Notification

×

Iklan

Iklan

Kesibukan Abadi Penghuni Neraka: Jeritan, Api dan Penyesalan Tanpa Akhir

Selasa, 06 Januari 2026 | 13.48 WIB Last Updated 2026-01-06T09:48:37Z
Foto, ilustrasi. Manusia penghuni neraka.



Queensha.id - Edukasi Islami,


Ketika hari perhitungan berakhir dan keputusan Allah SWT ditetapkan, manusia pun terpisah ke dalam dua jalan yang tak lagi bisa disilang. Sebagian menuju rahmat, sebagian lainnya masuk ke dalam azab


Bagi mereka yang menolak kebenaran dan wafat tanpa taubat, neraka bukan sekadar tempat hukuman melainkan kehidupan baru yang penuh kesibukan abadi dalam penderitaan.
Neraka bukan ruang hampa. Ia bukan tempat tidur, bukan pula kematian yang mengakhiri segalanya. Di sana, para penghuninya terus “bekerja” dalam azab dan penyesalan yang tak mengenal jeda.


Jeritan yang Tak Pernah Didengar

Sejak pertama kali dilemparkan ke dalam neraka, suara yang terdengar bukan hanya gemuruh api, melainkan jeritan manusia. Al-Qur’an menggambarkan neraka sebagai makhluk yang bergolak dan mengeluarkan suara mengerikan (QS. Al-Mulk: 7).


Para penghuninya terus memohon agar dikeluarkan, berjanji tidak akan mengulangi kesalahan. 


Namun permohonan itu bertepuk sebelah tangan. Allah menegaskan bahwa tidak ada lagi dialog, tidak ada lagi kesempatan (QS. Al-Mu’minun: 107–108). Doa yang dahulu diabaikan, kini benar-benar tak didengar.


Terbakar Tanpa Akhir, Kulit Diganti Agar Sakit Terus Hidup

Api neraka tidak mematikan rasa. Setiap kali kulit hangus, Allah menggantinya agar penderitaan terus dirasakan (QS. An-Nisa’: 56). Jika di dunia rasa sakit bisa berakhir karena pingsan atau mati rasa, di neraka rasa sakit justru dijaga agar tetap hidup.
Azab ini bukan sesaat, melainkan aktivitas tanpa jeda dan sebuah siklus penderitaan yang terus berulang.


Makan dan Minum yang Menambah Siksa
Lapar dan haus tidak membawa kelegaan. Makanan penghuni neraka adalah zaqqum, pohon yang digambarkan lebih mengerikan daripada imajinasi manusia (QS. Ad-Dukhan: 43–44). Minuman mereka adalah cairan mendidih seperti besi panas yang menghanguskan wajah (QS. Al-Kahfi: 29).


Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa setetes zaqqum saja dapat merusak kehidupan dunia. Di neraka, makan dan minum bukan kebutuhan, melainkan tambahan siksa.


Dari Sekutu Menjadi Musuh

Di dunia, mereka mungkin bersatu dalam kesesatan. Namun di neraka, semua hubungan runtuh. Teman, pasangan, bahkan keluarga saling menyalahkan (QS. Az-Zukhruf: 67).


Pengikut menyalahkan pemimpin, anak menyalahkan orang tua, istri menyalahkan suami. Penyesalan itu terlontar dalam kalimat yang sama: seandainya mereka menaati Allah dan Rasul-Nya (QS. Al-Ahzab: 66). Namun waktu telah tertutup.
Ingin Mati, Tapi Kematian Ditiadakan
Di dunia, kematian adalah akhir dari penderitaan. Di neraka, kematian justru menjadi harapan yang diharamkan. Al-Qur’an menegaskan, mereka tidak mati dan tidak pula hidup (QS. Al-A’la: 13).


Dalam hadits sahih disebutkan, kematian akan “disembelih” dan diumumkan bahwa neraka adalah kekekalan tanpa akhir. Inilah puncak azab: hidup selamanya tanpa harapan.


Penyesalan sebagai Aktivitas Utama

Setiap saat, para penghuni neraka menyesali kelalaian mereka. “Seandainya dahulu kami mendengar dan berpikir,” menjadi kalimat yang terus berulang (QS. Al-Mulk: 10). Namun penyesalan itu datang terlambat.


Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang cerdas adalah mereka yang beramal untuk kehidupan setelah mati. Penyesalan hanya berguna sebelum kematian, bukan setelah keputusan ditetapkan.


Peringatan bagi yang Masih Hidup

Gambaran ini bukan sekadar kisah akhirat, melainkan peringatan keras bagi manusia yang masih diberi waktu. Para penghuni neraka sibuk dengan jeritan, api, makanan azab, dan penyesalan karena dahulu mereka sibuk dengan dunia dan melupakan akhirat.


“Setiap jiwa akan merasakan kematian, dan pada hari kiamatlah balasan disempurnakan” (QS. Ali ‘Imran: 185).


Selama napas masih berhembus, pintu taubat masih terbuka. Pilihan itu masih ada sebelum kesibukan abadi itu menjadi kenyataan.


***