Queensha.id - Edukasi Islam,
Ada satu jeritan yang tak pernah masuk telinga manusia, namun mengguncang langit dan bumi. Ia bukan suara, melainkan penderitaan terdalam ruh saat menghadapi sakaratul maut detik terakhir kehidupan dunia yang tak bisa ditunda sedetik pun.
Ketika ajal tiba, Malaikat Maut datang tanpa kompromi. Ruh yang selama puluhan tahun menyatu dengan jasad dipanggil untuk berpisah. Bagi ruh, perpisahan itu bukan perkara ringan. Ia dicabut dari setiap urat, dari setiap sel kehidupan yang pernah menjadi rumahnya.
Allah SWT berfirman:
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19)
Mengapa Ruh Merasakan Penderitaan Hebat?
Para ulama menjelaskan, jeritan ruh bukan selalu berupa suara. Ia adalah rasa sakit, ketakutan, dan keterkejutan karena ruh menghadapi tiga kenyataan sekaligus:
1. Perpisahan dengan jasad dan dunia yang dicintainya.
2. Terbukanya tabir akhirat yang selama hidup hanya dipercaya lewat iman.
3. Datangnya malaikat dengan rupa yang tak pernah dibayangkan manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat (kepedihan).” (HR. Bukhari)
Perbedaan Akhir Ruh Mukmin dan Ruh Pendosa
Dalam banyak riwayat, dijelaskan adanya perbedaan mendasar antara ruh orang beriman dan ruh orang yang lalai.
1. Ruh Mukmin
Dicabut dengan lembut, seperti air yang mengalir dari bejana. Meski tetap merasakan sakit, Allah memudahkan prosesnya. Wajahnya tenang, lisannya dimudahkan berdzikir, dan ruhnya disambut dengan kabar gembira.
2. Ruh Pendosa dan Orang Lalai
Dicabut dengan keras, seperti besi berduri yang ditarik dari wol basah. Ruh tersangkut, menolak keluar, dan merasakan ketakutan dahsyat terhadap apa yang akan dihadapinya.
Dalam atsar disebutkan, jeritan ruh orang zalim tidak terdengar oleh manusia, namun disaksikan oleh alam dan para malaikat.
Detik Paling Jujur dalam Hidup Manusia
Sakaratul maut adalah momen paling jujur dalam hidup. Pada saat itu, dosa kecil tampak sangat besar. Dunia terlihat hina dan menipu. Waktu hidup terasa amat singkat. Banyak ruh ingin kembali ke dunia hanya untuk satu permintaan:
“Ya Rabb, kembalikan aku agar aku beramal saleh.” (QS. Al-Mu’minun: 99)
Namun pintu dunia telah tertutup rapat.
Pandangan Ulama Terkemuka Indonesia
Ulama kharismatik Indonesia, KH. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa sakaratul maut adalah proses penyadaran terakhir bagi manusia.
“Kematian bukan sekadar berhentinya napas, tetapi perpindahan kesadaran dari alam yang penuh tipu daya menuju alam kebenaran mutlak. Karena itu, rasa sakitnya sebanding dengan keterikatan manusia pada dunia,” jelasnya dalam salah satu tafsirnya.
Sementara itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menegaskan bahwa berat atau ringannya sakaratul maut sangat berkaitan dengan kondisi batin seseorang.
“Orang yang sepanjang hidupnya berdamai dengan Allah, berdamai dengan sesama, dan berdamai dengan dirinya sendiri, insyaallah akan dimudahkan saat pulang,” ungkapnya.
Ulama hadits Indonesia, Ustaz Abdul Somad (UAS), juga kerap mengingatkan bahwa sakaratul maut adalah ujian terakhir iman.
“Setan datang di detik terakhir, bukan untuk menakuti, tapi untuk menipu. Maka bekal menghadapi sakaratul maut bukan banyaknya usia, tapi istiqamahnya taubat,” tegas UAS.
Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memohon pertolongan Allah:
Ya Allah, tolonglah aku menghadapi sakaratul maut.
Bukan Untuk Menakuti, Tapi Mengingatkan
Jeritan ruh saat sakaratul maut bukan untuk menebar ketakutan, melainkan peringatan agar manusia sadar. Selama ruh masih diberi waktu di dalam jasad, pintu taubat masih terbuka.
Sebelum ruh menjerit saat dipisahkan, biarkan ia tenang karena taubat, dan bahagia karena iman.
Karena kematian bukan soal kapan, melainkan dalam keadaan apa kita dipanggil pulang.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
***
Tim Redaksi.