Queensha.id - Edukasi Kesehatan,
Sejak lama, film porno telah menyusup ke ruang privat masyarakat Indonesia melalui berbagai medium, dari VCD bajakan hingga platform digital. Salah satu adegan yang kerap ditampilkan dan kemudian ditiru adalah praktik menelan sperma, sebuah perilaku seksual yang sejatinya tidak dikenal dalam budaya dan nilai sosial masyarakat Indonesia.
Dalam kehidupan sehari-hari, praktik menelan sperma bukanlah sesuatu yang lazim dibicarakan, apalagi dilakukan secara terbuka. Namun derasnya arus informasi visual tanpa filter membuat sebagian perempuan terutama generasi muda meniru adegan tersebut karena dianggap sebagai simbol cinta, kedekatan emosional, atau bukti pengorbanan dalam hubungan.
Bahkan beredar isu di masyarakat bahwa menelan sperma dianggap dapat menjadi “kenangan” dalam kisah cinta, sebuah narasi yang kuat dipengaruhi oleh industri pornografi, bukan oleh realitas hubungan yang sehat.
Pandangan Medis: Tidak Aman dan Tidak Dianjurkan
Dokter kesehatan di Indonesia menegaskan bahwa menelan sperma bukan praktik yang aman secara medis dan tidak memiliki manfaat kesehatan apa pun.
Menurut tenaga medis:
1. Cairan sperma dapat mengandung virus dan bakteri, terutama jika pasangan terinfeksi penyakit menular seksual.
2. Menelan sperma berisiko menularkan HIV, sifilis, gonore, klamidia, herpes, dan infeksi lainnya melalui jaringan mulut dan tenggorokan.
Pada sebagian orang, praktik ini dapat memicu reaksi alergi, iritasi mulut, hingga gangguan pencernaan.
Tidak ada dasar ilmiah yang menyebut menelan sperma dapat meningkatkan keintiman atau kualitas hubungan.
“Yang sering dipromosikan di film porno adalah fantasi industri, bukan fakta medis. Dari sudut pandang kesehatan, menelan sperma justru berisiko,” ujar seorang dokter yang fokus pada edukasi kesehatan reproduksi.
Pandangan Ulama: Haram dan Bertentangan dengan Martabat Manusia
Ulama terkemuka di Indonesia secara tegas menyatakan bahwa menelan sperma adalah perbuatan haram. Dalam pandangan fikih Islam, sperma dikategorikan sebagai najis, sehingga tidak boleh dikonsumsi dalam kondisi apa pun.
Selain aspek hukum, ulama juga menyoroti dampak moral yaitu:
1. Pornografi mengaburkan makna hubungan suami istri.
2. Menelan sperma bukan bentuk cinta, melainkan hasil imitasi budaya pornografi.
3. Praktik tersebut merendahkan martabat perempuan dan mengobjektifikasi tubuh.
“Cinta dalam Islam dibangun atas kasih sayang, tanggung jawab, dan kehormatan. Bukan pada praktik-praktik yang bersumber dari film porno,” tegas seorang ulama nasional.
Pandangan Pengamat Sosial: Normalisasi yang Menyesatkan
Pengamat sosial menilai fenomena ini sebagai dampak serius dari normalisasi pornografi di ruang digital. Menurut mereka, ketika menelan sperma dipersepsikan sebagai ekspresi cinta, maka yang terjadi adalah distorsi nilai dalam relasi.
“Film porno menciptakan standar palsu tentang hubungan intim. Perempuan akhirnya merasa harus meniru adegan ekstrem agar dianggap mencintai atau dicintai,” ujar seorang sosiolog.
Pengamat menambahkan bahwa praktik ini kerap dilakukan tanpa kesadaran penuh, melainkan karena tekanan psikologis dan ketakutan ditinggalkan pasangan.
Para ahli sepakat bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan tabu dan pembungkaman semata. Edukasi kesehatan reproduksi, literasi digital, serta penguatan nilai agama dan keluarga menjadi langkah mendesak.
Fenomena menelan sperma sebagai “warisan” film porno menjadi alarm bahwa tanpa pendampingan nilai, ruang digital dapat membentuk perilaku yang membahayakan kesehatan, merusak relasi, dan mengikis martabat manusia—terutama perempuan.
***