Notification

×

Iklan

Iklan

Rasulullah SAW Mencium Tangan Tukang Batu: Ulama Indonesia Tegaskan Islam Memuliakan Keringat, Bukan Status

Sabtu, 24 Januari 2026 | 15.02 WIB Last Updated 2026-01-24T08:03:43Z
Foto, ilustrasi cium tangan.

Queensha.id - Edukasi Islam,


Sebuah kisah tentang Rasulullah SAW mencium tangan seorang tukang batu kembali menggema dan menggugah kesadaran publik. Di tengah dunia yang sering menilai manusia dari jabatan, gelar, dan kemewahan, peristiwa sederhana namun sarat makna ini menghadirkan standar kemuliaan yang berbeda dari standar langit, bukan standar pasar.


Dalam riwayat yang banyak dikutip para ulama, Rasulullah SAW mendapati seorang pekerja kasar di Madinah. Tangannya retak, keras, dan penuh luka akibat memahat batu demi nafkah halal. 


Tanpa pidato panjang, Nabi Muhammad SAW justru menggenggam dan mencium tangan itu dengan penuh penghormatan. Para sahabat terdiam. Mereka heran. Hingga Rasulullah SAW bersabda bahwa tangan tersebut dicintai Allah dan Rasul-Nya.


Makna di Balik Gestur Nabi

Ulama tafsir Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ bukan sekadar empati sosial, melainkan pendidikan nilai.


“Rasulullah tidak hanya berbicara dengan kata-kata, tapi dengan tindakan simbolik yang kuat. Mencium tangan pekerja adalah pesan tegas bahwa kemuliaan manusia terletak pada kejujuran usaha dan halal rezekinya,” jelas Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya tentang etika sosial Islam.


Menurutnya, Islam sejak awal datang untuk meruntuhkan hierarki palsu yang dibangun atas kekayaan dan status sosial.


Keringat Halal Lebih Mulia dari Kemewahan Palsu

Pandangan senada disampaikan oleh KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Ia menegaskan bahwa bekerja keras demi nafkah halal adalah bentuk ibadah yang sering diremehkan.


“Orang yang tangannya lecet karena kerja itu sedang menjaga kehormatannya. Dalam logika akhirat, itu luar biasa. Nabi mencium tangan tukang batu karena di situ ada kejujuran, kesabaran, dan tawakal,” tutur Gus Baha.


Ia menambahkan, Islam tidak memuliakan kemiskinan, tetapi memuliakan cara bertahan hidup yang bermartabat.


Peringatan Keras untuk Budaya Instan

Ustaz Abdul Somad (UAS) menyoroti relevansi kisah ini di zaman modern. Menurutnya, kisah tersebut menjadi tamparan bagi budaya instan yang menghalalkan segala cara.


“Sekarang banyak orang malu kerja kasar, tapi tidak malu hidup dari tipu daya. Nabi justru memuliakan tangan yang capek bekerja, bukan tangan yang licin karena manipulasi,” tegas UAS dalam salah satu ceramahnya.


Ia menekankan bahwa Islam sangat keras terhadap rezeki haram, meski tampak mewah di mata manusia.


Islam dan Martabat Pekerja

Dari perspektif fikih sosial, KH Said Aqil Siradj juga kerap menekankan bahwa Islam adalah agama yang mengangkat martabat kaum pekerja. Dalam berbagai kesempatan, ia menyatakan bahwa buruh, petani, dan pekerja kasar adalah tulang punggung umat.


“Tanpa mereka, kehidupan lumpuh. Rasulullah memberi teladan bahwa pekerja bukan kelas bawah dalam Islam. Mereka justru memiliki kehormatan spiritual yang tinggi,” ungkapnya.


Relevansi untuk Kehidupan Hari Ini

Di tengah realitas sosial saat ini di mana banyak orang diukur dari tampilan, penghasilan, dan popularitas hingga kisah Rasulullah SAW mencium tangan tukang batu menjadi koreksi tajam. Islam menempatkan kerja halal, sekecil apa pun, sebagai sumber kemuliaan.


Tangan yang kasar karena tanggung jawab, menurut para ulama, jauh lebih mulia daripada tangan yang halus tetapi hidup dari kebohongan.


Kisah ini bukan romantisasi kemiskinan, melainkan penghormatan terhadap martabat manusia yang menjaga diri dari meminta-minta dan kezaliman.


Dan bagi siapa pun yang hari ini pulang dengan tubuh lelah dan tangan perih karena bekerja jujur, Islam telah memberi jawabannya sejak 14 abad lalu:
tangan seperti itu pernah dicium oleh Rasulullah SAW.


***
Tim Redaksi.