Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Shalawat Menjadi Penyelamat: Kisah Umat Nabi Muhammad yang Nyaris Terseret ke Neraka

Selasa, 06 Januari 2026 | 20.23 WIB Last Updated 2026-01-06T13:25:28Z
Foto, ilustrasi gambaran Nabi Muhammad SAW yang berbicara pada umatnya.





Dalam tradisi kisah-kisah hikmah Islam, terdapat sebuah cerita yang kerap menggetarkan hati kaum Muslimin. Kisah ini bukan sekadar narasi tentang akhirat, tetapi peringatan tentang betapa dahsyatnya nilai shalawat kepada Nabi Muhammad SAW di hadapan Allah SWT.


Dikisahkan, Nabi Adam AS, bapak seluruh manusia, menyaksikan seorang dari umat Nabi Muhammad SAW diseret menuju neraka oleh para malaikat. Pemandangan itu membuat Nabi Adam gelisah. Ia pun memanggil sosok yang paling ia hormati di antara keturunannya.


“Wahai Muhammad,” seru Nabi Adam.
Rasulullah SAW menjawab penuh hormat,
“Selamat datang wahai bapak seluruh manusia.”

Dengan nada pilu, Nabi Adam berkata,
“Ada seorang dari umatmu yang sedang diseret ke neraka.”

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW tidak berpaling. Beliau bergegas, mengikuti Nabi Adam menuju tempat di mana hamba tersebut tengah digiring. Setibanya di sana, Rasulullah SAW berseru kepada para malaikat,


“Wahai para malaikat, hentikan!”

Namun para malaikat menjawab dengan penuh ketundukan pada hukum Ilahi,

“Wahai Muhammad, apakah engkau tidak membaca firman Allah tentang kami:


Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)


Di saat ketegangan itu memuncak, terdengar seruan dari langit,

“Patuhlah kepada Muhammad!”

Rasulullah SAW kemudian meminta agar amal orang tersebut ditimbang kembali. Para malaikat pun melaksanakannya. Hasilnya tetap sama: amal buruk lebih berat daripada amal baik.


Namun di saat itulah Rasulullah SAW mengambil secarik kertas, lalu meletakkannya di timbangan amal kebaikan. Seketika, keadaan berubah. Timbangan amal baik menjadi lebih berat, sementara amal buruknya tergeser ke bawah.


Orang itu pun terselamatkan.

Dengan mata berkaca-kaca, ia bertanya,
“Demi ayah dan ibuku, siapakah engkau?”
Rasulullah SAW menjawab lembut,

“Akulah Muhammad.”


Orang itu pun menangis, mencium telapak kaki Rasulullah SAW, lalu bertanya,
“Wahai Rasulullah, apakah secarik kertas itu?”


Beliau menjawab,
“Itu adalah shalawatmu kepadaku, yang pernah engkau ucapkan di dunia. Aku menyimpannya untukmu hingga hari ini.”


Kisah ini, meski hadir sebagai hikmah spiritual, menyimpan pesan yang sangat kuat: shalawat bukan sekadar ucapan lisan, tetapi amal yang memiliki bobot luar biasa di hadapan Allah SWT. Dalam kesibukan dunia, sering kali shalawat menjadi amalan ringan yang dilupakan, padahal dampaknya melampaui apa yang bisa dihitung manusia.


Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam berbagai riwayat, shalawat adalah bentuk cinta, pengakuan, dan ikatan ruhani antara umat dan Rasulnya.
Maka di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kisah ini menjadi pengingat: jangan pernah meremehkan amalan kecil yang dilakukan dengan cinta dan keikhlasan.



***
Tim Redaksi.