Notification

×

Iklan

Iklan

Karma dari Orang Tua Bisa Turun ke Anaknya, Benarkah? Inilah Telaah Agama, Sains dan Sosial

Sabtu, 24 Januari 2026 | 18.53 WIB Last Updated 2026-01-24T11:55:11Z
Foto, ilustrasi informasi islami.


Queensha.id - Edukasi Sosial,


Dalam percakapan populer sehari-hari, sering kita dengar ungkapan bahwa perilaku buruk orang tua bisa “diturunkan” kepada anak, entah dalam bentuk nasib sial, gangguan hidup, atau bahkan kesulitan besar dalam hidup. 


Pertanyaan besarnya: Apakah karma orang tua benar-benar bisa turun kepada anaknya? 


Kita telusuri dari perspektif agama, ilmu pengetahuan, hingga pendapat lokal dari pengamat sosial Jepara.


Apa Itu “Karma”?

Istilah karma sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti perbuatan atau tindakan dan dalam tradisi Hindu-Buddha merupakan hukum sebab-akibat yang mengatur bahwa setiap perbuatan baik atau buruk akan menentukan nasib seseorang, termasuk di kehidupan berikutnya melalui siklus kelahiran ulang (reinkarnasi).


Dalam ajaran ini, ada keyakinan bahwa akumulasi tindakan pada satu generasi berpengaruh pada kehidupan selanjutnya, sehingga secara teori bisa memengaruhi “nasib” keturunan.


Pandangan Islam: Bukan Karma, Tapi Akhlak dan Takdir

Dari sudut pandang agama Islam, konsep karma seperti dalam Hindu-Buddha tidak dikenal. Islam tidak mengenal siklus reinkarnasi atau hukum karmaphala yang menyatakan hasil perbuatan masa lalu akan “diturunkan” ke kehidupan berikutnya.


Ulama seperti Buya Yahya secara tegas menyatakan bahwa dalam Islam tidak ada konsep karma dalam pengertian tersebut yaitu pada setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri di hadapan Allah.


Menurut pemahaman Islam yang berlandaskan pada Al-Qur’an, “Dan tidak ada seorang pun yang memikul dosa orang lain.” hal ini dari sebuah prinsip yang menunjukkan bahwa anak tidak menanggung dosa orang tua.


Beberapa ulama menjelaskan bahwa meski anak tidak menanggung dosa orang tua secara langsung, pola kelakuan, pendidikan, dan lingkungan keluarga bisa memengaruhi karakter dan pilihan hidup anak — ini bukan karena “karma”, tetapi adalah akibat sosial dan psikologis dari lingkungan keluarga itu sendiri.


Contoh kasus yang sering muncul seperti anggapan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah akibat karma orang tua, dijawab oleh beberapa ustadz bahwa Islam tidak mengajarkan hal semacam itu, kecuali perbuatan orang tua sendiri bisa berdampak pada tanggung jawab dan cara asuh mereka terhadap anaknya.


Perspektif Ilmiah dan Psikologis

Dari sisi ilmu sosial dan psikologi, ada fenomena yang dikenal sebagai trauma atau efek lintas generasi. Ini bukan “karma” mistis, tetapi dampak nyata dari pengalaman, stres, atau pola asuh orang tua yang dapat memengaruhi anak dan bahkan cucu mereka.


Misalnya, penelitian telah menunjukkan bahwa keturunan dari kelompok korban trauma berat (seperti perang atau kekerasan) sering menunjukkan tingkat stres atau pola perilaku tertentu yang berbeda, karena lingkungan dan genetika psikologis, bukan karena “karma” yang turun otomatis.


Secara psikologis, keyakinan bahwa tindakan kita berpengaruh pada kehidupan kita dan orang di sekitar kita (tabur tuai dalam konteks moral) memang nyata secara sosial, tetapi itu bukan hukum metafisik yang memastikan akibat langsung bagi anak atas kesalahan orang tua.


Pandangan Pengamat Sosial Jepara: Purnomo Wardoyo

Menurut pengamat sosial Jepara, Purnomo Wardoyo, isu soal “karma turun ke anak” perlu dipahami secara kontekstual dengan realitas sosial dan budaya. Dalam beberapa pernyataannya kepada media lokal, Purnomo menekankan pentingnya kedewasaan masyarakat dalam menyikapi fenomena sosial, mengingat bahwa banyak asumsi populer tidak sepenuhnya akurat secara faktual.


Purnomo menilai bahwa kecenderungan masyarakat untuk menggeneralisasi fenomena negatif pada keturunan sering berasal dari kurangnya pemahaman terhadap faktor yang sebenarnya berkontribusi pada lingkungan keluarga, pendidikan, tekanan sosial, dan kesempatan ekonomi, bukan semata-mata “karma” yang diwariskan secara mistis.


Dalam konteks Jepara, di mana nilai kekeluargaan dan adat istiadat masih kuat, narasi semacam karma sering dipahami secara simbolik (sebagai peringatan moral) bukan sebagai hukum yang berlaku universal.


Fakta, Bukan Mitos

Tidak ada bukti teologis atau ilmiah bahwa karma orang tua jatuh secara otomatis kepada anak.

Dalam Islam, setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan tidak menanggung dosa orang lain.

Ilmu sosial mengenal pengaruh trauma atau pola perilaku lintas generasi, tetapi ini bersifat psikologis dan sosial, bukan metafisik.


Pandangan pengamat sosial menyoroti pentingnya pemahaman realitas sosial, bukan tafsir mistik.

"Belajar... Tumbuh... Berbagi"


Riset lebih jauh akan membantu kita membedakan antara kepercayaan populer dan bukti faktual. Konsep sebab-akibat dalam kehidupan memang nyata, tetapi bukan berarti karma orang tua “diturunkan” secara otomatis kepada anaknya.


***