Notification

×

Iklan

Iklan

Mahakarya yang Runtuh Setelah 29 Tahun: Ketika Rumah Tangga Tak Seperkokoh Bangunan Ikonik Ridwan Kamil

Minggu, 11 Januari 2026 | 10.53 WIB Last Updated 2026-01-11T03:54:59Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook Andrian Saputra


Queensha.id - Opini Publik,


Dunia arsitektur mengenal Ridwan Kamil sebagai maestro sketsa yang piawai menerjemahkan keindahan menjadi ruang yang bermakna. 


Lewat firma Urbane, ia melahirkan bangunan-bangunan ikonik yang tak hanya berdiri, tetapi juga “berbicara” pada jiwa dari Museum Tsunami Aceh yang menggugah emosi hingga Masjid 99 Kubah Asmaul Husna yang megah di pesisir Makassar.



Namun pada 7 Januari 2026, publik Indonesia dihadapkan pada kenyataan pahit yaitu membangun gedung tahan gempa ternyata jauh lebih mudah dibanding merawat rumah tangga agar tetap tahan badai.


Mengutip karya tulis akun Facebook Andrian Saputra, runtuhnya mahakarya selama 29 tahun itu ditandai dengan resmi berakhirnya pernikahan Ridwan Kamil dan Atalia Praratya merupakan pasangan yang selama ini kerap dijadikan standar emas relationship goals nasional


Lewat palu sidang Pengadilan Agama Bandung melalui jalur e-court, kemitraan hidup yang dibangun sejak 1996 itu dinyatakan selesai.
Prosesnya berlangsung cepat dan taktis, layaknya proyek infrastruktur yang dikejar tenggat. 


Gugatan terdaftar sejak 9 Desember 2025, dan hanya dalam waktu sekitar satu bulan, perkara tersebut mencapai putusan. Mediasi telah ditempuh, namun “kesepakatan untuk tidak sepakat” menjadi satu-satunya desain akhir yang dapat diterima kedua belah pihak.


Melalui kuasa hukum Atalia Praratya, Debi Agusfriansa, ditegaskan bahwa perceraian ini murni urusan internal keluarga, bukan perkara pembagian aset atau strategi pengamanan harta sebagaimana ramai dispekulasikan warganet. 


Ia bahkan melontarkan sindiran halus kepada para “peramal dadakan” yang bermunculan di ruang publik, seraya menegaskan bahwa ini bukan bahan ramalan, melainkan persoalan hati.


Ridwan Kamil sendiri tampil dengan pernyataan yang tenang namun terasa berat. Ia mengakui bahwa dalam 29 tahun perjalanan rumah tangga, tentu terdapat banyak “salah desain” dalam komunikasi.


“Ini adalah urusan pribadi yang tidak mudah, namun harus kami hadapi dengan kedewasaan,” ujar Ridwan Kamil dari berbagai sumber.


Bagi pria yang akrab disapa Kang Emil, perpisahan ini mungkin menjadi satu-satunya “proyek” yang tak pernah ingin ia masukkan ke dalam portofolio hidupnya.


Ia menghormati keputusan Atalia Praratya yang kerap ia panggil “Si Cinta”—untuk mencari ketenangan hidupnya sendiri. Sebuah kesadaran pahit bahwa tak ada plugin atau perangkat lunak secanggih apa pun yang mampu memperbaiki error komunikasi rumah tangga secara instan.
Guncangan justru terasa paling keras di jagat maya. 


Selama ini, citra Ridwan Kamil dibangun sebagai figur suami suportif, ayah hangat, dan kepala keluarga yang ideal. Ketika pengakuan khilaf dan kabar perceraian itu terungkap, runtuhlah ekspektasi jutaan orang yaitu terutama mereka yang selama ini menaruh harapan pada citra keluarga sempurna.


Kolom komentar media sosial berubah menjadi ruang “penebusan kolektif”.
“Mohon maap dulu doanya pengen punya suami kaya Pak RK… Ya Allah saya ralat,” tulis seorang warganet.


Yang lain menyahut getir, “Ternyata suhu. Gimana cara cancel doa ya? Dulu doa minta pasangan spek RK.”


Ada pula yang menimpali dengan nada horor-realistik, “Sudah terlanjur dicatat malaikat.”


Kekecewaan ini lahir dari jurang antara citra publik dan realitas domestik. Publik lupa bahwa seindah apa pun fasad sebuah rumah, hanya penghuninya yang benar-benar tahu di mana letak kebocoran atapnya.


Publik mungkin akan merindukan interaksi ringan dan candaan khas Ridwan Kamil di media sosial yakni balasan singkat yang dulu menjadi hiburan nasional. Kini, sorotan justru tertuju pada sisi rapuh seorang figur publik yang selama ini tampak kokoh.


Meski “kontrak” pernikahan telah berakhir, komitmen terhadap anak-anak tetap menjadi fondasi yang tak akan dibongkar.


Keduanya sepakat menjaga hubungan baik demi peran sebagai orang tua yaitu membuktikan bahwa meski strukturnya berubah, fungsinya harus tetap berdiri.
Barangkali, bagi Ridwan Kamil, fase berikutnya adalah menggambar ulang sketsa kehidupan. Dengan ruang yang lebih personal, cahaya yang tak terlalu menyilaukan, dan kearifan yang lahir dari pahitnya sebuah kegagalan.

***
Dikutip dan diadaptasi dari tulisan akun Facebook Andrian Saputra