masa depan yang terdengar mewah dan penuh optimisme. Namun di balik slogan itu, muncul pertanyaan mendasar yang jarang dijawab secara jujur yakni emas itu sebenarnya mau dibentuk dari apa?
Dari kurikulum yang masih sibuk mengejar hafalan, ranking, dan ujian pilihan ganda? Atau dari sistem pendidikan yang bahkan belum sepenuhnya berdamai dengan kenyataan bahwa dunia telah berubah jauh lebih cepat daripada buku pelajaran di kelas?
Kesalahpahaman terbesar pendidikan Indonesia adalah keyakinan bahwa tugas sekolah hanya membuat anak “pintar secara akademik”. Nilai tinggi, lulus ujian, masuk perguruan tinggi yang seolah itulah garis akhir.
Padahal dunia nyata tidak pernah bertanya soal nilai rapor. Dunia bertanya hal yang jauh lebih fundamental: mampukah seseorang berpikir jernih, menjaga tubuhnya tetap sehat, dan bertahan secara mental ketika hidup menekan?
Kurikulum yang Tertinggal Zaman
Secara umum, kurikulum pendidikan Indonesia masih terjebak di masa lalu. Polanya nyaris seragam: anak duduk, mendengar, mencatat, menghafal, lalu diuji. Setelah itu, lupa. Metode ini mungkin relevan ketika informasi sulit diakses. Namun hari ini, informasi ada di mana-mana. Yang justru langka adalah kemampuan memilah informasi, memahami konteks, dan mengambil keputusan yang sehat untuk diri sendiri maupun masyarakat.
Masalah ini menjadi semakin serius karena anak Indonesia tidak hidup di ruang hampa. Mereka tidak hanya akan bersaing dengan teman sekelasnya, tetapi dengan generasi muda dari Tiongkok, India, Korea, hingga negara-negara Afrika yang sistem pendidikannya justru sedang melompat jauh ke depan. Dunia sudah global, kompetitif, dan tidak ramah pada mereka yang lambat beradaptasi.
Belajar dari Negara Lain
Ambil contoh Tiongkok. Sistem pendidikannya sering dikritik karena keras. Kritik itu tidak sepenuhnya salah. Namun satu hal sulit dibantah: arah pendidikannya jelas dan konsisten. Matematika kuat, sains kuat, logika diasah, disiplin dibangun sejak dini. Bahkan di tingkat universitas (termasuk fakultas kedokteran dan teknik) aktivitas fisik tetap menjadi bagian kurikulum.
Olahraga bukan sekadar pelajaran seminggu sekali, melainkan kebiasaan hidup.
Sebaliknya, di Indonesia, pendidikan jasmani sering diperlakukan sebagai pelengkap. Satu atau dua jam seminggu, itu pun kerap dikorbankan untuk kegiatan lain. Banyak siswa lulus SMA tanpa benar-benar memahami bahwa tubuhnya perlu dirawat seumur hidup. Olahraga dipandang sebagai hukuman, bukan investasi kesehatan jangka panjang.
Krisis Kesehatan yang Dibiarkan
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, ini adalah masalah besar. Indonesia masih bergulat dengan penyakit menular, sementara penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi meningkat tajam.
Masalah kesehatan mental melonjak, angka kecelakaan tinggi. Ironisnya, anak-anak hampir tidak pernah diajak memahami konteks ini sejak dini.
Mereka belajar rumus, tetapi tidak belajar bagaimana menjaga jantungnya tetap sehat hingga usia tua.
Pendidikan kesehatan di sekolah terlalu dangkal. Ajakan “ayo olahraga” atau “makan bergizi” sering berhenti sebagai slogan, tanpa penjelasan mengapa itu penting dan bagaimana melakukannya secara konsisten. Padahal jika sejak SD hingga SMA anak terbiasa bergerak setiap hari dan memahami tubuhnya sendiri, bangsa ini sedang membangun generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga tangguh dan mandiri secara kesehatan.
Gagal Mengajarkan Hal Paling Dasar: Menolong Sesama
Kegagalan kurikulum paling nyata terlihat pada minimnya kemampuan pertolongan pertama. Di banyak negara maju—bahkan di Tiongkok dan sejumlah negara Eropa—anak SD sudah dikenalkan dengan bantuan hidup dasar. Mereka tahu apa yang harus dilakukan ketika seseorang pingsan, tenggelam, atau berhenti bernapas.
Di Indonesia, bahkan orang dewasa sering bingung. Anak tenggelam justru ditepuk-tepuk, bukan dibaringkan dan dilakukan resusitasi jantung paru. Ini bukan kesalahan individu. Ini kegagalan sistemik pendidikan.
Dari pengalaman klinis, banyak kematian dan kecacatan sebenarnya bisa dicegah jika orang di sekitar korban tahu apa yang harus dilakukan dalam lima menit pertama. Namun keterampilan hidup sepenting ini nyaris tidak pernah dianggap sebagai materi wajib sekolah.
Beban Negara yang Dibentuk Sejak Bangku Sekolah
Ironisnya, kita sering mengeluhkan defisit BPJS, rumah sakit penuh, dan tenaga kesehatan kewalahan. Namun kita lupa bahwa salah satu akar persoalannya adalah pendidikan yang tidak membekali masyarakat untuk menjaga dirinya sendiri. Generasi yang tidak sehat akan selalu menjadi beban sistem, seberapa pun canggih fasilitas yang disediakan.
Kurikulum seharusnya tidak hanya menyiapkan anak untuk ujian, tetapi untuk hidup. Mengajarkan berpikir kritis, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta berani dan mampu menolong sesama. Ini bukan tambahan mewah, melainkan kebutuhan dasar sebuah bangsa yang ingin bertahan.
Indonesia Emas tidak akan lahir dari slogan, apalagi sekadar ganti nama kurikulum. Ia hanya bisa lahir dari keberanian mengubah isi dan arah pendidikan. Dari sekolah yang tidak takut mendidik anak menjadi manusia utuh yaitu pintar, sehat, dan peduli.
Jika Tiongkok mampu membangun generasi yang disiplin, kuat, dan kompetitif melalui pendidikan yang konsisten, seharusnya Indonesia juga bisa. Masalahnya bukan pada anak-anak kita. Masalahnya ada pada sistem yang terlalu lama nyaman dengan cara lama.
Dan mungkin yang paling menyakitkan adalah ini: kita tahu masalahnya, tapi masih ragu untuk benar-benar mengubahnya.
***
Tim Redaksi Queensha Jepara.
Sumber: Dr. Erta Priyadi, dikutip dari unggahan Facebook Faruq Muhammad.