Notification

×

Iklan

Iklan

Inilah Alasan Darah Nabi Muhammad SAW Tak Boleh Sentuh Tanah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 14.27 WIB Last Updated 2026-01-31T07:30:16Z
Foto, ilustrasi gambaran seorang Rasulullah SAW atau Nabi Muhammad SAW.


Queensha.id - Edukasi Islam,


Di kalangan umat Islam, sebuah kisah penting tentang darah Nabi Muhammad SAW yang tidak boleh menyentuh tanah kerap menjadi bahan kajian, taushiyah, dan pengingat spiritual. 


Kisah ini tidak hanya mengandung nilai sejarah, tapi juga pelajaran mendalam tentang kedudukan Rasulullah SAW di sisi Allah serta adab penghormatan umat Islam kepada beliau.


Kisah Darah Nabi Muhammad SAW di Perang Uhud

Peristiwa ini berakar dari Perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah, ketika Rasulullah SAW terluka parah dalam pertempuran melawan pasukan Quraisy. Meski darah mengalir deras dari wajah dan tubuh beliau, Rasulullah SAW menampung darahnya agar tidak jatuh ke bumi dengan kedua tangan beliau sendiri. Para sahabat lalu bertanya mengapa beliau melakukan itu, dan beliau menjawab bahwa beliau tak ingin setetes darahnya menyentuh tanah, meski saat itu beliau dalam keadaan terluka.


Makna dan Hikmah di Balik Larangan Darah Menyentuh Tanah

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah utama dari peristiwa tersebut:


2. Darah Rasulullah bukan sekadar darah biasa. 

3. Rasulullah merupakan bagian dari jasad suci yang Allah muliakan lebih dari ciptaan lainnya. 

4. Allah telah menjaga para nabi dari kehancuran jasadnya dan memberi status istimewa pada tubuh mereka,

5. Kedudukan Rasulullah sangat tinggi di sisi Allah.


Perlindungan Allah terhadap Nabi Muhammad SAW 

Tradisi ini juga dipahami sebagai perlindungan Allah terhadap Rasul-Nya yang mulia. Sebagaimana terdapat riwayat yang menyatakan bahwa Allah mengharamkan bumi untuk “memakan” jasad para nabi, maka itu juga menjadi simbol bahwa jasad dan darah para nabi dijaga secara khusus oleh Allah.


Pelajaran Kasih Sayang dan Doa untuk Semua Manusia

Bahkan ketika terluka, Rasulullah SAW memohon ampunan dan rahmat, bukan murka, bagi kaum musyrikin yang menyakitinya. Ini mencerminkan keteladanan ilahi tentang kasih sayang universal yang beliau perjuangkan.


Umat Islam memahami bahwa peristiwa ini bukan hukum syariat yang harus dipraktikkan khusus dalam kehidupan sehari-hari, tetapi termasuk kisah keutamaan (faḍā’il) dan pengagungan terhadap Rasulullah SAW, yang bertujuan untuk menumbuhkan cinta, rasa hormat, serta penghormatan umat kepada beliau secara spiritual.


Pandangan Ulama Terkemuka di Indonesia

Menurut salah satu ulama terkemuka di Indonesia, kisah ini sarat nilai ibrah (pelajaran) yang menuntun umat untuk menjaga adab terhadap Nabi Muhammad SAW sekaligus memahami makna kemuliaan beliau dalam konteks tauhid dan akhlak.


“Peristiwa darah Rasulullah SAW yang tidak dibiarkan jatuh ke tanah bukan soal fisik semata, tetapi soal martabat kemuliaan seorang nabi yang Allah muliakan. Hal ini mempertegas bahwa kedudukan beliau jauh melampaui manusia biasa, dan umat Islam hendaknya tidak hanya menghormati secara lahiriah, tetapi juga menjiwai sunnah beliau dengan cinta, peneladanan akhlak, serta pengagungan terhadap ajaran beliau,” ujar ulama tersebut dalam sebuah kajian keislaman. (Komentar redaksi berdasarkan berbagai sumber kajian ulama Indonesia).


Menurut ulama ini, pemahaman seperti ini penting agar umat Islam tidak terjebak dalam tafsiran literal yang bisa memicu kesalahpahaman, melainkan memahami konteks hikmah di balik setiap kisah nabi-nabi Allah.


Lebih dari Sekadar Cerita Sejarah

Fenomena ini menjadi salah satu rujukan dalam pendidikan akhlak umat Islam untuk selalu menjunjung tinggi martabat ulul azmi (para nabi), khususnya Nabi Muhammad SAW, yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Ini juga menjadi pengingat bagi umat untuk terus membumikan nilai-nilai cinta, belas kasih, dan penghormatan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya secara simbolik.


***
Tim Redaksi.