Queensha.id - Edukasi Islam,
Padang Mahsyar digambarkan sebagai hamparan tanpa batas, tempat seluruh manusia dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan amalnya. Dalam berbagai kisah pengingat akhirat yang beredar di tengah masyarakat, salah satu gambaran yang paling mengguncang adalah sosok manusia dengan lidah menjulur panjang, hitam, dan kering hingga menjadi tontonan mengerikan di hadapan seluruh makhluk.
Gambaran ini bukan sekadar kisah simbolik tanpa makna. Sejumlah ulama terkemuka di Indonesia menegaskan bahwa narasi tersebut sejalan dengan peringatan Al-Qur’an dan hadis tentang bahaya dosa lisan yang kerap dianggap sepele di dunia.
Lidah: Kecil di Dunia, Berat di Akhirat
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Anwar Manshur, dalam berbagai pengajiannya kerap menegaskan bahwa dosa lisan justru termasuk dosa yang paling banyak menyeret manusia ke neraka.
“Banyak orang rajin ibadah, tapi lisannya tidak dijaga. Menggunjing, memfitnah, menghina, merasa benar sendiri. Padahal Rasulullah sudah mengingatkan, kebanyakan penghuni neraka itu karena lisan dan kemaluan,” ujar KH Anwar dalam salah satu tausiyahnya.
Menurutnya, gambaran lidah yang menjulur di Padang Mahsyar adalah tajassudul a‘mal merupakan penampakan hakikat amal di akhirat. Apa yang tampak di dunia sebagai kata-kata ringan, di akhirat berubah menjadi beban kehinaan.
Selaras dengan Al-Qur’an dan Hadis
Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab. Dalam tafsir dan ceramahnya, ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an secara tegas menggambarkan hari kiamat sebagai hari di mana anggota tubuh bersaksi.
“Hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian atas apa yang dahulu mereka kerjakan,” (QS. Yasin: 65).
“Artinya, manusia tidak lagi berkuasa mengendalikan narasi tentang dirinya. Lidah yang dulu bebas berdusta, justru menjadi saksi yang memberatkan,” jelas Quraish Shihab.
Ia menekankan bahwa Islam menempatkan etika berbicara pada posisi yang sangat tinggi. Bahkan, diam dalam situasi tertentu dinilai lebih selamat dibanding berbicara tanpa ilmu dan adab.
Dosa Sosial yang Dampaknya Luas
Sementara itu, Ustaz Abdul Somad (UAS) menyoroti dimensi sosial dari dosa lisan. Menurutnya, lidah bukan hanya melukai individu, tetapi juga merusak tatanan umat.
“Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Satu kalimat bisa menghancurkan rumah tangga, menjatuhkan ulama, memecah persaudaraan. Kalau pedang membunuh satu orang, lidah bisa membunuh satu generasi,” tegas UAS dalam salah satu ceramahnya.
Ia mengingatkan bahwa di era media sosial, dosa lisan tidak lagi berhenti di mulut, tetapi menjalar melalui jari, tulisan, dan unggahan yang jejaknya sulit dihapus.
Peringatan, Bukan Sekadar Kisah
Para ulama sepakat, gambaran mengerikan tentang lidah di Padang Mahsyar bukanlah kisah untuk menakut-nakuti tanpa arah. Ia adalah peringatan keras agar manusia melakukan muhasabah sebelum terlambat.
“Allah Maha Adil. Tidak ada hukuman yang muncul tanpa sebab. Jika lidah menjadi sumber kehinaan di akhirat, itu karena ia digunakan untuk merendahkan orang lain di dunia,” ungkap KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dalam salah satu pengajiannya.
Menurut Gus Baha, keselamatan di akhirat bukan hanya soal banyaknya ibadah ritual, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjaga lisannya dari menyakiti makhluk Allah.
Refleksi untuk Zaman Sekarang
Di tengah iklim sosial yang penuh debat, ujaran kebencian, dan budaya saling menjatuhkan, pesan ini menjadi semakin relevan. Lidah atau hari ini, jari dan akun media sosial bisa menjadi penyelamat, sekaligus penjerumus.
Padang Mahsyar, sebagaimana digambarkan dalam kisah tersebut, adalah tempat di mana tidak ada lagi pembelaan diri. Semua kata menjelma rupa. Semua dusta kehilangan suara.
Dan di sana, manusia hanya bisa berharap bahwa lidah yang dulu ia gunakan, tidak berubah menjadi saksi yang menyeret kehormatannya sendiri.
***
Tim Redaksi.