Di balik ramainya kawasan pesisir Jepara, tersimpan kisah pilu yang nyaris luput dari perhatian publik. Yenis Ayu Ningsih (23), perempuan penyandang disabilitas yang tidak mampu berjalan sejak lahir, kini hidup dalam kondisi memprihatinkan di RT 20 RW 06 Desa Bandengan, Kecamatan Jepara Kota.
Yenis adalah putri dari pasangan Ahmad Zaenuri dan Istiqomah (almarhum). Sejak kecil, ia harus menjalani hidup dengan keterbatasan fisik yang membuatnya sepenuhnya bergantung pada orang lain. Namun ironisnya, di usia dewasa, Yenis justru berada dalam situasi tanpa perawatan yang memadai.
Ayahnya, Ahmad Zaenuri, bekerja sebagai nelayan. Pekerjaan tersebut menuntut waktu panjang dan tenaga ekstra, membuatnya sulit untuk terus berada di rumah mendampingi sang anak.
“Harusnya anak saya bagaimana? Saya ingin ditaruh di panti supaya ada yang memperhatikan,” ujar Zaenuri dengan suara lirih, Rabu (28/1/2026).
Tinggal Bersama Nenek yang Juga Sakit
Saat ini, Yenis tidak tinggal bersama ayahnya, melainkan bersama neneknya yang merupakan ibu dari mendiang istrinya. Namun kondisi sang nenek pun jauh dari kata ideal. Selain faktor usia, nenek Yenis diketahui menderita sakit pengapuran dan kerap sakit-sakitan.
“Ya, anak saya bersama neneknya, yaitu ibu dari istri saya yang sudah meninggal. Neneknya juga sakit-sakitan dan sakit pengapuran. Saya nggak sanggup merawatnya,” tutur Zaenuri.
Minimnya perawatan harian membuat kondisi Yenis kian mengkhawatirkan. Tidak ada pendamping tetap yang bisa memastikan kebutuhan dasar, kesehatan, maupun kebersihan dirinya terpenuhi secara layak.
Ketika ditanya mengapa Yenis tidak ikut tinggal bersamanya, Zaenuri hanya bisa menjawab dengan nada pasrah.
“Saya nelayan, repot. Tidak ada yang jaga,” katanya singkat.
Potret Buram Disabilitas dan Kemiskinan
Kondisi yang dialami Yenis mencerminkan potret buram persoalan disabilitas dan kemiskinan struktural di wilayah pesisir. Keterbatasan ekonomi, absennya sistem pendampingan keluarga, serta minimnya akses terhadap layanan sosial membuat penyandang disabilitas rentan terpinggirkan.
Keinginan Zaenuri untuk menitipkan putrinya ke panti bukanlah bentuk pelepasan tanggung jawab, melainkan jeritan dari keterbatasan yang menyesakkan. Ia berharap ada lembaga sosial, pemerintah daerah, atau pihak dermawan yang bisa memberi perhatian dan perawatan layak bagi Yenis.
Kisah Yenis Ayu Ningsih menjadi pengingat bahwa keberpihakan terhadap penyandang disabilitas tidak cukup berhenti pada regulasi dan wacana. Dibutuhkan kehadiran nyata negara, pemerintah daerah, serta kepedulian sosial agar warga seperti Yenis tidak terus hidup dalam sunyi menunggu bantuan yang entah kapan datangnya.
***
Tim Redaksi.