Notification

×

Iklan

Iklan

Menolong hingga Menikahi: Kisah Poligami di Ungaran dan Pilihan yang Tak Pernah Mudah

Jumat, 30 Januari 2026 | 18.39 WIB Last Updated 2026-01-30T11:41:09Z
Queensha.id - Kisah Kehidupan,


Keputusan menikah lagi hampir selalu menjadi perkara rumit, terlebih ketika berawal dari kisah pertolongan. Inilah jalan hidup yang kini dijalani Doni Rimawan (40), seorang kepala rumah tangga asal Ungaran, Jawa Tengah, yang memilih menikahi seorang perempuan korban dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).


Perempuan itu, sebut saja Diana Febriana (30), juga warga Ungaran. Ia disebut mengalami konflik rumah tangga berat dengan suaminya terdahulu. Dugaan KDRT yang dialaminya bahkan disebut nyaris berujung fatal.


“Kekerasannya sudah sangat parah. Hampir dibunuh,” ungkap Doni.


Situasi tersebut membuat rumah tangga Diana berantakan dan akhirnya berujung pada perceraian. Doni menegaskan, perceraian itu terjadi bukan karena dirinya.


“Perceraian itu bukan karena saya. Saya datang setelah masalahnya sudah ada,” katanya.


Izin yang Datang dengan Luka

Langkah Doni untuk menikahi Diana tidak dilakukan secara diam-diam. Ia mengaku meminta izin terlebih dahulu kepada istri pertamanya, Maya Gundono (28), yang juga warga Ungaran.


Proses perizinan itu tidak singkat. Berminggu-minggu dialog dan pergolakan batin harus dilalui sebelum akhirnya Maya memberi persetujuan dan meski dengan rasa sakit yang tak dipungkiri.


“Awalnya tidak disetujui. Ya jelas sakit,” ujar Doni.


Namun Maya akhirnya menyetujui dengan syarat tegas: hak dan kebutuhan rumah tangga pertamanya tetap dipenuhi seperti semula.


“Yang penting kebutuhan rumah saya penuhi seperti semula. Saya menikahi Diana karena sesuatu hal,” ucap Doni.


Ia menyadari, keputusan itu membawa konsekuensi besar. Dengan dua keluarga dan anak-anak dari masing-masing rumah tangga, beban ekonomi otomatis bertambah.


“Jadi saya harus menambah pendapatan untuk dua keluarga, yang masing-masing memiliki anak-anak,” imbuhnya.


Kesepakatan Dua Istri: Tak Saling Campur

Dalam rumah tangga poligaminya, Doni menyebut ada kesepakatan penting yang dijaga hingga kini. Kedua istrinya memilih untuk tidak saling mengenal dan tidak ikut campur urusan satu sama lain.


“Mereka tidak ingin saling kenal dan tidak ikut campur. Itu kesepakatan bersama,” kata Doni.


Menurutnya, kesepakatan tersebut diambil untuk menghindari konflik batin yang lebih besar dan menjaga stabilitas masing-masing rumah tangga.


Rencana Kemandirian Ekonomi

Doni juga menegaskan bahwa pernikahannya dengan Diana tidak berhenti pada status semata. Ia berencana mendorong kemandirian ekonomi istri keduanya.


“Insyaallah, saya akan modalin Diana untuk usaha rumah makan kecil-kecilan,” ujarnya.


Ia berharap langkah itu dapat membantu Diana bangkit dari trauma masa lalu dan tidak sepenuhnya bergantung secara ekonomi.


Analogi ‘Kunci dan Gembok’ yang Memantik Tafsir

Dalam menjelaskan pandangannya, Doni menggunakan analogi yang menuai beragam respons publik.


“Saya ibaratnya kunci. Saya bisa membuka gembok yang ini dengan kunci saya. Kalau gembok ini bisa dibuka dengan kunci yang lain berarti saya ganti gembok. Tapi saya bisa buka gembok yang lain dengan kunci saya. Jadi Alhamdulillah, kunci saya bisa digunakan untuk yang lain,” ujarnya.


Pernyataan ini memunculkan perdebatan: apakah poligami dipandang sebagai bentuk tanggung jawab sosial, atau justru berisiko mereduksi perasaan manusia menjadi sekadar logika kepemilikan.


Pandangan Ulama: Sah, Tapi Bukan Jalan Ringan

Ulama terkemuka Indonesia Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa poligami dalam Islam bukan perintah, melainkan keringanan dengan syarat sangat berat.


“Keadilan dalam poligami bukan hanya soal nafkah, tapi juga rasa, perhatian, dan kemanusiaan. Dan Al-Qur’an sendiri mengingatkan bahwa keadilan batin itu hampir mustahil,” tulis Quraish Shihab dalam kajian-kajian keluarga.


Sementara itu, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) mengingatkan bahwa niat menolong tidak otomatis membenarkan semua konsekuensi.


“Menolong orang itu mulia. Tapi jangan sampai niat baik melahirkan luka baru. Dalam poligami, yang sering paling terluka justru yang paling sabar,” ujarnya.


Menurut Aa Gym, jika poligami dipilih, maka tanggung jawab moral dan spiritual suami justru berlipat ganda.


Di Antara Niat, Luka, dan Tanggung Jawab

Kisah Doni, Diana, dan Maya—warga Ungaran, Jawa Tengah yang menunjukkan bahwa persoalan rumah tangga jarang sesederhana benar atau salah. Ada niat menolong, ada luka yang dipendam, dan ada tanggung jawab yang harus dipikul seumur hidup.


Poligami mungkin sah secara agama dan hukum dengan syarat tertentu, namun para ulama sepakat: ia bukan jalan mudah, bukan pula solusi instan.


Waktu dan konsistensi keadilanlah yang kelak menjadi penentu, apakah pilihan ini benar-benar menjadi jalan kebaikan—atau justru ujian terberat bagi semua pihak yang terlibat.


***
Tim Redaksi.