Queensha.id - Edukasi Islam,
Di tengah sunyi Gunung Thur, ketika alam seakan berhenti bernafas, Nabi Musa ‘alaihis salam berdiri dalam munajat panjang. Ia bukan nabi biasa namun ia adalah Kalīmullāh, hamba yang diajak Allah berbicara langsung tanpa perantara.
Dalam kerinduan yang mendalam, Musa bertanya tentang satu hal paling hakiki adalah ibadah apa yang paling dicintai Allah. Pertanyaan itu bukan lahir dari rasa ingin tahu semata, melainkan dari kerinduan seorang hamba untuk benar-benar dicintai Tuhannya.
Jawaban Allah SWT datang bertahap, menggugurkan satu demi satu anggapan manusia tentang kehebatan ibadah. Bukan soal yang paling berat, bukan yang paling ramai dipuji, melainkan ingat kepada Allah, menjaga shalat, sujud dengan hati yang hancur, serta amal kecil yang dilakukan ikhlas dan terus-menerus.
Dialog ilahi itu mengandung pesan besar: Allah tidak mencari kesempurnaan, tetapi kesetiaan.
Makna Ibadah dalam Pandangan Ulama Indonesia
Ulama tafsir terkemuka Indonesia, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa inti ibadah bukan terletak pada bentuk lahiriah semata, melainkan pada kualitas batin.
“Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Yang Dia kehendaki adalah dampak ibadah itu pada jiwa: apakah ia melahirkan kerendahan hati, kesadaran, dan kedekatan,” ungkap Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya.
Menurutnya, shalat dan sujud menjadi ibadah paling dicintai karena di situlah manusia benar-benar meletakkan ego dan kesombongannya.
Senada dengan itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menekankan bahwa istiqamah dalam ibadah kecil sering kali lebih berat daripada melakukan amal besar sesekali.
“Yang sulit itu bukan memulai, tapi menjaga. Allah mencintai hamba yang terus kembali, meski berkali-kali jatuh dan berdosa,” tutur Gus Mus.
Ia menegaskan bahwa ibadah yang dicintai Allah adalah ibadah yang membuat manusia semakin jujur pada dirinya sendiri.
Sementara itu, dai dan ulama hadits Ustaz Abdul Somad (UAS) kerap mengingatkan bahwa ikhlas adalah kunci utama diterimanya amal.
“Dua rakaat yang ikhlas, lebih Allah cintai daripada seribu rakaat yang ingin dilihat manusia. Amal kecil tapi rutin itu tanda hati yang hidup,” ujar UAS.
Bukan Tentang Hebat, Tapi Dekat
Dialog Nabi Musa dengan Allah mengajarkan satu pelajaran penting bagi umat Islam hari ini yaitu ibadah bukan kompetisi, melainkan hubungan. Allah tidak menilai seberapa berat amal seseorang di mata manusia, tetapi seberapa jujur dan setia ia di hadapan-Nya.
Shalat yang dijaga, sujud yang penuh kerendahan, dzikir yang tak putus meski lelah, dan hati yang selalu kembali dan itulah ibadah yang paling dicintai Allah SWT.
Di tengah dunia yang gemar menilai dari tampilan luar, pesan ini menjadi pengingat keras: yang kecil namun istiqamah lebih bernilai daripada yang besar namun ditinggalkan.
Karena pada akhirnya, di hadapan Allah, bukan siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling setia.