Queensha.id - Opini Publik,
Di era media sosial, makna kekayaan mengalami pergeseran drastis. Kekayaan tak lagi semata soal saldo rekening, aset, atau kemandirian ekonomi, melainkan tentang bagaimana ia ditampilkan. Seseorang bisa terlihat mapan, sukses, bahkan “naik kelas”, tanpa benar-benar memiliki fondasi finansial yang kuat. Dari sinilah fenomena fake rich atau kaya semu tumbuh dan menguat.
Fake rich bukan sekadar pamer barang bermerek atau liburan mahal. Ia adalah gejala sosial yang mencerminkan perubahan cara masyarakat memaknai sukses, tekanan simbolik di ruang digital, lemahnya literasi keuangan, hingga problem etika dan nilai. Media sosial menjelma menjadi panggung kompetisi, tempat citra keberhasilan dipertontonkan, meski harus dibangun di atas utang dan kepura-puraan.
Logika media sosial bekerja secara visual dan instan. Algoritma tidak memberi panggung pada proses panjang, melainkan pada hasil yang tampak.
Foto mobil mewah, kopi mahal, jam tangan bermerek, atau liburan ke luar negeri jauh lebih “menjual” dibanding kisah menabung bertahun-tahun, kerja sunyi, atau hidup sederhana. Dalam ruang ini, kekayaan tidak harus nyata yang cukup terlihat nyata.
Barang bisa disewa, gaya hidup bisa dicicil, uang bisa dipinjam. Yang penting citra sukses terproduksi dan divalidasi oleh likes, komentar, dan jumlah pengikut. Media sosial pun berfungsi sebagai mesin pembentuk ilusi, memamerkan simbol kemapanan tanpa jaminan stabilitas ekonomi di baliknya.
Fenomena ini diperkuat budaya influencer. Banyak figur digital tampil sebagai representasi sukses instan: muda, modis, sering bepergian, dan tampak hidup tanpa beban. Narasi yang dibangun sederhana dan menggoda, “semua bisa sukses asal mau usaha”. Yang jarang ditampilkan adalah realitas di balik layar: sponsor, tekanan menjaga citra, cicilan, bahkan ketidakstabilan finansial.
Flexing sejatinya bukan hal baru. Namun di era media sosial, flexing mengalami demokratisasi. Jika dulu hanya orang kaya sungguhan yang bisa memamerkan kemewahan, kini hampir siapa pun bisa melakukannya dengan bantuan teknologi dan instrumen keuangan.
Fake rich lahir bukan sekadar sebagai pamer, melainkan penciptaan identitas palsu tentang kemapanan. Secara sosial tampak naik kelas, tetapi secara ekonomi justru terjebak.
Ironisnya, fake rich sering mendapat apresiasi sosial. Lingkungan digital memberi ganjaran berupa atensi dan pengakuan. Dalam masyarakat yang kian mengukur nilai diri dari persepsi publik, pengakuan ini terasa lebih berharga daripada stabilitas finansial jangka panjang.
Fenomena ini juga tidak lepas dari maraknya layanan paylater, kartu kredit digital, dan pinjaman daring. Instrumen yang sejatinya netral itu berubah menjadi bahan bakar ilusi kekayaan ketika bertemu budaya pamer. Dengan paylater, kesenjangan antara keinginan dan kemampuan ditutup oleh utang. Yang tampil ke publik adalah citra sukses, sementara konsekuensinya ditunda ke masa depan.
Masalahnya, masa depan tidak selalu ramah. Ketika cicilan menumpuk dan pendapatan stagnan, ilusi runtuh. Banyak individu akhirnya terjebak dalam lingkaran utang demi mempertahankan gaya hidup yang sejak awal tak sepadan dengan kapasitasnya. Fake rich pun berujung pada krisis finansial personal.
Media sosial juga menciptakan ruang perbandingan tanpa henti. Kita tak lagi membandingkan diri dengan tetangga, melainkan dengan ribuan orang yang hanya menampilkan versi terbaik hidup mereka. Dalam situasi ini, hidup sederhana terasa kalah pamor, bahkan dianggap gagal. Tekanan ini sangat kuat bagi generasi muda dan kelas menengah perkotaan penghasilan terbatas, ekspektasi sosial tinggi.
Fake rich menjadi jalan pintas untuk bertahan secara simbolik. Lebih baik tampak berhasil daripada jujur sedang berproses.
Di baliknya, tersimpan persoalan serius: rendahnya literasi keuangan. Banyak orang paham cara membeli, tetapi tidak paham cara mengelola. Utang dianggap gaya hidup, bukan risiko. Media sosial pun jarang memberi ruang bagi narasi realistis tentang dana darurat, perencanaan, dan disiplin finansial.
Fenomena fake rich juga menyentuh sisi psikologis: kebutuhan akan validasi. Ketika pengakuan diri rapuh, simbol eksternal menjadi sandaran. Namun validasi semacam ini rapuh dan harus terus diperbarui. Hidup akhirnya dijalani bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk mempertahankan citra.
Dampak sosialnya pun luas. Makna sukses terdistorsi menjadi sekadar kepemilikan simbolik. Kecemburuan sosial meningkat. Budaya konsumtif menguat, sementara etos produktif melemah. Dari perspektif etika yang termasuk etika keagamaan dan fake rich dekat dengan sikap berlebihan, pamer, dan ketidakjujuran terhadap diri sendiri.
Media massa dan negara memiliki peran penting. Media perlu menghadirkan narasi sukses yang lebih manusiawi dan realistis, tidak melulu glamor. Negara perlu memperkuat literasi keuangan dan regulasi kredit agar masyarakat tidak terjebak ilusi konsumsi.
Pada akhirnya, fake rich adalah cermin zaman: masyarakat yang visual, kompetitif, dan haus pengakuan.
Namun ia juga membuka ruang refleksi apakah hidup kita benar-benar milik kita, atau sekadar pertunjukan untuk orang lain?
Kemapanan sejati sering kali tidak tampak.
Ia sunyi dari sorotan, tetapi memberi ketenangan jangka panjang. Di tengah hiruk-pikuk media sosial, keberanian hidup sesuai kemampuan adalah bentuk perlawanan paling elegan. Menjadi “cukup” mungkin tidak viral, tetapi itulah kekayaan yang paling nyata.
***
Sumber: Detik/Mohammad Nur Rianto Al Arif Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah & Sekjen DPP Asosiasi Dosen Indonesia