Notification

×

Iklan

Iklan

Maya Sabrina Jongkok Pegang Sapu Lidi Terbalik Tolak Hujan, Kepercayaan Lama Kembali Muncul

Kamis, 22 Januari 2026 | 19.12 WIB Last Updated 2026-01-22T12:14:21Z
Foto, tangkap layar dari unggahan akun Facebook Suara Jepara, penyanyi dangdut Maya Sabrina jongkok pegang sapu lidi untuk tolak hujan.


Queensha.id - Jepara,


Media sosial belakangan diramaikan oleh sebuah video yang menampilkan penyanyi orkes asal Jepara, Maya Sabrina, tengah mempraktikkan ritual tradisional yang diyakini sebagian masyarakat mampu menangkal atau “memindahkan” hujan. Dalam video tersebut, Maya tampak mendirikan sapu lidi terbalik yang ujungnya ditusuki bawang merah dan cabai, di sela-sela aktivitas manggung.

"Ritual menolak hujan, Iki kurang brambange, lomboke, trasi, ben rak udan. Mitos opo fakta..," ucapnya dalam unggahan video tersebut, Kamis (22/1/2026).


Aksi unik ini sontak memantik perbincangan warganet. Ada yang menilainya sebagai hiburan semata, ada pula yang mengaitkannya dengan kepercayaan lama yang masih hidup di tengah masyarakat pedesaan.


Menilik Tradisi Sapu Lidi Terbalik

Ritual sapu lidi terbalik bukanlah hal baru dalam budaya Jawa. Tradisi ini kerap dijumpai saat hajatan, pertunjukan rakyat, atau acara besar yang digelar di ruang terbuka. Unsurnya sederhana yakni sapu lidi dibalik, bawang merah, bawang putih, dan cabai ditusukkan di ujungnya, lalu diletakkan di area yang dianggap strategis.
Bagi sebagian orang, ritual ini bukan sekadar mitos, melainkan simbol ikhtiar batin agar acara berjalan lancar tanpa gangguan cuaca.


Antara Mitos dan Sains

Dari sudut pandang ilmiah, hujan dipengaruhi oleh kelembapan udara, tekanan atmosfer, dan dinamika angin—bukan oleh keberadaan sapu lidi atau bumbu dapur. 


Namun secara sosial-budaya, ritual ini memuat makna lain yang tak bisa diukur dengan alat meteorologi.
Bagi pelaku seni, terutama penyanyi orkes yang bergantung pada cuaca cerah, ritual semacam ini kerap menjadi sumber sugesti positif dan ketenangan mental.


Reaksi Warganet: Percaya Tak Percaya

Unggahan Maya Sabrina menuai beragam respons. Sebagian netizen menganggapnya lucu dan menghibur, sementara lainnya mengaku pernah mempraktikkan hal serupa.


“Percaya nggak percaya, tapi sering kejadian hujannya beneran berhenti pas hajatan,” tulis seorang netizen.


Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah derasnya modernisasi, kepercayaan tradisional masih menemukan ruang, terutama di komunitas akar rumput.


Pandangan Pengamat Sosial Jepara

Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai fenomena ini tidak layak disederhanakan sebagai tahayul semata. Menurutnya, ritual seperti sapu lidi terbalik harus dilihat dalam konteks sosial dan psikologis masyarakat.


“Ini bukan soal hujannya benar-benar pindah atau tidak. Yang penting adalah rasa tenang dan keyakinan kolektif yang tercipta. Dalam dunia seni rakyat, ketenangan batin itu sangat berpengaruh pada performa,” ujar Purnomo, Kamis (22/1/2026).


Ia menambahkan, tradisi semacam ini merupakan bentuk kearifan lokal yang lahir dari keterbatasan teknologi di masa lalu, namun tetap bertahan karena memberi rasa kontrol atas situasi yang tak pasti.


“Masyarakat tradisional punya cara sendiri untuk berdamai dengan alam. Selama tidak melanggar nilai agama atau merugikan orang lain, tradisi ini lebih tepat dipahami sebagai simbol harapan, bukan praktik mistik berbahaya,” tegasnya.


Purnomo juga mengingatkan agar publik tidak serta-merta menghakimi pelaku tradisi, terutama seniman rakyat.


“Yang perlu dijaga adalah keseimbangan: menghormati budaya, tanpa meninggalkan nalar dan akidah. Tradisi boleh hidup, tapi jangan menggantikan ikhtiar rasional dan doa yang benar,” pungkasnya.


Fenomena yang ditampilkan Maya Sabrina akhirnya menjadi cermin yakni di balik panggung hiburan dan sorotan media sosial, masyarakat Indonesia masih menyimpan hubungan emosional yang kuat dengan tradisi leluhur antara percaya, ragu, dan sekadar berharap.


***
Sumber: SJ.
Tim Redaksi