Notification

×

Iklan

Iklan

Lima Tipe Wanita yang Perlu Diwaspadai Sebelum Menikah: Ulama Ingatkan Soal Kematangan Mental dan Akhlak

Jumat, 30 Januari 2026 | 17.53 WIB Last Updated 2026-01-30T10:55:25Z
Foto, ilustrasi seorang perempuan. (Hello Sehat)


Queensha.id - Edukasi Sosial,


Menikah kerap dipersepsikan sebagai puncak kebahagiaan hidup. Namun di balik janji sakral itu, banyak rumah tangga runtuh bukan karena kekurangan materi, melainkan karena persoalan karakter dan kematangan mental pasangan.


Di tengah maraknya konten viral bertajuk “5 Sifat Wanita yang Gak Boleh Kamu Nikahin Kalau Gak Mau Stres Seumur Hidup”, sejumlah ulama dan pengamat sosial mengingatkan agar pesan tersebut tidak dimaknai secara dangkal, melainkan sebagai refleksi bersama tentang pentingnya kesiapan mental dan emosional dalam pernikahan.


Bukan Soal Gender, Tapi Soal Karakter

Lima sifat yang sering dianggap sebagai “lampu merah” dalam pernikahan antara lain: 

1. Merasa paling benar, 

2. Gemar membandingkan pasangan, 

3. Emosi yang meledak-ledak, 

4. Tidak menghargai usaha pasangan, 



Ulama kharismatik Indonesia, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), menegaskan bahwa masalah utama dalam rumah tangga bukan siapa yang lebih dominan, melainkan siapa yang lebih dewasa.


“Pernikahan itu sekolah akhlak. Kalau sejak awal tidak mau mengakui salah, tidak mau belajar menahan emosi, maka pernikahan justru menjadi ladang dosa, bukan ladang pahala,” ujarnya dalam salah satu tausiyah tentang keluarga.


Menurut Aa Gym, Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan rumah tangga yang dipenuhi adu ego. Sikap merasa paling benar dan selalu menjadi korban justru bertentangan dengan nilai tawadhu dan muhasabah dalam Islam.


Senada dengan itu, Prof. Dr. Quraish Shihab menekankan bahwa kriteria utama pasangan hidup bukan sekadar rupa atau status, melainkan akhlak dan kesehatan jiwa.


“Cantik dan tampan itu relatif dan sementara. Tetapi akhlak buruk dan emosi tak terkendali akan menjadi luka permanen dalam rumah tangga,” tulisnya dalam berbagai kajian tafsir keluarga.


Fenomena Sosial yang Makin Nyata

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, melihat fenomena ini sebagai cermin kegelisahan generasi muda terhadap realitas pernikahan hari ini.


“Banyak laki-laki maupun perempuan sekarang trauma menikah, bukan karena takut miskin, tapi takut hidup dengan pasangan yang tidak sehat secara emosional,” kata Purnomo kepada wartawan.


Ia menilai, sifat-sifat seperti gemar membandingkan pasangan dengan orang lain dan tidak menghargai usaha adalah produk dari budaya media sosial yang serba pamer dan kompetitif.


“Standar kebahagiaan diambil dari layar ponsel, bukan dari proses nyata. Akhirnya pasangan sendiri selalu dianggap kurang,” tambahnya.


Menurut Purnomo, narasi soal “lima sifat yang harus dihindari” seharusnya tidak dipakai untuk menyudutkan perempuan, melainkan sebagai bahan introspeksi bersama baik bagi calon istri maupun calon suami.


Pernikahan Butuh Kedewasaan, Bukan Kesempurnaan

Para ahli sepakat, tidak ada manusia yang sempurna untuk dinikahi. Namun, ketidaksempurnaan yang disertai kesadaran diri, empati, dan kemauan memperbaiki diri jauh lebih layak diperjuangkan dibandingkan kesempurnaan semu yang dibalut ego dan emosi.


Pernikahan bukan soal mencari pasangan yang tak pernah salah, melainkan pasangan yang mau mengakui salah, belajar bersama, dan tumbuh dalam saling menghargai.


Menikah bukan mencari yang paling cantik atau paling mapan, tetapi yang paling dewasa secara mental, stabil secara emosi, dan siap berjalan bersama dalam suka maupun luka.


***
Tim Redaksi.