Notification

×

Iklan

Iklan

Neraka Jahannam: Api Keadilan Ilahi yang Mengingatkan Manusia untuk Kembali

Kamis, 22 Januari 2026 | 19.38 WIB Last Updated 2026-01-22T12:39:13Z
Foto, ilustrasi gambaran neraka jahanam.


Queensha.id - Edukasi Islam,


Jahannam bukan sekadar gambaran api yang menyala. Dalam ajaran Islam, ia adalah simbol puncak keadilan Allah ﷻ—tempat di mana kebenaran tidak lagi bisa ditutup oleh alasan, pembelaan diri, maupun kepura-puraan iman.


Al-Qur’an menegaskan bahwa Jahannam tidak diciptakan karena Allah Maha Murka tanpa sebab, melainkan karena Allah Maha Adil. Ia menjadi konsekuensi bagi manusia yang sadar akan kebenaran, namun dengan sengaja menolaknya.
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.”


Api yang Melampaui Nalar Manusia

Rasulullah SAW menggambarkan dahsyatnya Jahannam dengan perbandingan yang mengejutkan yakni api dunia hanyalah satu bagian kecil dari api neraka. Api itu bukan hanya membakar tubuh, tetapi menembus hingga ke hati yang merupakan pusat kesadaran dan penyesalan manusia.


Al-Qur’an bahkan menyebut bahwa kulit penghuni neraka akan terus diganti agar rasa sakit tidak pernah berakhir. Tidak ada adaptasi, tidak ada kebiasaan, dan tidak ada jeda penderitaan.


Tangisan Tanpa Jawaban

Jika di dunia air mata taubat bisa menghapus dosa, maka di Jahannam jeritan tak lagi bernilai doa. Permohonan untuk kembali ke dunia hanya berujung pada penolakan mutlak. Kesempatan telah habis, keputusan telah final.


Penyesalan yang Paling Menyiksa

Menurut banyak ulama, azab terbesar Jahannam bukan hanya api, melainkan kesadaran yang terlambat dari kesadaran dan dari peringatan dahulu benar, bahwa waktu taubat dulu begitu luas, namun disia-siakan.


Pandangan Ulama Terkemuka Indonesia

Cendekiawan Muslim Indonesia, Prof. M. Quraish Shihab, dalam berbagai kajiannya menekankan bahwa ayat-ayat tentang neraka bukan untuk menumbuhkan keputusasaan, melainkan kesadaran moral. Neraka, menurutnya, adalah peringatan keras agar manusia tidak meremehkan dosa dan tidak menunda taubat.


Sementara itu, Buya Yahya kerap mengingatkan bahwa banyak manusia merasa aman dari azab Allah bukan karena tak tahu, tetapi karena terlalu percaya diri dengan amal lahiriah. 


“Yang berbahaya bukan orang yang banyak dosa, tapi orang yang merasa dosanya pasti diampuni tanpa taubat,” ujarnya dalam salah satu pengajian.


Adapun ulama muda KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menyoroti sisi lain yaitu Jahannam adalah bukti bahwa Allah sangat menghargai akal dan pilihan manusia. “Kalau semua diampuni tanpa konsekuensi, maka peringatan para nabi menjadi sia-sia,” ungkapnya dalam kajian tafsir.


Peringatan, Bukan Putus Asa

Para ulama sepakat, selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka. Jahannam tidak diciptakan untuk menakut-nakuti secara kosong, tetapi untuk mengingatkan manusia agar kembali sebelum terlambat.
Rasulullah SAW bersabda:


“Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi)


Jahannam adalah realitas yang tidak bisa dinegosiasikan. Namun sebelum sampai ke sana, Allah SWT masih memberi waktu, rasa takut, air mata, dan kesempatan sujud.


Selama hati masih bisa gemetar oleh ayat-Nya, itu tanda kasih sayang-Nya belum dicabut.


Karena setelah tirai kematian tertutup, yang tersisa bukan lagi harapan tapi melainkan keadilan Allah yang sempurna.
Na‘ūdzu billāhi min an-nār. Semoga kita semua dilindungi dari Jahannam.

***
Tim Redaksi.